Polda Telusuri Donatur 2 Terduga Teroris di Pekanbaru
PEGANG LILIN: Sejumlah petugas kepolisian memegang lilin sebagai simbol bentuk duka cita terhadap gugurnya enam anggota Polri dalam aksi terorisme, Pekanbaru, Selasa (15/5/2018) malam. (MHD AKHWAN/RIAU POS)

Polda Telusuri Donatur 2 Terduga Teroris di Pekanbaru
Rabu, 16 Mei 2018 - 12:07 WIB > Dibaca 1708 kali
 
Rencana menyerang Mako Brimob Polda Sulsel, sambung Setyo, direncanakan oleh kedua terduga teroris itu ketika kondisi dan situasi Mako Brimob di Depok masih panas. Rencana itu bahkan disusun lebih dari dua terduga teroris.

”Ingin saya katakan bahwa sebetulnya tidak hanya dua (terduga teroris),” imbuhnya.

Berdasar data yang sudah dikantongi oleh Setyo, jumlah total terduga teroris yang turut menyusun rencana bersama AR dan AA ada delapan orang.  ”Tapi, yang tertangkap baru dua,” kata dia. ”Yang enam masih melarikan diri,” tambah dia.

Untuk itu, petugas yang bekerja di lapangan masih memburu enam terduga teroris lainnya.

Seluruhnya, sambung Setyo, merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD). ”JAD juga, JAD Sumsel,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menuturkan teroris yang melibatkan keluarganya dalam aksi bom bunuh diri paling sulit dideteksi. Lantaran semua yang dilakukan oleh para teroris itu tidak wajar dan tidak masuk akal. Misalnya dalam pelibatan anak-anak para pelaku dalam aksi kejam itu. Apalagi dengan membonceng anak dengan sepeda motor sehingga petugas pun tak menduga bakal jadi korban.

”Saya sampai sangat bersedih. Saya bayangkan, apa yang dia bilang kepada anaknya sebelum pergi, mesti dia bilang ”Nak, ya kita ketemu di surga lah” bayangkan itu?” ujar JK dengan lirih di Kantor Wakil Presiden, kemarin (15/5).

Dia menuturkan, paham radikalisme itu berasal dari negara-negara gagal. Misalnya Al Qaeda yang berasal dari Afghanistan yang dilanda perang. Begitu pula dengan ISIS yang datang dari Syiria dan Iraq. Para simpatisan dari Indonesia itu pun pulang dan membawa paham itu.  ”Pulang membawa virus, membawa ilmunya, membawa kemauannya yang ditentukan seperti itu,” imbuh dia.

JK pun cenderung sepakat untuk melibatkan TNI dalam penanganan terorisme. Lantaran militer seperti TNI AD punya personel hingga di level kelurahan. Mereka bisa bekerja sama dengan polisi.

”Polisi punya Kapolsek. TNI punya Koramil. Jadi itu kalau dilibatkan semua kan bagus,” tambah dia.

Nah, pengeboman di Surabaya dan kerusuhan di Depok itu akan menjadi pendorong percepatan revisi Undang-undang tentang terorisme. diharapkan pada Mei atau Juni sudah bisa selesai. Meskipun, menurut JK, tidak perlu terlalu terpaku dengan rumusan-rumusan definisi terorisme.(dal/jun/syn/jpg)



Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis |