Riaupos.co
14/11/2019
 
Viral Video Angin Puyuh, Warga Kota Batam Berlarian
ILUSTRASI: Seorang siswa SDN 006 Teluk Mata Ikan, Nongsa berlari setelah diminta gurunya untuk pulang ke rumah saat terjadi waterspout. (Istimewa)

Viral Video Angin Puyuh, Warga Kota Batam Berlarian
Minggu, 06 Oktober 2019 - 13:22 WIB
 

BATAM (RIAUPOS.CO) - Fenomena sengkayan atau air berputar yang terangkat ke atas oleh angin puyuh (waterspout) terlihat di Perairan Teluk Mata Ikan, Nongsa, Jumat (4/10/2019). Waterspout berbentuk belalai awan atau awan yang berbentuk corong yang terhubung dengan awan pekat comulonimbus.

Secara umum, waterspout disebut sebuah tornado non supersel di atas air. Warga Batubesar, Nongsa mengira penampakan sengkayan adalah angin puting beliung sehingga sempat menimbulkan kepanikan. Bahkan, sebagian murid SDN 006 Nongsa, terlihat berlarian karena takut dengan feno­mena tersebut.

Kepala SDN 006 Nongsa, Djali Marwan, mengatakan, pihaknya memulangkan siswanya akibat melihat fenomena ini.

”Saat itu sedang PBM (Proses Belajar Mengajar),” katanya, Jumat (4/10/2019).

Begitu fenomena cuaca ini terlihat, ia berinisiatif memulangkan anak didiknya.

”Pukul 11.00 sudah balik, saya sudah koordinasi dengan Sekretaris Dinas (Pendidikan),” ungkapnya.

Dari penelusuran yang dilakukan kepolisian, kejadian diperkirakan pukul 10.25 WIB. Kanit Reserse Polsek Nongsa, Iptu Yustinus Halawa menuturkan, waterspout itu mulai terlihat di depan perairan Nongsa Village.

Namun, setelah satu jam angin tersebut hilang dengan sendirinya. ”Tidak sampai ke daratan. Hilang di tengah laut,” ucapnya.

Ia mengaku, begitu mendengar ada informasi tersebut, segera turun dan memantau kondisi di lapangan. ”Hingga kini (kemarin, red), kami tidak mendapatkan laporan kerusakan atau kerugian dari masyarakat,” tuturnya.

Forecaster Stasiun Meteorologi (Stamet) Hang Nadim Batam, Riza Juniarti, melihat fenomena cuaca tersebut bukanlah angin puting beliung. Karena, dari pantauan radar Stamet Hang Nadim, tidak terpantau adanya puting beliung.

Menurutnya, angin puting beliung tidak bisa diprediksi, tapi bisa terpantau aktivitasnya setengah jam sebelum kemunculannya.

”Kalau melihat videonya itu, itu yang seperti belalai itu funnel cloud. Dari video itu sepertinya letaknya jauh, kemungkinan kejadiannya di laut. Lebih mengarah ke waterspout,” ujarnya.

Ia menjelaskan, belalai awan yang terjadi di darat dinama­kan funnel cloud (awal terjadinya tornado).

Jika kejadian di laut dinamakan waterspout. Ia mengatakan, kejadian seperti ini sering terjadi saat peralihan cuaca.

Batam, kata Riza, memasuki peralihan cuaca. Ia berharap masyarakat selalu berhati-hati dengan perubahan cuaca secara mendadak.

”Waspada akan bahaya dan dampak dari awan comulonimbus,” pungkasnya.

Sumber: Batampos.co.id

Editor: E Sulaiman




Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video | Kampar | Rokan Hulu | Rokan Hilir | Siak | Bengkalis | Dumai | Kepulauan Meranti | Indragiri Hilir | Indragiri Hulu | Pelalawan | Kuantan Singingi |