Oleh
Waspadai Gesekan Pilkada
6 Januari 2018 - 10.32 WIB > Dibaca 177 kali
 
RIAUPOS.CO - DUA bakal calon Gubernur Riau memastikan akan mendeklarasikan diri, besok, Ahad (7/1). Duet Arsyadjuliandi Rachman-Suyatno dan Syamsuar- Brigjen Edy Natar Nasution. Dua pasang ini mendeklarasikan diri sehari sebelum dibukanya masa pendaftaran bakal calon. Masih terbuka bakal calon lain karena beberapa perahu yang memiliki kursi masih tawar menawar sebelum menjatuhkan pilihan.

Artinya gendang pertarungan sudah benar-benar ditabuh. Riau dan serentak banyak provinsi kabupaten/kota di Indonesia lainnya memulai pesta demokrasi memilih kepala daerah. Maka ini juga berarti berbagai potensi kekisruhan terbuka semakin lebar. Ribut politik akan terjadi. Celah konflik akan terbuka lebar.

Maka yang pertama harus dituntut itu adalah kepekaan dan keprofesionalan penyelenggara Pilkada. KPU mulai tingkat provinsi hingga pelaksana tingkat kelurahan/desa, Bawaslu, aparat keamanan hingga masyarakat itu sendiri. Personal maupun kelompok. Masing-masing harus menjalankan tugas dan fungsinya secara ketat. Sebab publik tengah sensitif. Apalagi para pendukung calon. Gesekan bisa terjadi sewaktu-waktu jika ada pembiaran pelanggaran yang dilakukan oleh salah satu calon maupun tim suksesnya.

Tapi itu apabila tahapan sudah selesai pada penetapan bakal bakal calon. Berarti yang terpenting saat ini bagi penyelenggara adalah menyosialisasikan dan mengkoordinasikan dalam tujuan menyukseskan penyelenggaraannya nanti. Mengajak dan menerima masukan dari berbagai pihak akan dianggap bijak jika dilakulan KPU secara intensif.

Benih pemecahan dan berpotensi melebar ke konflik sebenarnya sudah bermunculan. Terutama menyeruak di media sosial. Misalnya isu kesukuan. Walau tidak gamblang dan vulgar orang tertentu menyebutkannya, akan tetapi gesekan bisa meluas. Tak bisa kita pungkiri di medsos itu ada diskusi yang membahas kesukuan. Bahkan soal agama. Sungguh hal ini jika tak dikelola dan tidak ada tindakan cegah bisa membayakan.

Para elit dan tokoh masyarakat sampai pemuka agama harusnya mulai melihat ini sebagai potensi yang bisa meluas gesekannya. Maka mestinya lebih intens berkomunikasi. Memang baru di wilayah medsos. Tapi sewaktu-waktu bisa seperti minyak yang mudah tersulut api. Akan tetapi, kita optimis proses demokrasi di negeri bernama Riau ini akan berjalan aman tanpa gesekan. Sebab pengalaman mengatakan demikian. Mudah-mudahan seperti itu.***
Opini | Tajuk Rencana | Surat Pembaca | Atan Bingit |