Riaupos.co
25/03/2019
 
Teriak Ganti Rugi, Satu Pelipat Luka Ringan
PROTES: Para pelipat suara menyampaikan protes terkait pelipatan surat suara di Sport Center Bangkinang, Kamis (14/3/2019).Hendrawan/Riau Pos

Protes, Pelipat Surat Suara di Kampar Bubarkan Diri
Teriak Ganti Rugi, Satu Pelipat Luka Ringan
Kamis, 14 Maret 2019 - 17:11 WIB >
 
BANGKINANG (RIAUPOS.CO) - Rendahya upah pelipatan surat surat suara di Kabupaten Kampar akhirnya menuai protes. Upah yang hanya Rp75 perlembar dianggap tidak manusiawi. Bahkan, untuk hitungan upah pada hari kedua pada hari ini, Kamis (14/3/2019), tak mampu menutupi biaya sarapan dan makan siang.

      Selain itu, sistem distribusi surat suara yang akan dilipat juga diprotes. KPU Kampar dinilai terlalu lambat dan lalai dalam hal efektifitas waktu. Akhirnya, para pelipat mulai bersorak ketika pelipatan pertama baru usai sekitar pukul 11.30 WIB. Karena tidak lagi mendapatkan surat suara yang akan dilipat, mereka keluar ruangan sport center. Belasan anggota Polisi, Satpol PP dan beberapa anggota TNI terlihat siaga.

       Di saat proses keluar itu, seorang wanita, Roza pelipat suara dari Kampar Utara mengalami insiden kecil. Jarinya terjepit pintu dan mengucurkan darah. Sempat berurai air mata, untung dua jarinya hanya tergores ringan. Tapi proses pelipatan surat suara diberhentikan total.

     Salah seorang warga, Ahmad Faisarullah menyebutkan, upah yang dia terima siang itu sangat menyedihkan. Bahkan tidak menutupi biaya makannya pada hari itu. Hari itu kelompoknya dapat tiga kontak suara yang masing-masing berisi 500 surat suara. Upahnya untuk setiap kotak suara DPR RI itu, menurut Ahmad, hanya Rp37.500.

     ’’Artinya, kami satu kelompok hanya dapat kurang dari 15 ribu selama setengah hari perorangnya. Ini hitung-hitungannya sungguh tidak masuk akal. Selain itu, sistem pembagiannya juga tidak beres. Kami datang pagi, surat suara baru dibagikan jam 09.00 WIB siang,’’ sebut Ahmad.

     Pelipat suara lainnya asal Bangkinang, Yudi, juga kesal dengan leletnya panitia membagikan surat suara untuk dilipat. Yudi juga menyinggung bagaimana dirinya dan ribuan orang lainnya sudah datang sebelum jam 7, tapi harus berjemur dan baru mulau melipaf pada sore hari.

     ’’Ok lah soal upah persurat suara yang sangat rendah, tapi kalau panitia tidak dan bekerja efektif, kan surat suara bisa cepat sampai ke tangan kami. Hinhga dalam sehari itu setidaknya minimal kami bisa dapat 10 kotak suara per kelompok, kan lumayan juga upahnya,’’ sebut Yudi.

     Menanggapi protes dari pelipat suara, Ketua KPU Kampar Ahmad Dahlan memutuskan untuk menghentikan sementara aktivitas pelipatan suara. Dirinya mengaku mendengarkan protes terkait upah yang sangat rendah itu. Namun Dahlan pesimis bisa meningkatkan upah itu.

      ’’Kami tidak bisa menaikkan lagi, jadi dihentikan dulu sementara. Nanti rapat dulu bersama Bawaslu, Polisi, Satpol PP dan stake holder lainnya untuk kelanjutannya,’’ sebut Dahlan.(end)





Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video |