Riaupos.co
19/11/2019
 
Mengenal Sinusitis
internet

DR. HIDAYATUL FITRIA, SP.THT-KL
Mengenal Sinusitis
Minggu, 27 Oktober 2019 - 10:08 WIB
 

(RIAUPOS.CO) -- Pernah mengenal istilah sinusitis?  Eits,  tunggu dulu,  apa iya setiap kita punya sinus. Sering orang datang ke dokter dan mengaku sebagai penderita sinus.  Sebenarnya apa sih, sinusitis? Sinusitis merupakan peradangan dan infeksi di ruang sinus. Sementara  sinus itu sendiri adalah rongga-rongga di wajah kita.

Rongga yang ada di kepala bagian depan. Ada beberapa sinus di wajah kita. Sepasang rongga di pipi disebut sinus maksila. Dibelakang batang hidung ada dua rongga yaitu sinus etmoidalis. Pada dahi ada rongga sepasang juga disebut sinus frontalis. Dan terakhir rongga yang terdapat di belakang hidung paling belakang, sinus sphenoidalis. Di antara kelimanya,  sinus maksila merupakan yang terbesar volumenya. Bagian sinus ini pulalah yang sering mengalami infeksi. Infeksi pada sinus maksila dapat meluas ke bagian sinus lainnya.

Rongga sinus ini dilapisi mukosa yang menghasilkan lendir. Lendir ini dikeluarkan ke muara sinus setiap saat yang terdapat di dinding lateral hidung. Kemudian lendir itu akan dialirkan ke belakang hidung yaitu nasofaring, diteruskan ke tenggorok. Hal ini secara normal terus terjadi di tubuh kita sehingga lendir yang turun di tenggorok tersebut sering tidak terasa. Secara detil menurut muaranya, sinus dikelompokan atas dua. Kelompok sinus bagian depan muaranya di bagian depan yaitu meatus media. Sementara kelompok belakang bermuara ke meatus superior

Sinusitis adalah peradangan di rongga sinus yang membuat lendir dihasilkan berwarna kuning kental sampai kehijauan. Karena dikelurkan ke hidung, sehingga ingus berwarna kuning atau hijau. Biasanya sangat kental. Begitu kentalnya sehingga kadang begitu sulit untuk dikeluarkan. Penyebab terjadinya sinusitis karena sumbatan pada muara sinus ke hidung. Penyumbatan ini diakibatkan oleh banyak hal. Di antaranya rinitis alergi. Suatu kondisi di mana sering terjadi bersin-bersin  bila terkena dingin atau debu. Bisa juga dengan hidung tersumbat, hidung gatal dan diikuti gatal di daerah mata. Ingus encer seperti air atau putih. Hal inilah yang acapkali dihakimi sebagai sinusitis. Proses peradangan yang berulang karena alergi ini menyebabkan struktur dalam hidung bengkak. Kondisi ini berlansung lama. Akibatnya muara sinus tertutup, sehingga lendir di sinus tidak lancar keluar. Lendir yang tertahan dan tidak lancar keluar media yang baik untuk berkembangnya bakteri. Terjadilah sinusitis.

Pilek yang lama tidak sembuh, juga sering menyebabkan terjadinya sinusitis. Sering orang abai akan hal ini. Bila menderita flu yang sudah lebih satu minggu,  waspadalah sebagai gejala sinusitis. Adanya tumor di hidung seperti polip, papiloma inverted dan kanker nasofaring juga dapat mencetuskan sinusitis. Tumor ini menutup muara sinus yang ada di hidung. Polip merupakan jaringan yang tidak normal,  tumbuh dalam rongga hidung.  Warnanya putih keabuan dan mengkilat. Keluhan tersering yang dirasakan penderita berupa hidung tersumbat. Pada polip yang besar disertai dengan ingus kadang bercampur darah. Hampir sama dengan polip, papiloma inverted juga begitu. Bedanya papiloma inverted ini merupakan pre kanker. Secara kasat mata kadang sulit dibedakan dengan polip. Hasil pemeriksaan laboratorium patologi anatomi yang dapat membedakannya.

 Penyakit lain adalah tumor nasofaring. Lebih tepatnya kanker nasofaring, karena proses keganasan yang lebih umum terjadi pada area ini. Sering ditemukan ketika penderita datang ke dokter dengan keluhan ingus berwarna kekuningan dan sakit kepala. Namun sebenarnya, kanker nasofaring punya gejala khas tersendiri. Bermula dari nyeri atau rasa tersumbat pada telinga satu sisi berlansung lebih satu bulan. Setelah itu diikuti hidung tersumbat, hidung berdarah,  bengkak pada leher dan pandangan ganda.

Pada anak-anak yang perlu mendapat perhatian amandel yang besar. Amandel tidak saja yang terlihat saat buka mulut,  ada amandel yang terletak di hidung belakang, disebut dengan adenoid. Amandel yang besar,  juga menganggu drainase sinus.  Anak- anak dengan amandel besar cendrung tidur dengan mulut terbuka.  Pada tingkat yang berat anak akan tidur mendengkur,  bahkan disertai hadirnya dengan periode henti nafas. Saat tidur ada masa dimana anak seperti kehausan udara, kemudian terlelap kembali.

Terakhir penyebab sinusitis adalah kelainan anatomi di hidung seperti hipertrofi konka dan septum deviasi. Hipertrofi konka yaitu pembesaran salah satu komponen yang ada di rongga hidung. Tampak seperti daging tumbuh, namun bukan suatu tumor. Merupakan jaringan normal yang salah satu fungsinya mengatur kelembaban. Biasanya konka ini membesar pada penderita rinitis alergi yang lama. Kondisi inilah yamg disebut dengam OSAS (Obstructive Sleep Apnea Syndrome).

Nah,  bagaimana dengan septum deviasi? Septum merupakan sekat pembatas rongga hidung kanan dan kiri. Terdiri dari tulang rawan dan tulang kompak. Septum deviasi merupakan kondisi di mana pembatas hidung bengkok atau tidak lurus akibat adanya struktur yang berlebih secara anatomi. Bisa yang berlebih tersebut komponen tulang atau tulang rawan.  Di sisi lain, memang kondisi tulang rawan yang menempati posisinya dengan melengkung. Hal ini membuat rongga hidung menjadi sempit sehingga aliran sinus terganggu. Penyebab deviasi septum biasanya trauma atau bawaan lahir.

Adapun keluhan yang dirasakan penderita sinusitis yaitu ingus kental warna kuning sampai kehijauan. Hidung kadang berbau. Terasa berat di pipi atau dahi atau dekat mata yang terasa makin kuat bila menunduk atau sujud. Hidung tersumbat dan terasa ada lendir yang turun dari tenggorok atas. Lendir yang turun di tenggorok atas ini disebut PND (post nasal drip) yang biasanya paling banyak saat pagi bangun tidur.

Secara umum serangan sinusitis dapat akut ataupun kronik. Pada yang akut, penderita merasa nyeri di kepala, pipi atau dahi disertai hidung tersumbat, ingus kental kuning kehijauan. Pada yang kronik, biasanya tidak ada nyeri, hanya terasa dahak turun di tenggorok.

Apakah sinusitis dapat disembuhkan? Pengobatan utama sinusitis adalah dengan obat-obatan. Terapi obat yang digunakan memiliki prinsip ‘maksimal medikal terapi. Operasi adalah pilihan terakhir bila dengan obat tidak ada respon kecuali ada kelainan anatomi.  Ada dua teknik operasi yaitu operasi irigasi atau cuci sinus dan BSEF (bedah sinus endoskopi fungsional). BSEF operasi canggih yang minimal invasif dan biasanya sinusitis sangat jarang akan berulang lagi. Berbeda dengan cuci sinus, kekambuhan lebih tinggi.

Apa akibat yang ditimbulkan oleh sinusitis bila tidak diobati? Akan timbul infeksi di sekitar mata, bisul di area mata sampai kebutaan. Bila infeksi meluas ke otak terjadi kejang dan penurunan kesadaran. Dapat terjadi infeksi tulang (osteomielitis) sampai tumor pott puffy (benjolan di daerah  dahi). Komplikasi sering terjadi karena penderita abai dengan keluhan yang dialami,  menolak berkonsultasi dengan dokter dsb.

Mengingat komplikasi sinusitis, maka jangan anggap remeh gejala ini. Segera berobat bila ada keluhan.***

Sumber: dr. Hidayatul Fitria, Sp.THT-KL
Laporan Muslim Nurdin, Pekanbaru

 




Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video | Kampar | Rokan Hulu | Rokan Hilir | Siak | Bengkalis | Dumai | Kepulauan Meranti | Indragiri Hilir | Indragiri Hulu | Pelalawan | Kuantan Singingi |