Riaupos.co
13/11/2019
 
Bulan Tawaduk

OLEH: H SAMSUL NIZAR - KETUA STAIN BENGKALIS
Bulan Tawaduk
Kamis, 09 Mei 2019 - 10:33 WIB
 
ALHAMDULILLAH wa syukrillah.. Marhaban yaa Ramadan 1440 H. Begitu sayangnya Allah pada hamba dengan memberikan 1 bulan istimewa melebihi seribu bulan. Bulan pengampunan, dan bulan edukasi totalitas kemanusiaan hamba.

Persoalannya, apakah manusia mampu menggunakan Ramadan dengan bijak dan benar. Sungguh, di era milenial 4.0 tren modern, umat sangat intens membangun atribut agama dalam semua dimensi. Namun, atribut agama yang dipakai ada kalanya dalam dimensi sempit sesuai kebenaran yang ditanamkan oleh komunitas (terbatas).

Bila hanya tataran intern, paham tersebut tidak menimbulkan masalah. Namun bila memahami kebenaran hanya milik komunitasnya dan di luar komunitas adalah paham yang salah, maka hal ini akan mengundang konflik yang sulit diselesaikan.

Ramadan dengan seluruh dimensi keagungannya, menjadi media membangun dimensi kehambaan dan kemanusiaan.

Dalam dimensi kehambaan, Ramadan melatih manusia untuk senantiasa menghadirkan Allah dalam setiap gerak nadinya. Meski manusia tak melihat, namun iman menyatakan hadirnya pengawasan Allah dalam kehidupan. Bukti nyata hadirnya keimanan ini tatkala manusia mempertahankan puasanya meski dalam keadaan sendiri. Melalui latihan ini, lahir sosok hamba yang hanif sesungguhnya.

Adapun dalam dimensi kemanusiaan, Ramadan melatih manusia menjadi sosok yang tawaduk. Sebab, puasa pencerminan perasaan peduli pada sesama. Bagaimana rasa haus dan lapar mendera para dhuafa. Ada yang memahami makna dimensi ini dalam batas teks dengan memperbanyak sedekah pada fakir miskin, namun belum banyak memahami dalam makna kontekstual. Dalam makna lebih luas, Ramadan melatih terbangunnya watak pribadi kehambaan dan kemakhlukan. Dimensi ini melahirkan hamba yang membawa kebajikan pada seluruh alam semesta. Pribadinya senantiasa tunduk pada Allah dan tawaduk pada sesamanya.

Ramadan menghadirkan sejuta kebajikan. Kebajikan yang hadir selama Ramadan merupakan bentuk cinta dan motivasi Allah pada hamba-Nya.  Namun, bagi hamba yang telah terbangun karakter Ramadan sebagai ruh kepribadiannya, maka berbagai amalan yang dilakukan selama Ramadan tak pernah dihitung dalam transaksi ekonomi (keuntungan dan pahala), tapi dilakukan karena wujud kesyukuran atas nikmat Allah padanya.

Betapa tinggi keagungan Ramadan, namun acap kali dijalani dalam batas rutinitas menahan lapar dan dahaga. Bila hal ini terjadi, maka merugilah diri karena tak mampu memanfaatkan Ramadan secara benar.

Ramadan hanya media melahirkan hamba yang tawaduk. Namun, wujud sesungguhnya Ramadan ada pada setelah Ramadan berlalu. Bila ibadah pada saat Ramadan, maka prilaku tersebut baru pada proses. Sungguh mudah melihat hasil tempaan Ramadan pada diri. Bukti sertifikat Ramadan akan terlihat pada diri hamba setelah Ramadan berlalu dengan watak Ramadan yang senantiasa terpelihara 11 bulan ke depan.

Baik gemuruh hati yang berzikir, kata yang bijak, dan prilaku yang santun dalam bingkai rahmatan lil ‘alamin. Bila hal ini diperoleh, maka bahagialah hamba atas raihan kualitas diri yang ditempa selama Ramadan. Namun, bila bangunan prilaku hanya terjaga selama Ramadan, namun hancur pasca Ramadan, maka merugilah hamba.

Meski sebesar apa pun pakaian kesalehan yang digunakan untuk menutupi kegagalan memperbaiki watak, pakaian tak akan mampu menutupinya karena keburukan watak jauh lebih besar dengan kezaliman yang ditimbulkan. Lalu, di manakah kita? Hanya setiap insan yang memperoleh hidayah Allah yang mampu menilai diri secara benar.***


Editor: Eko Faizin



Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video | Kampar | Rokan Hulu | Rokan Hilir | Siak | Bengkalis | Dumai | Kepulauan Meranti | Indragiri Hilir | Indragiri Hulu | Pelalawan | Kuantan Singingi |