Wanita yang Memeluk Lautan Teduh
CERPEN DEVI EKA
Wanita yang Memeluk Lautan Teduh
10 Juni 2017 - 23.55 WIB > Dibaca 4226 kali
 

“Mamak! Daeng Sira kena bom!” Ided berteriak dari pintu depan.

Astaga, cepat-cepat kutinggalkan kupasan kerang hijauku. Dari jauh kulihat orang kampung sudah ramai berkumpul di Puskesmas pulau. Aku bergegas turun dari rumah mengikuti Ided yang berlari ke keramaian.

“Mati?” Murni rupanya di belakangku.

“Tidak tahu, belum kulihat. Ayo, Mur.” Kugandeng tangan Murni lebih cepat menyusur paving block ke Puskesmas yang tinggal beberapa langkah lagi. Siang itu terik dan jalanan semen ini panas bukan main. Tapi dalam keadaan begini orang-orang pulau tak peduli bertelanjang kaki. Bukan kejadian sekali dua kali nelayan celaka kena bom ikan, sudah berpuluh-puluh kali dan kami hanya menunggu kabar mati.

Terdengar suara teriakan Daeng Sira kesakitan dari dalam ruangan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi. Entah bagian tubuh yang mana yang pecah, entah apa sedang dijahit menjadi satu lagi di dalam sana atau dilepas satu persatu sampai bersih. Dari kaca jendela kulihat Jul, si perawat keluar-masuk ruangan beberapa kali dengan noda berwarna merah kental di seragam putih-putihnya.

“Kena tangan. Waktu dilempar, meledak.” Jamal memberitahuku. Rupanya ia berada di kerumunan itu pula. “Untung botol minuman bekas pakai. Kalau besar, habis itu,” tambahnya.
“Di mana?” Murni bertanya penasaran pada Jamal.

“Di sana, Karang Luara. Sebelah Pulau Karanrang,” sahut Jamal sambil mengulurkan lengan buntungnya ke arah lautan.

Murni menoleh ke arah utara. Raut wajahnya mencoba memetakan lokasi yang Jamal katakan.
“Mana kau tahu, Mur. Pergi ke luar Pulau Samatel saja kau tidak pernah.” Jawabanku mengagetkan Murni yang tengah berpetualang dengan peta di awang-awangnya. Jamal terkekeh melihat Murni.

“Karena aku tidak tahu, maka aku bertanya,” jawab Murni membela diri sambil mencubit lengan Jamal keras-keras.

Aku, Murni, dan Jamal memang seperti keluarga dekat. Meski pulau ini sempit, yang dari ujung ke ujung hanya sepelemparan batu, tapi Murni dan Jamal hampir setiap hari berkunjung ke rumah kayu milikku yang kecil. Jamal kadang-kadang datang membawakan seikat ikan, cumi-cumi, atau keranjang bambu kecil berisi udang. Murni lebih sering datang membantuku mengupas kerang hijau dan bermain dengan Ided di teras panggung. Murni kehilangan bapak dan dua kakak laki-lakinya tujuh tahun lalu. Bom itu meledak di lambung kapal saat dibawa.

Kapal kayu itu jebol, lalu tenggelam bersama semua penumpang di atasnya. Sedang si Jamal menjadi duda ditinggal istrinya lari, pulang ke daratan karena tak kuasa menanggung malu bersuami cacat. Bom meledak di tangan Jamal sesaat hendak dilempar. Kini, ia tidak lincah lagi memegang kemudi kapal, tidak bisa menarik jaring cepat, dan tidak bisa memancing cumi-cumi sendiri. Sehari-hari Jamal membantu Mamak Murni mengurusi ikan-ikan kering untuk dikirim.

Tidak hanya kami, masih banyak nelayan yang sudah menjadi korban. Tapi, di pulau ini seolah tidak ada yang belajar dari kehilangan kami. Pupuk-pupuk itu masih saja berdatangan dengan kapal dari daratan.

“Mamak!” Ided tiba-tiba sudah ada di sampingku. Sepertinya ia tadi berusaha melihat ke dalam dari jendela sisi barat bangunan Puskesmas.

“Apa, Nak?” Kuusap rambutnya yang kemerahan terpapar matahari. Lalu kugendong pulang. Dagunya yang kecil bergerak-gerak di pundak kiriku. “Apa, Nak? Bilang apa maumu?” Kutepuk-tepuk pelan punggungnya.

“Kata Om Jamal, bapak juga kena bom?” Ia diam sejenak, lalu bertanya lagi, “Tapi, kenapa Daeng Sira tidak pergi?”

Tak terasa mendung di mataku lekas berubah menjadi gerimis. Kuusap rambut Ided, lalu turun ke punggungnya pelan-pelan. Ided menegakkan punggungnya dalam gendonganku, jarinya memainkan cincin emas yang menjadi mata kalung di dadaku. Sulit menjaga Ided untuk tidak mendengar cerita kematian bapaknya di pulau ini, meski berkali-kali kuceritakan tentang bapaknya yang pergi berlayar ke lautan teduh di timur. Nalar kecilnya berusaha memahami dengan mengkait-kaitkan tentang cerita yang ia dengar dari orang dan dariku, ibunya. Logika tersambung. Baginya, jika orang kena bom ikan maka orang itu akan pergi ke lautan teduh di mana bapaknya juga pergi.

“Kau rindu bapakmu-kah, Ded?”

“Tidak tahu.”

“Kenapa?”

“Tidak pernah lihat, Mak,” jawabnya seolah menusuk jantungku.

Ia bersandar memeluk leherku. Kupeluk ia lebih erat. Napasnya mulai teratur. Rupanya ia mengantuk.

“Di mana lautan teduh, Mak?” Ia masih penasaran rupanya.

“Di sana, ke arah bintang yang bersinar paling terang sebelum pagi.” Kubisikkan dongeng itu di telinganya. Kucium pipinya. Ia sudah lemas tertidur. Segera kubaringkan anak lelakiku di atas tikar sesampainya di rumah kayuku. Sesaat aku limbung setelah menaruh Ided.

Lima tahun sudah berlalu dan aku sanggup. Aku masih sanggup. Kala begini aku kerap berbicara sendiri meyakinkan diriku. Kecelakaan Daeng Sira mengembalikan gambaran tentang bapak si Ided. Tapi ingatan itu tidak mungkin hilang. Norman, suamiku pergi dan tak pernah kembali lagi saat usia kandunganku delapan bulan. Aku masih ingat sore itu, Haji Yusuf, pemilik kapal suamiku ikut datang ke rumahku. Wajahnya pucat. Ia duduk menunduk lama di teras rumah, tak berani menatapku. Mamak Murni kemudian menyusul naik ke terasku. Saat itu aku tahu berita macam apa yang ia bawa.

“Bagaimana kejadiannya?” tanyaku dengan suara bergetar.

“Norman turun seperti biasa, bawa satu botol.” Haji Yusuf berhenti sejenak. Ia menutup matanya, mengambil napas dalam. “Baru turun, belum satu menit. Baru saja turun, masih dilihat sebentar. Masuk ke air... Meledak. Maafkan saya, Ima. Maafkan saya.” Tangannya menyembah padaku. Kulihat air mata turun di mata Haji Yusuf. Ia juga tak kuasa menahan air mata.

Aku tahu ini bukan salahnya. Norman sejak remaja sudah ikut kapal Haji Yusuf. Ia pula yang meminjamkan uang tambahan pada suamiku dulu untuk meminangku. Aku pun tahu mengapa Norman yang turun. Sikapnya yang pemberani dan suka menantang bahaya pula yang membuatku jatuh cinta. Norman Alamsyah nama lengkapnya. Pemuda berkulit hitam yang bahkan tak punya kapal sendiri. Aku suka caranya mendekatiku, membawakan ikan-ikan kerapu merah kesukaan mamakku sambil mencuri-curi pandang. Ia akan tersenyum malu-malu bila kulempar pandang dari atas teras panggung. Di atas teras panggung pula aku mendengar kepergiannya.

“Hanya ini yang didapat, Ima.” Haji Yusuf menaruh sebuah kotak kayu tembakau di depanku.
“Kuat kau membuka?” Mamak Murni yang sedari tadi memelukku menanyai kekuatanku.
Kutatap wajahnya yang juga penuh air mata. “Aku harus. Norman suamiku.” Kulihat ia mengangguk, lalu membantuku mengambil kotak itu.

Perlahan kubuka tutup kayunya. Ada sebuah kain putih pembungkus di dalamnya. Aku tahu isinya. Di dalamnya kulihat jari kelingking dan jari manis yang begitu kuhapal. Jari yang dulu kuat menggenggam tanganku kala bermain di pantai, jari yang kini berwarna pucat kebiruan. Cincin emas masih melingkar di sana. Cincin yang Norman belikan dari hasil menjual kerang hijau seratus keranjang. Kusentuh jari-jari itu. Dingin.

“Norman...”

“Ima! Ima!” Aku mendengar suara Mamak Murni sesaat memanggil-manggil. Semuanya mendadak ringan. Lalu sunyi. Dan gelap.

Kuingat esok paginya aku terbangun di Puskesmas. Perutku sakit sekali. Pada malam ketiga sejak suamiku meninggal, Ided lahir dalam usia kandunganku belum genap sembilan bulan.
“Ima! Ima!”

Aku tersentak dari lamunanku. Cepat-cepat kuhapus air mataku, lalu berjalan ke teras panggung.

“Kau tak apa-apa?” tanya Jamal dari halaman bawah.

“Tak apa-apa. Naik sini.” Kuajak Jamal naik ke rumahku. Biasanya ia meminta kopi. Ia paham betul kalau aku pasti terbawa pikiran jika ada kejadian bom ikan di pulau.

“Tidak usah, Ima. Saya mau pergi ke rumah Haji Yusuf,” sahutnya lekas.

“Apa mau kau bikin, Mal?” Aku mulai khawatir Jamal mau turunkan lagi bom ikan. Ia tak menjawab, hanya tersenyum melambaikan tangan buntungnya, lalu pergi ke belakang rumah kayuku.

Dari sudut tepian pantai kulihat Murni datang. Ia berjalan menunduk. Cemberut.

“Kenapa kau, Murni?” Kutanya padanya saat ia hendak berbelok ke tangga rumahku. Ia berhenti, lalu menengok ke atas, sepertinya tak sadar aku memerhatikannya dari atas teras panggung.

“Bantu dulu, Kak Ima.” Nada bicara Murni seperti kesal.

“Apakah?”

“Banyaknya kerangku,” jawabnya. Kedua tangannya membentang terbuka seolah-olah membentuk keranjang yang besar sekali.

“Sebentar kuambil dulu sisa kerangku, biar selesaikan lanjut di rumahmu. Tunggu di situ.” Aku ke belakang mengambil sisa kerang dengan keranjangnya. Kulihat Ided masih tertidur. Jadi aku perlahan-lahan berjalan ke luar agar tidak terbangun.

Rumah Murni termasuk besar di antara rumah-rumah di pulau ini, walau masih kalah besar dari rumah Haji Yusuf. Semasa hidup, Haji Nawawi, bapak Murni memiliki kapal angkut besar dan beberapa kapal jaring sedang. Keluarga Murni termasuk golongan berada. Banyak orang yakin usaha penangkapan Haji Nawawi akan lebih sukses dari Haji Yusuf seandainya ia masih hidup.

Kulihat Hajah Ayu berdiri menata jemuran ikan keringnya di halaman. Ia perempuan Jawa yang dipinang bapak Murni di Surabaya, lalu diboyong ke Pulau Samatelu ini. Aku biasa memanggilnya Mamak Murni. Ia menengok dan tersenyum. Rupanya ia melihatku datang.

“Masuk, Mbak Ima. Murni di belakang. Maaf loh, Mbak, bikin repot. Itu Murni ikut-ikutan kamu, katanya biar mandiri seperti Mbak Ima.” Logat Jawanya masih terasa dari kata-kata mamak Murni biarpun bertahun tinggal di lautan Sulawesi ini.

“Sehat, Mamak Murni? Lancar kulihat kapalnya, Mak.” Kucoba memberi perhatian sedikit pada perempuan yang rambutnya hampir memutih semua.

“Halah, Mbak Ima, yang penting jalan. Pusing saya solar naik-naik terus, ikan makin sedikit sama makin kecil-kecil.” Ia menjawab dengan berita buruk, tapi raut mukanya seperti biasa saja. “Yang penting tidak celakai orang,” sambungnya sambil tersenyum dan melayangkan pandangan menyindir ke arah rumah Haji Yusuf. Aku tertawa saja. Kutahu pembicaraan seperti ini hanya butuh didengarkan.

“Mari, Mak.” Aku berpamit hendak ke belakang. Ia mengangguk membalas, lalu melanjutkan menata jemurannya di atas bambu-bambu melintang panjang.

Sampai di kolong belakang rumah kulihat Murni sudah duduk dengan belasan keranjang kerang hijau di sekelilingnya. Aku kaget. Ternyata benar banyak sekali.

“Buat apa ini semua, Murni? Sisa-sisa ini kalau mau kau jual, orang lelong Maros itu cuma sanggup ambil tiga keranjang.” Aku paham betul daya beli pengepul kerang hijau dari lelang ikan Maros. Karena sejak kematian Norman, aku bertahan hidup dengan menjual kerang hijau kupas, macam selisih harga dari kerang hijau yang belum dikupas. Tidak banyak kudapat, karena memang tidak banyak yang sanggup membeli. Kerang hijau lebih mahal dari kerang darah. Katanya cuma restoran dan warung makan jalan lintas yang mau ambil. Bila dihitung aku menjual satu keranjang dalam satu hari, karena Dawus si pengepul mengambil tiga keranjang setiap Rabu dan Sabtu. Maka aku kaget melihat keranjang-keranjang penuh kerang di depanku. Apa yang direncanakan Murni?

“Pesanan, Kak. Katanya calon bupati yang menang pilkada kemarin yang ambil,” terang Murni sambil terus membuka kulit-kulit kerang.

Kerang hijau sebegini banyak jika dimasak tentu lebih dari lima panci coto. Hanya orang yang punya hajat besar yang memasak kerang hijau sebanyak ini.

“Ayo, Kak. Bagaimana ini biar cepat?”

Kulihat di ujung ada beberapa keranjang yang warna kerangnya lebih pucat. “Itu, Mur, yang di sana itu dulu harus cepat-cepat dikupas. Terlalu lama nanti busuk. Ayo angkat.” Kuajak Murni memindahkan keranjang-keranjang tadi. Mungkin kerang-kerang ini diangkat sejak kemarin, banyak cangkangnya sudah terbuka seperti orang kelaparan. Jika dibiarkan terlalu lama, dagingnya akan memucat dan berbau busuk.

Lewat satu jam lebih baru lima keranjang selesai. Termasuk cepat karena mudah; daging kerangnya sudah lemas. Kulihat Murni masih semangat, meski ia suka mengeluh. Tapi sebenarnya tangannya tekun bekerja. Perlu kuakui, aku mulai mudah letih. Mengupas satu keranjang kerang saja kadang-kadang perlu berhenti sejenak untuk meluruskan pinggang.
Kudengar ramai suara orang di luar. Murni melirik padaku. Rupanya ia juga mendengar. Kami beranjak cepat ke depan, meninggalkan kupasan kerang ini. Aku mendengar nama Ided disebut-sebut di luar. Ada apa ini, batinku.

“Mamak!” Kudengar suara kecil Ided berteriak memanggilku.

“Iya. Apa, Nak?” Kujawab panggilan Ided sembari berjalan ke samping rumah.

“Mamak, lihat ini! Saya mau ke tempat bapak!” teriaknya sambil menunjukkan sebuah botol hijau di tangannya.

Samar kulihat seutas tali menjulur keluar dari bibir botol itu. Jantungku berhenti berdetak. “Ided!” Sekuat tenaga aku berlari menuju Ided. Tiba-tiba seseorang menubrukku. Tubuh kami berdua jatuh di atas pasir.

“Ima, jangan ke sana!” parau suara Mamak Murni di sampingku. Tangannya erat meremas rok panjangku.

Kulihat Jamal berlari dari arah belakang punggung Ided. Ia menjulurkan tangannya merebut botol di tangan Ided. Tangan yang salah. Botolnya terlempar ke atas menuju tempatku dan Mamak Murni berada.

“Jamal! Ided!” Aku berteriak sekuat-kuatnya. Tubuhku berontak berdiri. Rokku sobek. Aku segera menuju botol yang mulai menukik. Kulihat Jamal menggendong Ided untuk menjauh. Rupanya ia mengerti.

“Ima!” Mamak Murni berteriak memanggilku. Aku sudah tidak peduli, asal jangan Ided. Kujulurkan tangan untuk menangkap. Hap! Dapat! Lekas kupeluk botol itu dan kujatuhkan tubuhku ke atas pasir.

Aku akan menjemputnya. ***

Devi Eka tinggal di Purworejo, Jawa Tengah. Karya-karyanya antara lain, novel berjudul The Love is (not) Blue (DIVA Press, 2013); Morning, Gloria (de Teens, 2014); Aku Menunggumu (de Teens, 2015); Friendzonk (Bentang Pustaka, 2016); dan Setangkai Hydrangea untuk Rin (Mazaya Publishing House; 2017). Serta beberapa antologi: Gadis 360 Hari yang Lalu, Don Juan Katrok, Distalovers, Unforgettable Stories, Kado untuk Kamu yang Tak Terlupakan, dan Mimpi Merah Hari Ke-40.



Cerita Pendek | Esai | Sajak | Catatan Akhir Pekan | Ranggi | Alinea | Buku |