Jarir Amrun
Anak Kampung
15 Agustus 2016 - 09.51 WIB > Dibaca 4870 kali
 
Sekolah itu asal katanya dari Bahasa Latin: Skhole, Scola, Scolae atau Skhola yang memiliki arti waktu luang atau waktu senggang. Artinya sekolah itu bukan lah sesuatu yang membuat anak didik pikirannya berat, tetapi dia mengisi luang atau senggang untuk kegiatan yang positif.

Namun realitasnya kini, bahwa sekolah itu menjadi sesuatu yang menakutkan bagi anak didik. Ada hafalan, mulai dari hafalan perkalian, rumus matematika, fisika, dan juga hafalan pelajaran agama. Kalau tidak hafal, maka anak didik dihukum.

Kini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memunculkan ide full day school. Sekolah penuh. Anak didik berada di sekolah mulai pukul 07.00 WIB sampai 17.00. Waktu yang panjang bagi anak berada di lokal atau sekolah. Konsep full day school ini dianggap solusi agar anak terhindar dari pengaruh negatif lingkungan. Sebab, banyak anak yang pulang sekolah pergi ke game atau bermain di warnet mulai dari siang sampai sore hari, ini dampaknya sangat buruk bagi anak. Selain itu, lingkungan perkotaan dianggap sesuatu yang membahayakan, makanya lebih baik anak-anak di sekolah daripada bermain di lingkungan yang membahayakan ini. Kalau ini alasannya memang bisa ita membenarkannya?

Lalu apakah anak berada di sekolah selama pagi sampai sore hari tidak membayakan bagai perkembangan sosial anak? Sebab, anak dijauhkan dari lingkungan yang sebenarnya.

Keterasingan dari lingkungan aslinya (lingkungan alami, bukan lingkungan sekolah yang dibangun seketika) ini tentu ada dampaknya bagi anak. Bukankah kecerdasan itu bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi anak harus memiliki kecerdasan sosial, emosional, yang mana kecerdasan itu diperolah setelah dia berinteraksi dengan teman-teman sebayanya di lingkungan sekitar.

Kita saksikan sendiri, banyak jenderal dan profesor itu lahir bukan dari lingkungan yang asing, tetapi dari lingkungan yang asli, yang berasal dari sekolah di desa. Sebab, lingkungan desa itu merupakan miniatur lingkungan nasional, makanya ketika dia besar, tidak lagi canggung berdebat, berdialog, membangun kerja sama, dengan teman-temannya. Lingkungan asli (pure) membentuk kecerdasan sosial anak. Nah kecerdasan sosial inilah yang menjadi modal besar bagi anak saat dewasa nanti.

Jika anak hanya dibekali kecerdasan intelektual, maka jangan heran, ribuan alumnus perguruan tinggi yang nilainya tinggi tetapi mereka tidak mendapat pekerjaan, karena kecerdasan sosialnya rendah. Mereka tidak mampu menggugah orang lain untuk simpati padanya, mereka tidak mampu membangun kepercayaan orang lain padanya. Kecerdasan sosial itu sangat penting bagi sukses tidaknya seseorang. Namun sayang, kita selama ini mengabaikannya, kita bangga dengan nilai anak di rapot 8 atau 9, tetapi kita mengabaikan kecerdasan sosialnya, kecerdasan emosionalnya.

Jangan biarkan generasi muda di negeri ini dikurung dalam lokal atau sekolah, dan mengasingkan mereka dari lingkungan asli (pure). Jika ini sampai terjadi, maka kecerdasan sosial mereka akan lemah, dan mereka terasing dari lingkungan aslinya. Mereka tercerabut dari lingkungan yang alami. Tidak tahu darimana asal pagi, tidak tahu bermain samber elang, gala bilun atau beragam permainan dengan rekan sebaya lainnya dalam bentuk kerja sama atau persaingan.

Memang full day school itu anak tidak disuruh belajar dari pagi sampai sore harinya. Ada jeda makan, belajar di halaman atau lapangan, ada edu trip, namun bagaimana pun rekayasanya, lingkungan yang dibentuk itu tidak bisa  mewakili lingkungan yang asli.

Sekali lagi, mari kita renungkan kembali apa baik buruknya. Apakah memang lingkungan kita sudah membayakan bagi anak, jika memang demikian, agaknya full day school ini memang solusi. Tapi kasian MDA, sepi.

Beruntunglah, anak kampung. Anda masih bisa bermain di sawah sambil menggembala kambing di sawah atau ladang. Menangkap ikan di sungai. Udara yang Anda hirup pun segar, tidak sesempit lingkungan full day school, satu hari penuh dalam pengawasan guru. Makanya di Jepang pendidikan di kampung itu mahal, masih pure (asli lingkungannya).***

Jarir Amrun (Redaktur Pelaksana Harian Riau Pos)

Cerita Pendek | Esai | Sajak | Catatan Akhir Pekan | Ranggi | Alinea | Buku |