Mikail Telah Menyayat Pinggangnya
CERPEN KIKI SULISTIYO
Mikail Telah Menyayat Pinggangnya
4 Juni 2017 - 01.38 WIB > Dibaca 2413 kali
 
PINGGANG kirinya terus mengucurkan darah. Cairan kental itu menerobos sela-sela jari tangan yang berusaha menekan luka. Sementara pikirannya dipenuhi kecemasan. Cemas kalau para pemburu akan mengendus jejaknya dan cemas akan hari yang berangsur gelap. Kegelapan seperti bayangan raksasa yang entah muncul dari mana. Perlahan bergerak menyelubungi seluruh kawasan hutan. Semakin dalam ia berlari semakin gelap hutan ini.

Kerimbunan daun kian rapat menyebabkan sisa-sisa cahaya senja tak sanggup menembusnya.
Tubuhnya melemah, darah yang keluar dari jaringan yang rusak akibat sayatan membuat matanya berkunang, jantungnya berdetak lebih cepat, dan seluruh tenaga yang dipikirnya masih ada tak bisa terpompa keluar. Darah mengenai bajunya dan sebagian menetes ke tanah. Sekelilingnya sudah benar-benar gelap saat ia tak sanggup lagi melangkah.

Ia ambruk.

Suara-suara aneh berkesiur. Sayup-sayup terdengar seperti campuran antara dengking anjing dan besi yang dibenturkan. Manakala hewan-hewan nokturnal mulai keluar dari sarang, suara-suara itu meresap ke batang-batang pohon, menjalar ke daun-daun, mengendap di serat akar.

Beberapa pemburu bersiaga. Masing-masing memegang senapan laras panjang. Kecuali seorang yang hanya menggenggam pisau besar. Mereka melangkah seakan-akan tidak saling mengenal. Terpencar satu dari lainnya. Pada suatu titik mereka bertemu, lalu berpencar lagi. Mereka memasuki hutan, tanpa penerangan apa-apa.

“Kita tidak bisa melihatnya tanpa penerangan,” kata seorang pemburu saat mereka belum memasuki hutan. “Justru sebaliknya,” bantah ketua kaum pemburu itu. “Jangan harap kita bisa menemukannya kalau kita pakai penerangan.”

“Dia sudah terluka. Mikail telah menyayat pinggangnya,” kata pemburu tadi. Mikail tersenyum sinis.

“Luka seperti itu takkan menghalanginya. Luka itu akan sembuh secepat ia terbentuk.”

“Di hutan akan sangat gelap. Apa kau yakin kita bakal dapat menemukannya?”

“Kalian kaum pemburu. Mata kalian harus lebih tajam dari burung hantu. Hidung kalian mesti lebih peka dari seekor macan dahan. Kalau kalian tak sanggup, aku akan pergi sendiri. Ini kesempatan terakhir, tunjuk tangan yang berani ikut. Yang tidak, segera pergi dari sini.”

Pemukiman di sekitar hutan sudah lama dihantui oleh kemunculan satu makhluk ganjil yang apabila ia mengaum seluruh pohon akan menggugurkan daun, batu-batu akan saling merapatkan diri dan air bergolak di kedalaman tanah. Makhluk itu muncul di gelap malam. Masuk ke rumah penduduk dan berdiri di ambang pintu. Tak ada yang dilakukannya selain itu.

Dia tidak menerkam dan memangsa orang. Tidak merusak rumah atau melukai siapapun. Meski begitu, apabila terdengar aumannya, serentak seluruh penduduk menutup pintu dan jendela rumah. Para lelaki bersiap-siap dengan apa saja yang bisa dijadikan senjata. Tapi makhluk itu tak pernah bisa dibunuh. Dia akan lenyap begitu saja sebelum seseorang bergerak mendekatinya.

Konon, kata orang yang pernah melihat, makhluk itu tampak seperti seekor gajah tapi memiliki bulu-bulu kasar, serta dua kaki dan dua tangan seperti manusia. Dia bisa tiba-tiba ada di tengah gelap. Bila ia muncul seluruh cahaya seperti terserap. Ia tak pernah muncul bila bulan sedang tinggi. Orang bisa mencium bau busuk dari tubuhnya. Seperti bau busuk luka yang telah menjadi borok.

Tak ada yang tahu apa yang dicari makhluk itu. Tetapi kemunculannya telah menimbulkan ketakutan. Dan dari ketakutan itu muncul cerita-cerita yang tak kalah menakutkan. Konon, makhluk itu datang dari neraka. Ia jelmaan malaikat yang membangkang dan lalu dibuang, bersamaan dengan dibuangnya nenek moyang manusia dari surga yang abadi. Ia ingin disembah. Ia ingin dalam kurun waktu tertentu para penduduk melakukan upacara persembahan buatnya. Jika tidak, makhluk itu akan menyebarkan penyakit pada penduduk.

Pernah ada satu kejadian, wabah penyakit menimpa penduduk. Mereka yang terkena penyakit ini, kulitnya akan membusuk perlahan-lahan. Setelah itu daging mereka turut membusuk, tulang-tulang jadi lembek, sebelum akhirnya tangan elmaut merenggut ruh dari tubuhnya. Setelah penduduk melakukan upacara persembahan, wabah penyakit itu hilang. Sejak itu, mereka tidak pernah berani melupakan upacara persembahan.

Tetapi, semakin lama, biaya untuk melakukan upacara persembahan semakin mahal. Sementara, hasil ladang penduduk tidak cukup untuk itu. Harga hasil ladang mereka anjlok di kota. Bersaing dengan hasil-hasil ladang dari negeri jauh yang dikemas dengan rapi dan dijual di tempat-tempat yang bersih. Tidak ada penghasilan selain dari berladang. Beberapa anak muda sempat berangkat ke kota untuk mencari kerja. Tetapi kebanyakan mereka pulang dengan tangan hampa. Sementara sebagian lain yang berhasil, memilih untuk tidak pulang. Mikail adalah salah satu yang pulang tanpa membawa hasil apa-apa.

Mikail hanya pulang membawa seseorang dari kota. Orang ini yang mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk membuat kehidupan penduduk lebih makmur adalah dengan menjual kayu. Hutan ini penuh dengan pohon-pohon besar. Setiap orang dapat menebang pohon dan menjual kayunya. Harga kayu di pasaran cukup tinggi untuk membuat kehidupan penduduk sedikit terangkat. Gagasan itu semula mendapat penolakan. Hutan sudah seperti rumah buat mereka, menebang pohon di hutan terasa seperti merubuhkan tiang-tiang rumah. Lagipula mereka khawatir tindakan itu akan membuat makhluk itu murka. Tetapi di antara penolakan itu menyusup suara-suara yang berseberangan. Setelah orang dari kota itu menjelaskan lebih jauh dan ia berjanji untuk membantu memasarkan kayu hutan hasil penebangan, suara-suara yang sepakat kian jelas terdengar.

Satu pohon ditebang, menyusul pohon-pohon yang lain. Dalam waktu singkat, pinggiran hutan menjadi lapang dengan hanya menyisakan pokok-pokok pohon yang sudah ditebang. Dan apa yang dikhawatirkan orang tidak terbukti; makhluk itu tidak pernah muncul lagi. Suara-suara yang semula menolak, lama-lama surut juga. Kemudian, karena penebangan dengan kampak memakan waktu lama, si orang kota kemudian mengusulkan untuk menggunakan gergaji mesin. Mereka jelas tidak memiliki benda itu, karenanya si orang kota mengusulkan kerjasama dengan orang-orang kota yang lain. Sekelompok penebang dari kota pun datang. Di sekitar pemukiman, kemah-kemah dibangun. Bersama para penebang, datang juga para pemburu. Dengan anjing-anjingnya, mereka berkeliaran di hutan, berburu kelinci, babi atau burung. Pada saat itu orang sudah melupakan makhluk itu.

Sampai suara auman yang sudah lama tidak terdengar kembali menerobos lebatnya hutan dan menggetarkan kemah-kemah penebang. Seolah-olah baru dibangunkan dari tidur panjang, para penduduk tersentak. Serentak muka-muka mereka pucat bagai muka mayat. Mereka berlarian memasuki rumah masing-masing. Sementara para penebang terheran-heran. Makhluk itu muncul di dekat kemah penebang dan Mikail mengaku telah berhasil melukainya sebelum makhluk itu lenyap. Malam itu juga sebagian pemburu bergerak memasuki hutan. Mikail turut serta, dengan hanya sebilah pisau besar di tangannya. 

Di dalam gelap hutan para pemburu tidak menemukan apa-apa. Sesekali mereka melepaskan tembakan ke arah entah. Sesekali terdengar seruan-seruan. Lalu senyap. Semakin mereka masuk ke hutan, semakin sulit mereka mengetahui posisi masing-masing. Tak terasa, mereka telah memasuki hutan selama berjam-jam. Ketika semburat pertama cahaya matahari menyusup di kanopi daun-daun, Mikail menemukan dirinya sendirian saja. Pemburu lainnya lenyap entah kemana.

Merasa ditinggalkan ia berjalan kembali ke pemukiman. Para pemburu ternyata belum kembali kesana. Kepada orang-orang ia menceritakan kejadian semalam. Sekali dua muncul pertanyaan. Semua dijawabnya dengan tenang. Sampai dari belakang kerumunan satu pertanyaan melesat bagai panah “Darah siapa itu di bajumu?” Seakan baru sadar, ia melihat bajunya. Di baju itu memang ada bercak darah, beberapa bercak darah. Ia melihat mata-mata orang yang mengerubunginya mulai berubah tajam. Ia merasa terancam. Perasaan itu membuat ia, dengan satu gerakan, melompat keluar dari kerumunan. Seseorang berteriak, seseorang yang lain mencoba menangkapnya. Tapi ia berhasil lolos. Tepat di bibir hutan, seseorang menghadangnya. Mereka bergumul. Ia berhasil melumpuhkan orang itu. Tapi orang itu sempat mengoyak pinggang kirinya dengan pisau. 

Darah yang keluar dari jaringan yang rusak akibat sayatan membuat matanya berkunang, jantungnya berdetak lebih cepat, dan seluruh tenaga yang dipikirnya masih ada tak bisa terpompa keluar. Tangan kanannya menekan luka di pinggangnya. Darah mengenai bajunya dan sebagian menetes ke tanah. Sekelilingnya sudah benar-benar gelap saat ia tak sanggup lagi melangkah.

Ia ambruk.

Sebelum kesadarannya benar-benar lenyap, ia mendengar suara auman menggetarkan tanah dan pepohonan.***

Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Buku-bukunya yang sudah terbit adalah kumpulan puisi Hikayat Lintah (2014), Rencana Berciuman (2015), Penangkar Bekisar (2015), dan Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (2017). Ia mengelola Komunitas Akarpohon di Mataram, Nusa Tenggara Barat.





































 







 
      

Cerita Pendek | Esai | Sajak | Catatan Akhir Pekan | Ranggi | Alinea | Buku |