Riaupos.co
22/09/2019
 

OTT KPK
Duit Suap untuk Pulang Kampung
Rabu, 29 Mei 2019 - 12:19 WIB
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali membongkar praktik suap untuk keperluan Idulfitri. Praktik culas itu diungkap melalui operasi tangkap tangan (OTT) di Kantor Imigrasi Klas 1 Mataram pada Senin (27/5) lalu. Nilai transaksi yang terendus dalam dugaan suap itu cukup fantastis, yakni sebesar Rp1,2 miliar.

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menjelaskan, dari OTT pihaknya mengamankan tiga orang. Mereka adalah Kepala Kantor Imigrasi (Kakanim) Kelas I Mataram Kurniadie, Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Kanim Klas 1 Mataram Yusriansyah Fazrin serta Direktur PT Wisata Bahagia Liliana Hidayat. Ketiganya kini ditetapkan sebagai tersangka.

Perkara tersebut bermula dari dua warga negara asing (WNA) BGW dan MK yang diduga menyalahgunakan izin tinggal. Dua WNA tersebut diketahui bekerja di perusahaan Liliana.

Liliana diduga mencari cara agar proses keimigrasian itu tidak berlanjut. Dia pun diduga melobi petugas imigrasi. Namun, Yusriansyah malah menerbitkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tertanggal 22 Mei dan meminta Liliana mengambilnya. ”Permintaan pengambilan SPDP ini diduga sebagai kode untuk menaikkan harga (tawar, red),” ungkap Alex, Selasa (28/5).

Berikutnya, Liliana menawarkan uang sebesar Rp300 juta untuk menghentikan kasus itu. Namun, Yusriansyah menolak karena jumlahnya terlalu sedikit. Selanjutnya, Yusriansyah berkoordinasi dengan atasannya Kurniadie terkait dengan perkara itu.

Setelah pertemuan itu, Liliana diminta menuliskan tawaran di atas kertas dengan kode tertentu tanpa berbicara dengan Yusriansyah dan Kurniadie. Kemudian, Yusriansyah melaporkan tawaran itu kepada Kurniadie untuk mendapat arahan dan persetujuan. Hingga akhirnya disepakati Rp1,2 miliar.

Pada Senin (27/5), tim KPK mengamankan Yusriansyah dan salah seorang PPNS Imigrasi di sebuah hotel di Mataram. Menurut Alex, penyerahan uang Rp1,2 miliar dari Liliana kepada petugas imigrasi juga tidak biasa. Yakni, uang yang dikemas dalam tas kresek itu dibuang ke dalam tong sampah di depan ruangan Yusriansyah. Uang itu lalu diambil dan sebesar Rp800 juta diserahkan kepada Kurniadie. Dia kemudian meminta anak buahnya untuk menyetorkan Rp340 juta ke rekeningnya. Sedangkan sisanya akan diperuntukan untuk pihak lain. ”Teridentifikasi salah satu komunikasi dalam perkara ini, yaitu ‘makasih, buat pulkam,” papar Alex.(tyo/git/jpg)


Editor: Eko Faizin



Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video | Kampar | Rokan Hulu | Rokan Hilir | Siak | Bengkalis | Dumai | Kepulauan Meranti | Indragiri Hilir | Indragiri Hulu | Pelalawan | Kuantan Singingi |