Riaupos.co
12/12/2019
 

Ekspor-Investasi Bakal Melaju
Minggu, 21 Juli 2019 - 11:55 WIB
 
MEDAN (RIAUPOS.CO) -- Pemangkasan suku bunga acuan 25 basis points (bps) menjadi 5,75 persen diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi yang agak tersendat. Pada kuartal I, ekonomi hanya tumbuh 5,07 persen gara-gara seretnya kinerja ekspor dan investasi.

"Penurunan suku bunga acuan akan memberikan dampak positif pada kinerja ekspor. Biaya borrowing dari perbankan lebih murah, lending perbankan menjadi lebih baik," jelas Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo seperti diberitakan JPG,  kemarin (20/7).

Dody melanjutkan, ekspansi dari perbankan itu akan memberikan gambaran bahwa kegiatan ekspor menjadi lebih baik. Selama ini merosotnya kinerja ekspor domestik tidak terlepas dari dampak trade war antardua raksasa ekonomi, AS dan Tiongkok. "Dengan turunnya ekspor, konsumsi pasti tertahan," tambahnya.

Perlambatan ekspor juga berdampak kepada menurunnya investasi. Padahal, komponen tersebut selalu diandalkan untuk memacu pertumbuhan. Karena itu, pemerintah harus segera melakukan mitigasi sehingga pertumbuhan ekonomi tahun ini tetap terkendali. "Salah satunya, spending (belanja) pemerintah dinaikkan," imbuhnya.

Founder dan Direktur Eksekutif CORE Indonesia Hendri Saparini menambahkan, pihaknya memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini cukup sulit menembus angka 5,2 persen. "Dalam kondisi seperti ini (ketidakpastian global dan ekspor negatif), 5,2 persen itu tidak mungkin," ungkapnya.

Menurut Hendri, ada sejumlah faktor yang memengaruhi. Di antaranya, momentum Lebaran dan pemilu ternyata tidak mampu mendongkrak pertumbuhan pada kuartal I dan II. Pemilu juga tidak lagi mendorong konsumsi pemerintah dan rumah tangga.

Sebab, telah terjadi pergeseran belanja pemilu yang tidak lagi mengandalkan belanja fisik. "Bukan lagi belanja makanan, tekstil, atau cetak kaus. Tetapi, semua sudah serbadigital, cukup beli paket (data) sudah bisa jadi media kampanye," katanya.

Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengungkapkan, suku bunga kredit bisa segera turun sehingga pelaku usaha mendapat kepastian kemudahan pembiayaan. "Cost of fund rendah, pertumbuhan ekonomi akan bergairah. Selain itu, pemilu sudah selesai sehingga dunia usaha lebih bisa bertindak mengambil keputusan," ujarnya.

Namun, ke depan ruang perubahan suku bunga acuan bakal sempit. Apakah masih ada ruang untuk penurunan lanjutan, menurut Ryan, semua itu bergantung kepada kondisi perekonomian global. Terutama apakah tensi perang dagang bakal mereda atau sebaliknya.

Ekonom DBS Masyita Crystallin menilai, inflasi ke depan akan rendah. Sepanjang 2019, dia memperkirakan inflasi bakal berada di level 3,2 persen. Hal itu yang mendorong BI menurunkan suku bunga acuan.(jpg)

Editor: Eko Faizin



Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video | Kampar | Rokan Hulu | Rokan Hilir | Siak | Bengkalis | Dumai | Kepulauan Meranti | Indragiri Hilir | Indragiri Hulu | Pelalawan | Kuantan Singingi | Kick Out Hoax |