Riaupos.co
22/09/2019
 
Pukulan Berat Bagi Huawei
Ilustrasi-Huawei (int)

BUNTUT KEBIJAKAN PRESIDEN AS
Pukulan Berat Bagi Huawei
Selasa, 21 Mei 2019 - 15:18 WIB
 
WASHINGTON (RIAUPOS.CO) - Huawei baru saja menerima pukulan berat. Berbagai perusahaan teknologi asal AS mulai memutus tali hubungan dengan perusahaan telekomunikasi asal Tiongkok tersebut. Itu adalah buntut dari perintah Presiden AS Donald Trump untuk menutup semua akses teknologi terhadap raksasa teknologi tersebut.

Pukulan terberat datang dari Google. Pemilik sistem operasi Android itu baru saja mengumumkan akhir kerja sama mereka dengan produsen ponsel terbesar kedua di dunia itu.

Mereka menegaskan bahwa itu adalah bentuk ketaatan perusahaan terhadap pembuat kebijakan di Negeri Paman Sam. ’’Kami sedang meninjau dampak apa saja yang akan timbul,’’ ujar juru bicara Google kepada Agence France-Presse.

Keputusan tersebut membuat ponsel Huawei kehilangan daya saing. Perusahaan yang didirikan Ren Zhengfei itu tak bisa lagi memasukkan platform Android rilisan terbaru ke produk mereka. Padahal, Android merupakan penguasa pasar sistem operasi ponsel pintar. Jauh mengalahkan iOS milik Apple maupun Windows Mobile milik Microsoft.

’’Kami pastikan bahwa pengguna Android yang telanjur memilih ponsel Huawei tak akan terkena masalah. Mereka masih akan mendapatkan jasa Google Play dan Google Play Protect,’’ tegas Google melalui akun Twitter @android.


Pernyataan Google punya pesan tersirat. Yakni, penggemar Android tak lagi dianjurkan membeli ponsel milik Huawei. Sebab, ponsel Huawei ke depan tak lagi punya aplikasi-aplikasi yang akrab dijumpai di sistem Android. Misalnya, Google Maps, Gmail, atau Google Play Store.

Sebenarnya, Huawei masih diperbolehkan menggunakan Android. Namun, hanya versi open source. Versi itu tersedia gratis bagi semua pihak. Banyak fitur yang disunat Google. Salah satu yang terpenting fitur pembaruan keamanan dan aplikasi.

Apakah Huawei bisa bertahan? Tentu bisa. Di Tiongkok, aplikasi seperti Gmail, YouTube, dan Google Maps sudah lama diblokir. Mereka digantikan WeChat atau Baidu Maps. Masalahnya, setengah dari penjualan ponsel Huawei berada di luar Tiongkok. Karena itu, pertumbuhan perusahaan yang bermarkas di Shenzhen, Guangdong, tersebut bakal terhambat.

Huawei mengaku sudah menyiapkan rencana cadangan. Richard Yu, pimpinan divisi konsumen, menga-takan bahwa perusahaannya sudah lama memprediksi pemblokiran itu. Mereka sudah lama menimbun chip ponsel jika memang pasokan terhenti sementara. ’’Ada sistem operasi jika situasi tak terduga benar terjadi,’’ ungkapnya menurut The Guardian. (bil/c19/dos)

Sumber: JPNN.com    
Editor: Deslina




Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video | Kampar | Rokan Hulu | Rokan Hilir | Siak | Bengkalis | Dumai | Kepulauan Meranti | Indragiri Hilir | Indragiri Hulu | Pelalawan | Kuantan Singingi |