Riaupos.co
16/09/2019
 
WNA Asal Prancis Jadi Mualaf
MUALAF: WNA asal Prancis Samuel (46) usai mengucapkan kalimat Syahadat di Masjid Raya An-Nur Pekanbaru, Sabtu (4/5/2019). Kiki Aprilia/Mirshall

MASJID RAYA AN-NUR PEKANBARU
WNA Asal Prancis Jadi Mualaf
Minggu, 05 Mei 2019 - 10:46 WIB
 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Usai melaksanakan Salat Zuhur, warga negara asing asal Prancis mengucapkan dua kalimat syahadat untuk menjadi mualaf di Masjid Raya An-Nur Pekanbaru, Sabtu (4/5), yang disaksikan oleh jamaah masjid. Selain karena tertarik mempelajari agama Islam, juga untuk menikah warga setempat yang beragama muslim.

“Iya tadi pensyahadatan usai Salat Zuhur,” kata Ketua Mualaf Center Masjid Raya An-Nur Pekanbaru Zulfikar Tambusai kepada Riau Pos.

Berdasarkan informasi dari Zulfikar, WNA bernama Samuel Jerome Oliver Vanel merupakan warga negara Prancis yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Sementara alasan memilih masjid berjuluk taj mahal Riau ini, sebab calon istrinya berasal dari Pekanbaru.

“Iya, tadi waktu pensyahadatan ditemani calon istri dan mertuanya,” ucapnya.

Berencana akan langsung terbang ke negara asalnya, Zulfikar juga berpesan kepada Samuel tersebut untuk tetap belajar, karena mengucapkan dua kalimat syahadat hanya pintu gerbang menuju Islam.

“Rencananya besok sore ke Jakarta, baru terbang ke Prancis. Saya berpesan, untuk mengamalkan salat, puasa dan rukun Islam lainnya secara pelan-pelan,” jelasnya.

Selain itu, seseorang yang hendak memeluk agama Islam sesuai UU 28/1945 itu dasar administrasinya pertama harus memiliki tanda pengenal berupa KTP. “Kalau tidak ada, mau tidak mau harus mencari surat tanda pengenal, bisa dari RT/RW,” imbuhnya.

Kendati telah menjadi seorang muslim, Zulfikar mengungkap mualaf masih harus mengikuti pembinaan di Masjid An-Nur seminggu sekali. Sebab, pembinaan seseorang yang masuk Islam harus terlebih dahulu mengetahui pintu gerbang, yaitu syahadat.

“Baru mengenal salat. Tata tertib niat wudhu. Kemudian diajarkan lagi membaca Alquran, karena seorang muslim dan muslimah harus tahu cara membaca kitab sucinya,” ujarnya.

Hidayah untuk memeluk agama Islam bisa terjadi kepada seorang nonmuslim kapan saja dan di mana saja. Bahkan, setiap minggunya, Masjid An-Nur Pekanbaru pasti ada saja orang yang ingin masuk islam. “Allhamdulillah, minggu ini sudah ada dua,” sahutnya.

Sebelumnya tanggal 3 Mei 2019, kata Zulfikar, pihaknya juga telah mensyahadatkan seorang gadis keturunan tionghoa berumur 19 tahun bernama Aliya yang mengaku senang dan mencintai ajaran agama Islam.  “Sudah setengah tahun lalu mempelajari Islam dari teman maupun youtube mendengar kajian-kajian Islam,” ungkap Aliya.

Aliya yang kini sedang mencari kerja di Pekanbaru mengaku awalnya mendapat pertentangan dari orangtuanya yang berada di Bengkalis. Tapi kemudian, mereka mendukung keputusannya asalkan menjalankan dengan sungguh-sungguh apa yang diyakininya. “Pernah ke sini, tapi sebelum saya mualaf,” tambahnya.

Dengan ditemani temannya, wanita asli Bengkalis ini menuturkan bahagia bisa memeluk agama Islam.(*1)





Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video |