Riaupos.co
13/11/2019
 
Puasa: Nikmat Dekat pada Allah

OLEH H MUHAMMAD IKHSAN - DOSEN PASCASARJANA UNIVERSITAS RIAU
Puasa: Nikmat Dekat pada Allah
Selasa, 14 Mei 2019 - 13:35 WIB
 
SURGA dibuat oleh Allah untuk memberikan kenikmatan kepada hamba-Nya yang telah lulus ujian di dunia karena amal solehnya dan ridho-Nya. Puncak kenikmatan adalah di surga. Di surga, semua kenikmatan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Nikmat makanan, minuman, kendaraan, perhiasan, bahkan seksual pun dibuat berlipat-lipat oleh Allah.

Meskipun demikian, ada satu nikmat sebagai penyempurna dari semua nikmat-nikmat di surga tersebut, yaitu nikmat untuk bisa melihat wajah Allah. Maknanya adalah kenikmatan yang utama adalah kenikmatan untuk bisa dekat kepada Allah SWT.

Hubungan antara Allah sebagai Sang Pencipta dan manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya membuat ketergantungan yang sangat tinggi dari manusia kepada Sang Khaliq. Bukan hanya tergantung atas rezeki dan sumber daya yang harus disediakan Sang Khaliq, tetapi juga ketergantungan atas rasa kenyamanan di hatinya. Karena manusia ini juga memiliki unsur jiwa di dalam dirinya. 

Allah SWT dengan manis menyatakan bahwa: hanya dengan mengingat Allah lah hati manusia ini menjadi tenang.  Itu adalah ketergantungan hati manusia pada Allah. Hati yang tenang adalah karena selalu mengingat Allah. Maknanya adalah hati yang selalu dekat kepada Allah. Inilah kunci kebahagiaan sesungguhnya, meskipun tidak banyak orang yang sadar.

Betapa banyak orang yang terkecoh dalam mencari ketenangan hati dan kebahagiaan hidup ini. Banyak penguasa, artis, miliuner, dan orang terkenal lainnya yang tidak tenang hatinya sehingga sulit mendapatkan kebahagiaan di dalam hidupnya. Ketenaran, harta, fans yang banyak, bahkan kekuasaan yang dimiliki tidak serta merta membuat orang bahagia dan tenang hatinya. Banyak di antara mereka yang memakai obat tidur, minuman keras, dan narkoba untuk menenangkan dirinya. Sebagian menghabiskan uangnya dengan berjalan-jalan dan pergi ke tempat hiburan, pub, dan komunitas-komunitas penggembira lainnya. Sementara ketenangan hati tidak jua didapatkan.

Rangkaian perintah dalam bentuk ibadah yang dilaksanakan oleh seorang muslim, sesungguhnya merupakan sarana baginya untuk mendapat kenikmatan dan ketenangan hati.  Karena dengan ibadah lah maka terjalin hubungan kedekatan hati yang berujung pada kebahagiaan yang tidak bisa disebutkan seperti apa rasanya.  Hubungan spesial antara Sang Khaliq dan makhluknya.  Hubungan ini menimbulkan sifat ketergantungan manusia kepada Allah, kerinduan, kesyahduan, kepasrahan, tawakal, harapan, bahkan kekuatan, dan kebaikan akhlak. Kedekatan kepada Allah ini berimbas kepada sifat-sifat positif lainnya berupa amal sholeh dan kebaikan sosial lainnya yang diajarkan oleh Allah lewat agama Islam ini.  Orang yang dekat kepada Rabbnya biasanya memiliki akhlaq yang baik dan amal sholeh yang banyak pula, sebagai wujud kecintaannya kepada Rabbnya. Hal ini akan berimbas kepada kebahagiaan hidupnya secara keseluruhan dan kesuksesan-kesuksesan lainnya.

Puasa adalah sarana untuk mendekat kepada Allah lebih baik. La’alla kum tattaqun… supaya menjadi takwa, menjadi dekat kepada Allah. Menahan lapar, haus, syahwat, mengantuk, diiringi dengan ibadah yang meningkat kualitas dan kuantitasnya, serta menahan emosi, dan perbuatan tercela lainnya adalah pengorbanan sekaligus bentuk keseriusan orang yang berpuasa untuk taat kepada Allah, dan kemudian dipersembahkannya upayanya itu kepada Allah. Bentuk ketaatan makhluk kepada Sang Khaliq inilah yang membuat kedekatan itu terjalin dan akhirnya mengundang berkah dan kasih sayang Allah berupa hidayah, perasaan tenang dan bahagia yang sesungguhnya merupakan karunia Allah semata.

Allah SWT berfirman di dalam hadits qudsi:  “Tidaklah hambaKu mendekat kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. HambaKu tidak henti-hentinya mendekat kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepadaKu, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaKu, Aku pasti melindunginya.”

Sungguh hadits qudsi di atas menunjukkan kepadanya kita, bahwa kedekatan kita kepada Allah lewat ibadah-ibadah kita, terutama di dalam Ramadan ini, menjadi sarana pembiasaan bagi kita untuk bisa berdekat-dekat kepada Allah, sehingga semua keputusan dan perbuatan ini dibimbing, dibantu, dan dilindungi oleh Allah SWT.  Amien…***



Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video | Kampar | Rokan Hulu | Rokan Hilir | Siak | Bengkalis | Dumai | Kepulauan Meranti | Indragiri Hilir | Indragiri Hulu | Pelalawan | Kuantan Singingi |