Agus Akan Mendapatkan Siksaan Hukum Rimba di Penjara
Anton Medan. (TEMPO)

WAWANCARA DENGAN ANTON MEDAN
Agus Akan Mendapatkan Siksaan Hukum Rimba di Penjara
Senin, 12 Oktober 2015 - 15:18 WIB > Dibaca 10985 kali
 
APA yang dilakukan Agus Dermawan (39) memang sangat sadis. Dia membunuh PNF alias Neng (9) dengan sangat dingin dan tanpa rasa perikemanusiaan. Sebelum dibunuh, Neng diperkosa seccara brutal.

Dipastikan, Agus akan mendapatkan hukuman berat dengan ancaman tertinggi hukuman mati. Namun, "hukuman" lain sudah menungunya, yakni "hukum rimba" di tahanan maupun dalam penjara.

Menurut mantan narapidana kelas kakap yang kini telah bertobat dan gencar melakukan siar agama, Ustadz Anton Medan, siksaan yang dialami tahanan dan napi kasus pemerkosa seperti Agus, bakal sangat berat. Apalagi perkosaan diserta pembunuhan dilakukan terhadap seorang anak kecil.

Seperti apa hukum alam siksaan terhadap pemerkosa berlaku di penjara dan mengapa hal tersebut dapat terjadi? berikut petikan lengkap wawancara wartawan JPNN, Ken Girsang, dengan ustadz kelahiran Tebingtinggi, Sumatera Utara, yang memiliki nama lahir Tan Hok Liang itu, kemarin (11/10).

Apa yang bakal dihadapi Agus di penjara nantinya?

Ada sebuah hukum alam yang sudah berlangsung di lembaga pemasyarakatan sejak dulu sampai saat ini. Untuk kasus pemerkosaan, itu di dalam (penjara, red) akan tersiksa. Sejak masih di tahanan kepolisian misalnya, para tahanan lain akan memaksanya memakan (maaf) taik (kotoran manusia, red). Terus digebuki. Siksaan ini juga biasanya berlaku bagi informan dan pembunuh perempuan. Mereka agak aman kalau berkasnya segera dilimpahkan ke pengadilan. Tapi itu pun kalau ditempatkan di sel isolasi khusus.

Kalau masih di tahanan kepolisian kan lebih mudah mengawasi. Tapi kok sudah terima siksaan?

Kalau masih tahanan kepolisian, itu kan dicampur semua. Enggak ada blok khusus. Malah saat berada di sini itu paling tersiksa. Di lapas juga sama kalau enggak ditempatkan di sel isolasi. Nah kalau di sel isolasi, bukan berarti juga aman. Misalnya ketika akan dibawa menjalani persidangan, itu di mobil tahanan juga bakal disiksa sama tahanan lain.

Kenapa para tahanan benci dengan pemerkosa?

Banyak itu narapidana, istrinya "dimainkan" orang, membuat dia dendam sama penjahat kelamin. Ini dari jaman dulu, dari tahun 1971 saya sudah tahu itu ada. Mereka kalau mau selamat (berlindung, red) pada kepala jagoan blok. Tapi ini juga mereka akan dijadikan objek begituan. Dipakai pantatnya, disodomi. Biasanya yang begini anak-anak baru gede. Karena jagoan di blok itu biasanya orang yang hukumannya gede.

Berapa lama ia akan memeroleh siksaan?

Sepanjang dia di dalam. Tapi kalau ditempatkan pada sel isolasi, enggak. Karena bloknya terpisah. Kalau dicampur habis dia. Biasanya yang begini akan terganggu kejiwaannya, 3-4 tahun baru kelihatan. Orangnya agak saraf (gangguan kejiawaan, red). Kadang barangnya diolesi afitson (minyak gosok, red) dan makan taik, ini umumnya. Jadi sangat berat sekali, tanya bekas narapidana, polisi, sipir, pasti jawabannya sama. Menghilangkan (hukum alam siksaan di penjara, red) saya enggak tahu. Yang paling berat itu selingkuh dengan istri orang.





Berita Terkait
Wawancara Lainnya
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |