Depan >> Opini >> Opini >>
Oleh Adlin, S.Hut Ketua Federasi Pekerja Kehutanan RAPP
Keunggulan HTI yang Disesatkan Isu Lingkungan
19 Desember 2017 - 10.08 WIB > Dibaca 430 kali
 
RIAUPOS.CO - Hutan tanaman industri, sesuai namanya adalah hutan. Bedanya dengan hutan alam, HTI memiliki tumbuhan seragam atau dikenal dengan istilah monokultur. Jenis tanaman HTI yang paling unggul adalah akasia dan eukaliptus. Tanaman itu dipakai sebagai bahan baku bubur kertas (pulp), grup Sinar Mas Forestry (APP) maupun Raja Garuda Emas (APRIL).

Akasia dan eukaliptus di negara tropis seperti Indonesia, sangat gampang tumbuh. Dari awal penanaman sampai panen, membutuhkan waktu 6 tahun. Setelah itu dapat ditebang dan ditanam lagi. Dari masa tanam sampai tebang, istilahnya satu daur.

Di negara sub tropis seperti Finlandia, Swedia, Jerman, satu daur pinus di HTI-nya, membutuhkan waktu 35 tahun. Adapun di Amerika, HTI-nya baru dapat dipanen setelah lebih dari 40 tahun.

Muncul anekdot, orang yang menanam kayu di Amerika pada sekarang ini, akan dipanen oleh cucunya kelak. Di Eropa, kayu yang ditanam bapak dipanen oleh anaknya. Di Indonesia, kayu yang ditanam akan dipanen oleh orang yang sama. Betapa hebatnya Indonesia.

Kelebihan itulah yang menjadi sumber persoalan dalam persaingan dagang pulp di pasar dunia. Perusahaan besar pulp dunia yang lebih dulu bercokol, tidak membolehkan Indonesia berjaya. Keunggulan Indonesia itu harus diganyang.

Makanya tidak mengherankan apabila industri pulp Indonesia selalu diterpa angin ribut dengan berbagai isu, khususnya kerusakan lingkungan. Isu yang sama juga terjadi pada produk kelapa sawit Indonesia yang juga unggul dibandingkan minyak kedelai atau minyak bunga matahari produk Eropa dan Amerika.

Tanaman HTI Indonesia, selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab bencana asap, peningkatan emisi karbon dan merusak hutan alam. Padahal, penelitian Institut Kajian Lingkungan asal Swedia, The Swedish Environmental Research Institute (IVL) pada tahun 2013 menyebutkan,  50 persen emisi gas karbon untuk membuat pulp justru berkurang apabila dibandingkan dengan hutan yang dibiarkan merana tanpa pengelolaan. Tapi, penelitian itu tidak dipandang. Tudingan merusak lingkungan terus dibombardir.

Sebenarnya tidak sulit untuk menduga siapa di balik isu-isu tersebut. Hampir dapat dipastikan perusahaan-perusahaan besar yang kalah bersaing tadi, berada di belakang. Perusahaan besar asing itu mendanai LSM-LSM di Tanah Air untuk menggempur perusahaan HTI.

Tuduhan ini memang sulit dibuktikan, karena akses aliran dana terputus atau lewat tangan ketiga, keempat yang tidak terdeteksi jelas. Lagipula siapa yang mau terang-terangan mengatakan ikut mendanai perang isu karena produknya kalah dalam persaingan pasar.

Namun laporan VICE, sebuah lembaga penyiaran dokumenter terkenal asal Amerika, yang berafiliasi dengan HBO dan disiarkan lewat jaringan televisi FOX, dapat dipakai sebagai pembanding untuk membuka cakrawala kita. Dalam laporan VICE, tentang isu anti rokok, misalnya, membuktikan keterlibatan perusahaan rokok besar  yang terkena dampak apabila penggunaan tembakau diganggu. Uang dari perusahaan rokok akan digelontorkan miliaran dollar AS untuk menyerang setiap muncul isu antirokok.

Begitu juga dengan isu anti penggunaan bahan bakar fosil yang dituding mempercepat perubahan iklim, giliran perusahaan minyak raksasa mendanai kampanye melawan isu. Dana miliaran dollar dialirkan kepada pihak-pihak yang mendukung kontra isu. Dengan dana nyaris tidak terbatas, pantas saja apabila perang isu itu selalu dimenangkan oleh perusahaan-perusahaan besar tersebut.

Jadi kalau perusahaan-perusahaan raksasa dunia yang kalah bersaing di pasar dunia mengalirkan dana besarnya untuk isu anti-HTI dan kelapa sawit, tidak usah heran. Tujuan mereka hanya satu, jangan sampai produk HTI serta minyak kelapa sawit Indonesia merajai dunia.***
Opini | Tajuk Rencana | Surat Pembaca | Atan Bingit |