Bapak Kepolisian Indonesia
Depan >> Budaya >> Buku >>
RESENSI BUKU
Bapak Kepolisian Indonesia
22 Oktober 2016 - 23.49 WIB > Dibaca 1816 kali
 
Sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia melibatkan seluruh pihak yang turut aktif untuk memerdekakan Republik Indonesia. Semua pihak bersatu padu atas dasar rasa cinta tanah air berbakti demi Ibu Pertiwi Indonesia. Salah satu pihak yang turut andil dalam sejarah Indonesia adalah dari kesatuan Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Polri turut serta aktif dalam menjaga dan melindungi kemerdekaan Indonesia pada saat negara ini baru berdiri. Salah satu tokoh besar dan legendaris dalam menjaga Republik Indonesia adalah Jenderal Polisi RS Soekanto Tjokrodiatmodjo. Sosok Soekanto menjadi figur luar biasa pada masa awal Indonesia berdiri dengan menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) dari tahun 1945-1959. Dalam sejarah Polri, Soekanto adalah Kapolri pertama sekaligus yang paling lama.

Buku ini menceritakan sosok sentral anak bangsa bernama Soekanto yang sangat mencintai Indonesia dan kepolisian. Rasa cintanya tersebut, ia lakukan dengan turut mengawal negara ini dengan turut serta dalam berbagai operasi untuk mengamankan daerah-daerah dari segala bentuk ancaman keamanan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Membangun kepolisian pada saat awal berdiri tentunya bukan perkara mudah. Namun, semua itu dapat dilalui Soekanto bersama kepolisian yang sangat ia cintai sehingga dapat dikatakan bahwa Soekanto merupakan peletak dasar bagi pondasi kepolisian Indonesia. Sebuah teladan bagi generasi muda Indonesia.

Buku yang sangat bagus ini merupakan karya dari Awaloedin Djamin dengan G Ambar Wulan. Nama Awaloedin Djamin terkenal sebagai Kapolri periode 1978-1982 dan sosok polisi dengan intelektualitas yang sangat tinggi sedangkan nama G Ambar Wulan terkenal sebagai akademisi yang malang melintang dalam sejarah kepolisian. Kombinasi antara Awaloedin dan Ambar Wulan menjadikan buku tebal yang nikmat ini sebagai sebuah mahakarya fenomenal yang mesti dimiliki oleh keluarga besar Kepolisian Republik Indonesia dan anak-anak muda Indonesia khususnya bagi mereka yang bercita-cita ingin menjadi polisi maupun polwan.

Bahasa yang digunakan pada buku ini memang menggunakan bahasa-bahasa yang melekat erat dengan kaidah-kaidah keilmuan dalam ranah akademis. Namun, hal itu bukanlah merupakan suatu hambatan malah bisa menjadi tantangan untuk dapat membaca buku ini sampai dengan tuntas. Maka, pada akhirnya kita semua paham dengan baik dan benar tentang kiprah Soekanto bagi Indonesia Raya.

Mahakarya dahsyat ini terdiri dari 8 bab. Kedelapan bab ini memiliki keterkaitan signifikan satu dengan yang lainnya. Bahkan, buku ini juga memiliki lampiran. Berbicara sejarah termasuk sejarah tokoh besar tentunya tak lepas dari peran arsip sejarah. Pada lampiran buku ini terdapat berbagai arsip yang berhubungan dengan Soekanto dan Polri terutama pada awal kemerdekaan Indonesia sehingga memori kolektif bangsa terhadap Polri dapat dijaga dengan sangat baik.

Salah satu sosok legendaris dalam kepolisian adalah Hoegeng. Tentang Soekanto, seniornya di kepolisian, Hoegeng berkomentar (hlm. 263), “Pak Kanto orang yang patut dicontoh. Dia meletakkan jiwa kepolisian, polisi harus jujur dan mengabdi kepada masyarakat. Jasa Soekanto di kepolisian sangat besar. Tanpa Pak Kanto, polisi sudah berantakan.” Sungguh sebuah pengakuan yang sangat pantas disematkan kepada Soekanto.

Akhirnya, kiprah panjang Soekanto dalam tubuh kepolisian Indonesia selalu mengalir jernih dan diingat oleh seluruh komponen anak bangsa Indonesia dari Sabang sampai dengan Merauke. Pengabdian dan keikhlasan yang Soekanto berikan kepada kepolisian Indonesia membuat ia pantas diberikan gelar prestisius yakni Bapak Kepolisian Indonesia. Hormat setinggi-tingginya kepada sosok anak bangsa bernama Soekanto Tjokrodiatmodjo!***

Jimmy Frismandana Kudo, guru Sejarah SMA Darma Yudha, Pekanbaru.

Cerita Pendek | Esai | Sajak | Catatan Akhir Pekan | Ranggi | Alinea | Buku |