Ketika Kotoran Sapi Disulap Jadi Biogas
Kotoran sapi yang telah diproses dapat dipergunakan sebagai bahan bakar untuk memasak. Foto: Dok. Riau Pos

Ketika Kotoran Sapi Disulap Jadi Biogas
Sabtu 29 Desember 2013 - 08:28 WIB > Dibaca 3911 kali
 
Kotoran ternak merupakan turunan dari kegiatan memelihara sapi, kambing, ayam, dan lainnya. Hasil utamanya tentu saja daging, susu, dan telur. Namun demikian, di Desa  Mulya Subur, Kecamatan Pangkalanlesung, Kabupaten Pelalawan  kotoran ternak dimanfaatkan menjadi energi alternatif biogas ramah lingkungan.

Laporan, MASHURIKURNIWAN, Pangkalanlesung

Penduduk desa ini kebanyakan bermatapencaharian sebagi peternak, petani, dan  pemerintahan. Kotoran ternak bagi masyarakat sekitar,  selain dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar  juga dapat mendukung usaha  tani  dalam penyediaan pupuk  organik, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Teknologi pengolahan biogas hanya  dengan peralatan yang sangat  sederhana, murah dan mudah diperoleh. Dengan demikian masyarakat sekitar mampu menghasilkan biogas memanfaatkan kotoran ternak sapi sebagai bahan bakar yang dimanfaatkan untuk memasak  dan penerangan ke depannya.

Pengolahan biogas  hanya dengan di gester yang terbuat dari bahan fiberglass. Peralatan itu dinilai tepat  diterapkan untuk masyarakat kecil mengingat  murahnya biaya instalasi serta kemudahan dalam pengoperasian nya.

Cara memanfaatkannya juga terbilang mudah.  Biaya yang dikeluarkan untuk mengubah kotoran menjadi energi atau bahan bakar  relatif terjangkau. Hasil yang dirasakan bisa menghemat pengeluaran keluarga. Itu dibandingkan jika menggunakan minyak atau gas elpiji untuk memasak.

Salah seorang masyarakat Desa Mulya  Subur, Joko Setiya mengatakan,  memanfaatkan kotoran sapi menjadi bahan bakar memang sudah  lama dicanangkan.

Tabung biodigester tersebut berisi kotoran sapi yang telah dicampur lumpur   untuk mempercepat proses pembuatan gas metana.  Dibutuhkan waktu 20 hari hingga bisa digunakan layaknya sebagai bahan bakar yang  menggunakan kompor gas.

Selain dimanfaatkan  gasnya,  kata dia, ampas atau sisa proses pembentukan biogas tersebut bisa digunakan untuk pupuk kompos. 

Untuk diketahui, biogas merupakan campuran gas yang dihasilkan oleh bakteri metanogenik yang terjadi pada material-material terurai secara alami dalam kondisi anaerobik. Pada umumnya biogas terdiri atas gas metana (CH4) 50 samapi 70 persen, gas karbon dioksida (CO2) 30 sampai 40 persen, hidrogen (H2) 5 sampai 10 persen, dan gas-gas lainnya dalam jumlah yang sedikit.

 Bahan bakar yang satu ini  mempunyai keunggulan dibandingkan dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berasal dari fosil.  Sifatnya yang ramah lingkungan merupakan keunggulan dari biogas.

Kondisi ini merupakan suatu langkah untuk meminimalisir terjadinya pemanasan global yang diisukan berasal bari bahan bakar fosil.

Kasubdit Konservasi dan Rehabilitasi Lingkungan Dirjen PMD Kementerian Dalam Negeri, Dr Drajad Febrianto mengatakan, salah satu jalan untuk menghemat bahan bakar minyak, mencari sumber energi yang dapat diperbarui (renewable). Biogas  salah satu caranya.

Pengembangan energi terbarukan biogas dari kotoran ternak sapi ini merupakan langkah yang tepat dilakukan di Desa Mulya Subur. Karena di desa ini masyarakatnya sebagian ada yang beternak sapi. Seperti yang diketahui,  jelasnya, limbah ini mempunyai andil dalam pencemaran lingkungan.

Limbah  dari kotoran ternak  sapi  sering menimbulkan masalah lingkungan yang mengganggu kenyamanan hidup masyarakat disekitar  peternakan.

Namun itu berbeda di Desa Mulya Subur yang menurut dia, masyarakatnya sangat kreatif dalam pengembangan energi terbarukan dari kotoran ternak sapi menjadi biogas.

Terkait dengan hal itu,  salah satu kebijakan pemerintah untuk mensosialisasikan energi terbarukan ini dengan pemanfaatan limbah kotoran ternak sapi sebagai energi alternatif (biogas).

Walaupun skala biogas yang dihasilkan peternak kretif di Indonesia sekarang, sambungnya  masih untuk kebutuhan rumah tangga.

Dari penuturannya,  roduksi biogas memungkinkan pertanian berkelanjutan dengan sistem proses terbarukan dan ramah lingkungan. Pada umumnya, biogas terdiri atas gas metana (CH4) sekitar 55-80 persen. Yang mana  gas metana diproduksi dari kotoran hewan yang mengandung energi 4.800-6.700 Kcal/m3.  

Bupati Pelalawan, H Haris menambahkan, program ini ini memberikan dampak terhadap lingkungan. Karena limbah ternak   dikelola secara baik. Dengan sentuhan teknologi tepat guna, maka limbah ternak bisa menjadi salah satu sumber energi baru terbarukan yakni berupa energi biogas.

 Untuk itu,  Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Pelalawan yang mempunyai tugas untuk memberdayakan masyarakat.

Seluruh masyarakat Kabupaten Pelalawan yang bekerja di bidang peternakan, hendaknya bisa memanfaatkan turunan dari ternak tersebut. Kotoran ternak selain dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar minyak. Pembuatan biogas juga dapat mendukung  usaha tani dalam penyediaan pupuk organik.

‘’Jadi, penggunaan pupuk kimia bisa dikurangi. Banyaknya populasi ternak di kelompok tani ada peluang besar untuk pembuatan biogas.  Kita sudah menghimbau masyarakat dapat memanfaatkan potensi ini sebagai sumber energi alternatif, sehingga  dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan energi  setiap harinya,’’ terang bupati.

Dikatakannya, pengembangan DME terbarukan ini sangat sinergi dengan program yang sedang diupayakan Pemerintah Kabupaten  Pelalawan yakni  adanya integrasi antara sawit dengan ternak. Yang mana setiap  masyarakat yang mempunyai lahan perkebunan  tersebut hendaknya memelihara ternak sapi. Dengan demikian, maka diharapkan daerah perkebunan sawit yang ada di Kabupaten Pelalawan dapat menjadi sentral ternak.

Namun lanjutnya, tetap harus menjaga lingkungan hidup dan sumber daya alam yang berkelanjutan. ‘’Dalam hal ini, Desa Mulya Subur Kecamatan Pangkalan Lesung telah ditunjuk sebagai percontohan desa untuk melakukan pengembangan DME terbarukan ini,’’ bebernya.

Mantan Ketua Asosiasi DPRD se-Indonesia ini mengatakan, bahwa populasi ternak di Kabupaten Pelalawan cukup tinggi dengan jumlah sebanyak 7.617 ekor yang tersebar di 12 kecamatan.

Pengamat lingkungan Riau, Rosyadi menjelaskan, energi yang paling banyak digunakan untuk aktifitas manusia eergi minyak bumi dan listrik.  Energi minyak bumi yang banyak dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah minyak tanah, bensin dan solar. Energi diperlukan untuk pertumbuhan kegiatan industri, jasa, perhubungan dan rumah tangga.

Menurutnya, kegiatan peternakan sapi dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan, yaitu peningkatan pendapatan peternak, perluasan kesempatan kerja, peningkatan ketersediaan pangan dan penghematan devisa. Namun tanpa dilakukan pengolahan limbah yang tepat, kegiatan ini menimbulkan permasalahan lingkungan.

‘’Maka itulah pemerintah menerapkan program Desa Mandiri Energi ini.  Usaha untuk mengurangi bahkan mengeliminasi dampak negatif dari kegiatan usaha peternakan sapi terhadap lingkungan.  Tergantung pada beberapa faktor seperti kebijakan pemerintah dan ketersediaan teknologi pengolahan limbah.’’ ujarnya.

 Oleh sebab itu, jelasnya, dengan adanya investasi instalasi biogas ini memberikan dampak positif pada peternakan sapi dari aspek ekonomi dan kebersihan lingkungan seperti bahan bakar gas, pupuk organik padat dan cair dengan kandungan unsur hara nitrogenphospatkalium(NPK) yang dibutuhkan tanaman cukup tersedia.

Selain itu, teknologi biogas memiliki keunggulan sangat praktis, bahan baku lokal cukup tersedia dan teknologinya mudah diaplikasikan.

Teknologi ini memanfaatkan mikroorganisme yang tersedia di alam untuk merombak dan mengolah berbagai limbah organik yang ditempatkan pada ruang kedap udara (anaerob).

Dijelaskannya, hasil proses perombakan tersebut dapat menghasilkan pupuk organik cair dan padat yang bermutu berupa gas yang terdiri dari gas metana (CH4) dan gas karbon dioksida (CO2).

‘’Gas tersebut dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar gas (BBG) yang biasa disebut dengan biogas,’’ pungkasnya.***

Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif |