Riaupos.co
08/12/2019
 
 Berawal dari Juru Masak hingga Pengusaha Tempe
Ayi Mustofa menjalankan tugasnya di Daker Makkah (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)

KISAH MUKIMIN PETUGAS HAJI
Berawal dari Juru Masak hingga Pengusaha Tempe
Minggu, 08 September 2019 - 15:19 WIB
 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Selalu tampil santai dan murah senyum. Begitulah keseharian Ayi Mustofa. Pria kelahiran Cianjur, 12 Desember 1976 itu adalah salah satu mukimin yang menjadi petugas Haji 2019. Tugasnya menjadi driver personel Media Center Haji (MCH) 2019 Daerah Kerja (Daker) Makkah.

Mukimin adalah sebutan bagi warga negara Indonesia (WNI) yang sudah menetap atau tinggal di Arab Saudi. Suami dari Siti Aisyah itu mengatakan mulai merantau ke Arab Saudi sejak 2002 lalu. “Di Cianjur sebelumnya saja jualan beras,” katanya.

Mustofa lantas bertekad ke Arab Saudi untuk bekerja sebagai TKI. Dia ingin mengikuti jejak kedua orang tuanya, H Eman Sulaiman dan Hj Halimah, yang juga merantau di Arab Saudi. Dia menceritakan sudah ditinggal kedua orang tuanya merantau bekerja ke Arab Saudi sejak kecil.

“Awalnya saya kerja di sebuah restoran di Dammam,” kata bapak lima orang anak itu. Di restoran tersebut, Mustofa bekerja sebagai juru masak. Setelah cukup lama bekerja di Arab Saudi, pada 2014 lalu dia mengajak istrinya ikut merantau.

Setelah banyak pengalaman di restoran, pada 2017 Mustofa banting setir. Dia tidak lagi bekerja sebagai juru masak. Mustofa memilih berusaha sendiri. Sejak saat itu sampai sekarang, Mustofa membuka usaha pengolahan kedelai menjadi tempe dan tahu.

“Awalnya (membuat tempe, Red) untuk mengisi kegiatan saja,” katanya merendah. Kemudian usaha pembuatan tahu dan tempenya semakin besar. Dia bekerja sama dengan sejumlah perusahaan katering penyedia konsumsi untuk jamaah haji dan umrah.

Mustofa menjadi pemasok tempe dan tahu ke katering. Pada hari-hari biasa, dia bisa menghabiskan 30 kg kedelai. Kedelai itu diolah menjadi 150 bungkus tempe. Setiap bungkus dia jual 4 riyal atau sekitar Rp 16 ribu. Sehingga dalam sehari omset Mustofa sekitar Rp 2,4 juta.

Sementara pada musim haji, produksi tempenya naik empat kali lipat. Dalam sehari Mustofa mengolah kedelai hingga 1,2 kwintal. Dia menjelaskan olahan tempenya ada yang dibuat menjadi orek tempe, tempe bacem, atau olahan lainnya. Olahan dari tempe cukup digemari para jamaah haji Indonesia. Sebab mereka pasti kangen masakan cita rasa tanah air selama tinggal di Makkah.

Mustofa mengatakan sebuah anugerah besar dirinya bisa terlibat sebagai petugas haji. “Bertugas di tanah suci. Melayani tamu Allah. Secara batin ini adalah tugas yang paling wah,” katanya. Dia memiliki prinsip bahwa dimanapun berada harus bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

Dia selalu memaknai tugasnya sebagai sebuah ibadah. Selama menjalankan tugas, Mustofa selalu memegang komitmen sebaik-baiknya. Pada musim haji 2018 lalu, dia juga bertugas sebagai driver MCH Daker Makkah.

Suatu saat Mustofa membawakan olahan tahu bulat kemasan buatannya. Terdiri dari enam biji disertai cabe seukuran jari telunjuk. Awalnya tahu bulat produksinya agak keras. Tapi keesokan harinya, tahu bulat yang dia buat terasa empuk. Mirip tahu bulat di tanah air yang digoreng dadakan.

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwir




Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video | Kampar | Rokan Hulu | Rokan Hilir | Siak | Bengkalis | Dumai | Kepulauan Meranti | Indragiri Hilir | Indragiri Hulu | Pelalawan | Kuantan Singingi | Kick Out Hoax |