Riaupos.co
19/02/2020
 

Usir Pemain Toxic
Jumat, 14 Februari 2020 - 10:45 WIB
 

(RIAUPOS.CO) -- Musim ini masih tersisa sekitar tiga bulan lagi. Tetapi, bagi Chelsea, persiapan untuk musim depan sudah mereka cicil sejak sekarang. Salah satu buktinya ada pada wide attacker Ajax Amsterdam Hakim Ziyech. Pemain asal Maroko itu dilaporkan De Telegraaf sudah sepakat secara personal berkostum The Blues musim depan dengan nilai transfer GBP 37 juta (Rp657,5 miliar).

Ziyech bakal jadi pemain pertama Chelsea setelah terbebas dari embargo transfer yang mereka jalani sejak tahun lalu. Media-media Inggris menyebut bahwa tactician Frank Lampard memiliki budget GBP 150 juta (Rp2,66 triliun) untuk berbelanja pemain baru musim depan.

Ada empat sektor yang memerlukan tambahan pemain bagi Chelsea saat ini. Dengan Ziyech, maka tersisa tiga posisi lagi. Yaitu, bek tengah, bek kiri, dan striker.

"Sebenarnya, aku mengharapkan itu (Ziyech ke Chelsea, red) satu atau dua tahun lalu. Tetapi, yang terjadi adalah ‘Wow dia bertahan lagi (di Ajax, red) dan kami senang setidaknya bisa memilikinya hingga musim ini berakhir," ucap trainer Ajax Erik ten Hag kepada Fox Sports.

Tetapi, sejatinya aktivitas membeli pemain bukan prioritas bagi klub yang berbasis di London itu. Justru sebaliknya. Ya, Chelsea harus menjual beberapa pemain yang sebenarnya tak diinginkan Lampard.

Beberapa nama seperti kiper Kepa Arrizabalaga serta dua kiri Marcos Alonso dan Emerson Palmieri disebut sudah masuk daftar jual Super Frenkie--julukan Lampard. Penyebab utamanya, ketiga pemain itu flop musim ini.

Arrizabalaga contohnya. Kiper 25 tahun itu sebenarnya pilihan utama Chelsea. Tetapi, Lampard mulai muak dengan performanya dan bahkan kali pertama dicadangkan di Premier League pada matchweek ke-25 kontra Leicester City (1/2). The Sun melansir bahwa Arrizabalaga marah dengan keputusan Lampard. Padahal, itu buntut dari performa buruknya yang kebobolan 7 gol dalam 6 matchweek sebelumnya. Attitude buruk juga jadi faktor lainnya yang membuat Kepa layak dilabeli pemain toxic. Insiden menolak diganti pada final Piala Liga musim lalu jadi indikatornya meski saat itu Chelsea masih dilatih Maurizio Sarri.(io/tom/eca)




Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video | Kampar | Rokan Hulu | Rokan Hilir | Siak | Bengkalis | Dumai | Kepulauan Meranti | Indragiri Hilir | Indragiri Hulu | Pelalawan | Kuantan Singingi | Kick Out Hoax |