Dimulai dengan Gajah, Diakhiri dengan Saling Simbah
BERSAMA GAJAH: Camat Ukui Amri Juharza S Kom (kiri depan) bersama Ustaz Suardi SAg (tengah depan) dan Ketua Komisi II DPRD Pelalawan Habibi Hapri SH menyiram tokoh masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga dalam mandi balimau potang mogang bersama gajah di Sungai Nilo, Sabtu (12/5/2018). (CF1/MIRSHAL/RIAU POS)

MANDI BALIMAU POTANG MOGANG BERSAMA GAJAH DI TESSO NILO
Dimulai dengan Gajah, Diakhiri dengan Saling Simbah
Rabu, 16 Mei 2018 - 12:10 WIB > Dibaca 1122 kali
 
Pihak TNTN sendiri bersama Riau Pos telah menghadirkan belasan fotografer Riau dalam kegiatan ini yang dikemas dalam “Fotoku On The Spot Visit Forest” selama dua hari. Kegiatan ini pula sengaja disempenakan dengan kegiatan balimau yang merupakan hari pertama. Momen penting ini pun tak lepas dari jepretan kamera para fotografer andal.

Kepala Desa Lubuk Kembang Bunga Ir Rusi Chairus Slamet di sela-sela kesibukan acara mengatakan mandi balimau adalah tradisi yang rutin dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadan. Yakni bersuci diri secara simbolis, sehingga memasuki bulan Ramadan memiliki pikiran yang jernih dan diri yang siap menjalankan puasa.

“Mandi balimau tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, karena tahun ini gajah juga ikut mandi balimau. Jika dua tahun lalu, gajah juga ikut berpartisipasi tetapi hanya sebatas penyambutan dan mengalungkan bunga saja,’’ kata Rusi.

Rusi juga menerangkan prosesi mandi balimau itu diikuti oleh camat, kepala Balai TNTN serta tokoh masyarakat dan tokoh adat. Dengan mandi balimau, para pemimpin masyarakat ini diharapkan mampu  menjadi pemimpin yang bersih hati dan pikiran sehingga bisa memimpin dengan baik.

Tepat pukul 16.00 WIB atau setelah Asar, tiga gajah besar tiba di lokasi acara. Ketiganya dikenakan pakaian. Yakni kain yang menjuntai hingga ke kaki gajah atau menutupi hampir seluruh badan gajah. Prosesi mandi balimau diawali dengan pengalungan bunga kepada tokoh masyarakat yang akan dimandikan dengan air suci oleh Ustaz Suardi SAg yang sore itu menyampaikan ceramah agama.

“Kalau saya ditanya apa hukumnya mandi balimau, saya jawab, tergantung apa tujuannya. Kalau tujuannya menyucikan diri dan sebagai simbol, sah-sah saja. Inilah kekayaan adat dan tradisi kita. Harus dijaga. Dengan catatan, tetap dengan niat yang baik,’’ kata ustaz saat ceramah ketika itu.

Di tepi sungai pula, tempat khusus pemandian serupa pelantar dari papan yang disusun rapi berukuran sekitar 6x6 meter telah disiapkan. Tiga drum besar berisi air bersih bercampur limau dan racikan daun pandan pula sudah diletakkan di atasnya dan siap untuk disimbahkan. Sebagai pertanda penghormatan kepada pemimpin dan tokoh masyarakat yang akan dimandikan, tempat pemandian ini dihias dengan daun kelapa yang menjuntai seperti tirai.



Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis |