Komunisme dan Marxisme di Tanah Minangkabau
Sekolah modern Sumatera Thawalib di Padang Panjang, melahirkan banyak intelektual Minangkabau. (DOK. THAWALIB)

SEJARAH KOMUNIS DI INDONESIA
Komunisme dan Marxisme di Tanah Minangkabau
Minggu, 20 Desember 2015 - 11:20 WIB > Dibaca 5354 kali
 
Selama ini, tanah Minangkabau identik dengan Islam. Di tanah ini, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, sudah mendarah daging. Namun, di  Minangkabau, banyak orang juga mempelajari Marxisme sejak awal Abad 20. Langsung dari kitab aslinya. Bukan terjemahan.
--------------------------------------------

Sejak  bulan Mei 1925, Sutan Said Ali sudah  berangkat dari Ranah Minang ke Tanah Jawa. Dia utusan urang awak untuk menghadiri konferensi besar Partai Komunis Indonesia (PKI) di Candi Prambanan, 25 Desember 1925.  Konferensi Prambanan memutuskan,  kolonialisme Belanda harus dihentikan. Penindasan harus dilawan.

"Dalam rapat mereka di Prambanan pada bulan Desember 1925, Komite Sentral Partai Komunis menyerukan pemberontakan melawan Belanda," tulis Audrey Kahin dalam buku Dari Pemberontakan ke Integrasi, melansir Harry J. Benda & Ruth T. McVey dalam The Communist Uprisings of 1926-1927 in Indonesia.

Rencananya, merujuk dokumen The Course of the Communist Movement on the West Coast of Sumatra, pemberontakan dimulai di  Sumatera, bulan Juli 1926.

Dalam Konferensi Prambanan, "ketika PKI pertama kali merencanakan pemberontakan, cabang PKI Sumatera Barat termasuk yang paling vokal mendesak agar rencana itu segera dijalankan," tulis Kahin.

Pulang dari Prambanan, kode pemberontakan disampaikan Sutan Said Ali.Langkah yang diambil antara lain membentuk organisasi bawah tanah. Maka lahirlah Sarekat Djin, Sarekat Hantu Sarekat dan Sarekat Itam.

Mestika Zed, guru besar Ilmu Sejarah Universitas Negeri Padang melansir Kolonial Verslag 1927 dalam buku Pemberontakan Komunis Silungkang 1927, menjelaskan pembentukan DO, double orgazation tersebut berdasarkan instruksi CC PKI pada akhir Maret 1926.

Yang cukup terkenal di antara organ bawah tanah tersebut adalah Sarekat Djin pimpinan Si Patai, jagoan Padang Kota yang namanya menduduki klasemen papan atas dalam catatan kriminal polisi kolonial. Menurut Rusli Amran (1922-1996) seorang sejarawan-cum-wartawan, bagi Belanda, Si Patai bukan sembarang bandit. Dia merongrong pemerintahan. Pernah mengamuk pada 1908 saat Pemberontakan Belasting di Minangkabau.





Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |