Riaupos.co
12/12/2019
 
Panahan Berani Pasang Target Dua Emas

Panahan Berani Pasang Target Dua Emas
Jumat, 22 November 2019 - 08:57 WIB
 

JAKARTA (RIAUPOS.CO)  -- Pada SEA Games 2017 di Malaysia, skuad panahan Indonesia berhasil memborong empat emas. Pada SEA Games 2019 Filipina ini, target yang dipasang PP Perpani jauh lebih rendah. Yakni hanya dua emas. Ini menimbulkan pertanyaan. Sebab, para peraih emas dua tahun lalu juga terjun.

Skuad panahan Indonesia memang terdiri dari dua lapis pemain. Lapis pertama adalah para veteran SEA Games. Seperti Diananda Choirunisa dan Riau Ega Agatha Salsabila. Tapi, ada nama-nama baru juga. Dari 16 archer yang dikirim ke Filipina, enam di antaranya adalah debutan. Antara lain Asiefa Nur Haenza, Arif Dwi Pangestu, Ryan Rafi Adiputro, dan Yurike Nina Bonita.

Hal itu semestinya tidak dijadikan alasan target emas lebih rendah dari capaian tahun lalu. Pada 2017, Diananda meraih emas dari recurve individual putri serta mixed team bersama Ega. Dua emas lain berasal dari compound individual. Yakni atas nama Sri Ranti dan Prima Wisnu Wardhana. Pada edisi kali ini, hanya mixed team dan compound putra yang diharapkan mengulang prestasi. Padahal, semua peraih emas edisi 2017 kembali turun tahun ini.  

Namun, ada indikasi bahwa dua emas itu adalah target minimal yang dilaporkan ke pemerintah. Aslinya, Diananda dkk bisa meraih lebih dari itu. Menurut pelatih pelatnas Nurfitriyana Saiman, saat ini, persaingan sangat terbuka. Peluang meraih lebih dari dua emas sangat bisa terjadi. Bisa saja Diananda atau Riau menambah emas dari nomor individu. Begitu juga dengan tim compound.

"Ada peluang di semua nomor. Nanti tetap kami lakukan maintenance atlet untuk itu. Kami lihat hasil 2017 lalu, dan jalani saja," kata Yana, sapaan akrabnya. "Kalau lihat dari cuaca, Filipina juga tidak ada bedanya dengan di sini," lanjut dia, menyoal tingkat adaptasi para atletnya dengan venue di Filipina.

Pertama, dari nomor yang ditargetkan dulu. Recurve mixed team cukup bisa diandalkan. Terutama jika yang diterjunkan adalah Diananda dan Ega. Di Asian Games 2018, mereka memang hanya mencapai 16 besar. Namun, itu lebih bagus dari kebanyakan negara Asia Tenggara yang lain. Kita hanya kalah oleh Vietnam yang masuk babak delapan besar.

Sedangkan dalam Kejuaraan Dunia 2019 di Belanda Juni lalu, Indonesia gagal masuk babak knockout. Sebab, kita hanya finis di peringkat 34 saat kualifikasi. Namun, saat itu yang terjun adalah pasangan eksperimen. Ega dipasangkan dengan Linda Lestari. Hasilnya kurang maksimal.

Kedua, compound individual putra. Prima juga mencatat hasil kurang menggembirakan di Kejuaraan Dunia 2019. Dia menempati urutan ke-53 di kualifikasi. Namun, dia tumbang di babak pertama. Hasil itu lebih buruk dari para pesaing potensialnya di SEA Games 2019. Antara lain Paul Marton De La Cruz (Filipina), yang menembus babak kedua.

Prima mengakui, persaingan SEA Games kali ini bakal seru. Setiap negara sudah berkembang secara siginifikan. Dia juga bersaing ketat dengan M. Juwaidi Mazuki, anggota tim compound beregu Malaysia yang meraih perunggu Asian Games 2018. "Saya lihat negara lain lebih prepared daripada kami. Persaingan besok makin ketat karena banyak yang ikut pelatihan di level Asia," jelas Prima.

Bagaimana dengan peluang nomor lain, seperti recurve putri? Well, jika melihat hasil Asian Games 2018, Diananda adalah yang terbaik di Asia. Dia meraih perak. Hanya kalah oleh pemanah Tiongkok di final. Namun, jika melihat peta dari Kejuaraan Dunia 2019, dia harus berhati-hati. Pemanah asal Surabaya, Jawa Timur itu, hanya menempati posisi ke-117 di kualifikasi.

Dia kalah jauh oleh Nguyen Thi Phuong (Vietnam) dan Kareel Meer Hongitan (Filipina) yang menembus babak ketiga. Memang, hasil kejuaraan dunia tidak bisa dijadikan ukuran. Karena tim Indonesia mengalami banyak masalah saat latihan. Anginnya juga berbeda. Sementara di Filipina nanti, kondisi tim sudah lebih baik. "Insya Allah tetap ditarget emas untuk Diananda juga," kata Yana.

Di Filipina, Indonesia punya cukup banyak pesaing. Mulai dari Malaysia, Filipina, Thailand hingga Vietnam, semua kuat. "Panahan itu tantangannya diri sendiri. Harus bisa mempertajam dan memperkuat diri sendiri dan daya tahan selama bertanding. Kalau teknik, saya kira tidak banyak berubah. Hanya harus lebih yakin," kata peraih perak Olimpiade Seoul 1988 itu.(gil/na/jpg)




Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video | Kampar | Rokan Hulu | Rokan Hilir | Siak | Bengkalis | Dumai | Kepulauan Meranti | Indragiri Hilir | Indragiri Hulu | Pelalawan | Kuantan Singingi | Kick Out Hoax |