Riaupos.co
16/06/2019
 
Sungai Siak Makin Memprihatinkan
kecokElatan: Kondisi Sungai Siak di daerah Rumbai Pesisir yang airnya kecokelatan, Senin (22/4/2019).

Sungai Siak Makin Memprihatinkan
Selasa, 23 April 2019 - 13:28 WIB
 
KOTA (RIAUPOS.CO) -- Sungai Siak yang mengalir di kawasan Rumbai Pesisir kondisinya semakin memprihatinkan. Airnya semakin kecokelatan. Belum lagi sampah yang terbawa arus pun kerap didapati dan menjadi pencarian warga. Belum lagi, Sungai Siak tersebut juga dijadikan sumber air PDAM Tirta Siak yang secara otomatis airnya digunakan warga. Begitu pula dengan hasil tangkapan ikannya.

Menurut Stakeholder Engagement WWF Central Sumatera Ratna Dewi, kondisi Sungai Siak begitu memprihatinkan, perlu diadakan gotong royong untuk sama-sama mengembalikannya. Perlu proses yang panjang dan kepedulian yang banyak serta perlu kontribusi dari pemerintah setempat. Karena untuk melakukan perbaikan yang sifatnya mendasar, keterlibatan pemerintah sangat penting.

“Misalnya sekian meter atau anggaplah 3 km dari Sungai Siak ditetapkan sebagai wilayah konservasi air. Dari situ kita memulai memperbaiki kualitas DAS dan airnya, hanya bisa dilakukan oleh instansi yang berwenang. Sedang­kan kalau masyarakat, kita sama-sama saja seperti untuk mengurangi konsumsi apapun bahan kimia serta sampah yang pembuangannya ke Sungai Siak,” ucapnya, Senin (22/4).

Pihaknya mengimbau kepada pemerintah untuk mengkaji kemungkinan-kemungkinan untuk me­netapkan sekian luasan dari Sungai Siak sebagai wilayah konservasi air. Perbaiki sedikit demi sedikit. Dari sekian kilometer ditetapkan, kemudian tiga tahun setelahnya pindah ke bagian lain.

“Jika Jakarta bisa melakukan itu begitu juga Jawa Barat dengan program Citarum Harum, maka Riau pasti bisa melakukan itu. Kadar air yang sangat asam mungkin saat ini kita tidak dirasakan. Namun, untuk anak cucu. Sehingga kita perlu belajar dar kasus Jepang yaitu kasus Minamata. Kalau kita tidak belajar dari situ, anak cucu kita mungkin secara fisik tidak terlalu terlihat. Namun, secara genetika kecerdasannya bisa menurun, fungsi organ tubuhnya menurun bahkan harapan hidupnya bisa menurun,” jelasnya.

Hal itu pun dibenarkan, Direktur Badan Kajian Rona Lingkungan FMIPA Universitas Riau Tengku Ariful Amri. PH yang sangat asam mencapai 2 – 3, itu akan mematikan semua biota di badan air dan sangat tidak baik dikonsumsi. Jika mencemari sungai dan air dan ikannya dikonsumsi masyarakat, maka giliran 20 sampai 30 tahun yang akan datang akan menimbulkan ekses penyakit yang sangat mematikan. Jika generasi terpapar sakit, maka produktivitas masyarakat juga akan menurun. 

“Korban pertama dari lingkungan baik dari udara, air dan semacamnya adalah lansia. Karena rentan dan lemah fisik. Kemudian, balita yang merupakan aset. Karena 40 tahun kemudian akan memimpin negara ini. Akan menjadi pemangku kepemimpinan secara estafet. Kita mewariskan generasi yang lemah maka negara ini akan lemah baik lemah fisik dan lemah berfikir serta tidak produktif,” ungkapnya.

Lebih lanjut, pemerintah harus punya tim untuk memikirkan kesejahteraan masyarakat dari segala sendi kehidupan.(*3/ade)

(Laporan MARIO KISAZ, Kota)



Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video |