Oleh
Tensi Panas Jelang Pilkada
11 Januari 2018 - 11.21 WIB > Dibaca 181 kali
 
RIAUPOS.CO - PEMILIHAN kepala daerah (pilkada) serentak di Indonesia meningkatkan tensi politik. Konstelasi politik yang memanas juga terjadi di Riau. Saling klaim dukungan, berebut “perahu” partai, hingga perang kata-kata di media sosial terjadi demikian marak. Tak hanya marak, juga panas. Pilkada kali ini memang terasa berbeda dibanding pilkada-pilkada sebelumnya. Salah satu yang mewarnai pilkada serentak kali ini adalah media sosial. Di era media sosial ini, informasi terjadi begitu deras. Klaim dukungan pun dengan mudah bisa dilakukan di area ini.

Bahkan hingga detik-detik akhir penentuan calon kepala daerah dan batas pendaftaran di Riau, klaim dukungan itu masih terjadi. Pada hari pertama dan kedua, hanya dua pasangan calon yang sudah memastikan untuk maju, yakni pasangan Syamsuar-Edy Natar Nasution (didukung PKS-PAN-Nasdem), serta pasangan Firdaus-Rusli Efendy (didukung Demokrat-PPP). Bahkan petahana Arsyadjuliandi Rachman dan pasangannya Suyatno masih dibayangi gagal berlayar. Penyebabnya, dukungan dari Partai Golkar, tempat Andi Rachman bernaung, dan dia sebagai ketuanya di Riau hingga dua hari jelang deadline, masih belum jelas.

Masih ada tarik-menarik kepentingan dengan bakal calon lainnya HM Harris, yang juga akan maju. Dukungan Partai Golkar ini tentu saja sangat strategis, karena dalam dua pilkada terakhir, kandidat yang diusung Partai Golkar selalu menang. Rusli Zainal dan Annas Maamun adalah Gubri pilihan rakyat yang diusung partai ini. Makanya perebutan perahu Partai Golkar ini terjadi sangat alot. Apalagi di Jakarta, terjadi perubahan besar, dengan bergantinya ketua umum dari Setya Novanto ke Air Langga Hartarto.

Perubahan ini membuat peta dukungan calon kepala daerah juga berubah. Salah satu yang drastis adalah dukungan Partai Golkar di Sumatera Utara yang semula ke petahana Tengku Erry Nuradi berubah ke Letjen TNI Edy Rahmayadi. Tengku Erry pun akhirnya gagal maju karena hanya punya dukungan dari partainya sendiri Nasdem, yang tak cukup untuk maju.

Gagalnya petahana di Sumut tentu saja menjadi sinyal bahaya di Riau. Apalagi, jelang deadline, dukungan Airlangga sebagai Ketum Partai Golkar masih belum jelas. Di media sosial, beredar info soal dukungan yang sudah mengarah ke Harris-Yopi (Hayo). Jika ini terjadi, maka otomatis pasangan Ayo (Andi-Suyatno) akan gagal berlayar karena dukungan dari PDIP yang sudah lebih dahulu mendukung pasangan ini tidak cukup untuk maju.

Di media sosial juga beredar tentang klaim survei tentang Harris yang berada di level tertinggi. Selain bersiap merebut Partai Golkar, Harris juga dikabarkan bersiap berpasangan dengan Lukman Edy dengan perahu Gerindra dan PKB. Bahkan sudah ada istilah Harley (Harris-Lukman Edy). Gerindra dan PKB juga diperebutkan Achmad mantan Bupati Rohul. Achmad-Lukman Edy akan memakai “perahu” ini. Media sosial “memanaskan” situasi ini hingga titik akhir.

Sampai akhirnya, dua pasangan terakhir final. Tapi tetap saja ada kejutan. Andi-Suyatno (Ayo) akhirnya didukung Partai Golkar. Dengan demikian, Harris gagal maju. Dukungan Gerindra-PKB final ke Lukman Edy. Tapi pasangannya nyaris tak terduga, yakni Hardianto. Siapa dia? Nama ini hampir tak pernah mengemuka ke publik. Rupanya, dia adalah Sekretaris Partai Gerindra Riau. Padahal, ada Nurzahedi alias Edy Tanjung yang poster dan balihonya sudah menyebar di mana-mana. Edy Tanjung juga merupakan Ketua Gerindra Riau. Entah mengapa tanda tangan Prabowo justru untuk nama Hardianto. Tapi itulah politik. Semua bisa terjadi.

Ini baru permulaan. Babak berikutnya diperkirakan lebih panas. Bisa unpredictable. Apalagi, sentimen kedaerahan, dukungan puak, suku, hingga agama bisa saja terjadi di Riau. Beberapa kandidat berasal dari daerah yang sama. Ini tentu akan menjadi perebutan masing-masing kandidat. Semuanya tentu boleh-boleh saja, asal tetap berujung damai.***
Opini | Tajuk Rencana | Surat Pembaca | Atan Bingit |