Oleh
Dituntut Keseriusan Pemerintah Tangani Difteri
10 Januari 2018 - 11.17 WIB > Dibaca 261 kali
 
RIAUPOS.CO - Kita harus memberi perhatian serius terhadap ancaman serangan difteri sebagai hal yang sangat membahayakan. Bahkan beberapa daerah sudah menetapkan kejadian luar biasa (KLB). Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek menyatakan bahwa status KLB langsung bisa ditetapkan setelah ditemukan kasus.

Menurutnya, KLB bukan pertanda wabah. Melainkan hanya early warning supaya ada kesiagaan untuk menangani kondisi tersebut. Karena sudah terjadi di beberapa provinsi, pemerintah pusat langsung turun tangan.

Meski orangtua anak balita sudah patuh memberi imunisasi wajib dan ada imunisasi ulangan pada anak usia sekolah, rupanya perlindungan itu belum cukup. Sebab, semestinya imunisasi diulang setiap sepuluh tahun. Meski sudah dewasa. Kondisi tersebut rupanya belum tersosialisasikan.

Akibatnya, khalayak kebanyakan beranggapan, imunisasi di masa kanak-kanak yang bersifat wajib sudah cukup melindungi hingga dewasa.

Nila menegaskan, imunisasi adalah satu-satunya cara untuk mengatasi KLB difteri. Agar korban tak lagi bertambah. Bila sasaran imunisasi anak dan dewasa, tentu diperlukan ketersediaan vaksin dalam jumlah besar. Yang pasti, imunisasi difteri secara masal untuk anak dan dewasa sangat diperlukan saat ini. Diharapkan, tidak ada penolakan di masyarakat saat ada pemberian imunisasi di tempat tinggalnya.

Meski istilah difteri sudah sangat familiar, penanganannya terbilang rumit. Pasien yang telanjur terinfeksi difteri harus dirawat di ruang isolasi. Padahal, belum semua rumah sakit menyediakan ruang tersebut.

Belum lagi ketersediaan antidifteri serum (ADS) yang terbatas. ADS dibutuhkan pasien difteri untuk menetralkan toksin (racun) difteri yang menyebar melalui darah. Bila tidak mendapat ADS, ada peluang toksin berhenti di organ-organ penting tubuh. Dampaknya, si pasien mengalami gangguan organ penting hingga kematian.

Jika racun masuk ke jantung, misalnya, ia dapat mengakibatkan kerusakan sel otot jantung. Dampak selanjutnya, gagal jantung seumur hidup atau bahkan berujung pada kematian.

Racun itu berisiko memicu kerusakan pada sel-sel saraf. Bergantung sel saraf yang ”dihinggapi”. Penglihatan bisa terganggu, ada risiko kerusakan otak, maupun gangguan sistem pernapasan yang berujung pada gagal napas dan kematian.

Penyakit difteri disebabkan serangan bakteri Corynebacterium diptheriae pada selaput lendir. Terutama pada hidung dan tenggorokan. Ia digolongkan pada penyakit menular. Penyebaran bakteri sangat mudah. Terutama pada orang yang belum pernah mendapatkan vaksin difteri.

Bakteri Corynebacterium diptheriae sangat berbahaya. Sebab menghasilkan racun yang membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan. Bahkan racun bakteri juga mampu masuk ke aliran darah. Akibatnya menimbulkan kerusakan pada jantung, ginjal, dan sistem saraf.

Sebab itu, kita semua dituntut tetap waspada dengan penyakit ini. Jika ada yang diserang, sebaiknya segera diberi pertolongan medis.***
Opini | Tajuk Rencana | Surat Pembaca | Atan Bingit |