Riaupos.co
19/04/2019
 
Kampanye Hitam “Lantaklah”
Anggota DPRD Riau Bagus Santoso

Kampanye Hitam “Lantaklah”
Senin, 11 Februari 2019 - 22:12 WIB
 
DALAM dunia politik waktu satu menit bahkan lima detik sangat berarti dalam mencari pengaruh. Tersebab itu setiap kontestan peserta pemilu harus benar-benar memanfaatkan waktunya mengatur strategi untuk merebut suara lawan politiknya. 

Menuju Pemilu Presiden 2019 yang tinggal lebih kurang dua bulan lagi, kedua kubu sudah tak henti-hentinya saling menyerang untuk menjegal satu sama lain. Salah satu alat serang yang dipakai kedua belah pihak adalah "data" (berita atau informasi), karena dunia politik pada dasarnya adalah pertarungan data-data dalam merebut pengaruh.

Sudah menjadi hukum pemilu, setiap pemilihan presiden, publik selalu dilanda bencana banjir data. Dikatakan bencana karena dalam dunia politik ada dua data yang akan muncul ke permukaan saling beradu hingga mengalir masuk sampai ke ruang dapur setiap rumah tangga pemilih, yaitu data "faktual" yang mengungkap kebenaran, dan data "fiktif" yang memanipulasi kebenaran. Jenis data fiktif inilah biasa disebut "kampanye hitam". Jenis kampanye yang menyerang lawan politik menggunakan data-data fiktif yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, sehingga menjadi fitnah.

Sejak debat pertama diadu, cuaca menuju Pemilihan Presiden 2019 semakin memanas dengan munculnya kembali kampenye hitam yang saling medeskreditkan satu sama lain. Ini berawal dari munculnya tabloid "Indonesia Barokah" yang mengulas berita-berita miring menyerang kubu pasangan 02 (Prabowo-Sandi). Tabloid yang tidak jelas alamat kantor redaksi dan penanggungjawabnya ini sudah sempat tersebar ke beberapa daerah yang bertujuan mendeskreditkan pasangan 02 di tengah masyarakat. Selang tiga hari kemudian muncul juga selebaran "Say No Jokowi" yang menyerang pasangan 01(Jokowi-Ma’ruf) yang tidak jelas juga pembuat dan penanggungjawabnya.

Sebenarnya setiap pemilihan presiden di negara demokrasi manapun di dunia selalu diwarnai dengan munculnya kampanye hitam. Hasilnya memang berpengaruh dalam merubah persepsi sebagian publik terhadap kandidat yang bertarung memperebutkan jabatan presiden. Persoalannya kemudian, kalau data fiktif (kampanye hitam) menjadi pemenang menenggelamkan data faktual, maka penulis menyebutnya bencana bagi demokrasi. Karena rakyat telah digiring mengambil suatu keputusan politik berdasarkan data-data yang salah (dimanipulasi kebenarannya).

Lalu sejauhmana pengaruh kampanye hitam dalam Pemilu Presiden 2019? Kampanye hitam pada dasarnya menyasar "Swing Voter" (pemilih yang belum menentukan pilihan) yang jumlahnya dalam kisaran 25%. Jumlah 25% Itu pun penulis perkirakan sudah memiliki referensi ke kubu mana akan berlabuh, walau belum menentukan sikap.
Karena itu, dengan mencermati kerakteristik pemilih sekarang yang sudah terpolarisasi menjadi dua kubu sejak Pemilukada DKI Jakarta 2017 lalu, maka penulis memprediksi kampanye hitam sudah tidak efektif lagi  mempengaruhi pemilih yang belum menentukan sikap, terlebih rakyat sekarang rata-rata sudah mampu memilih dan memilah mana berita benar dan berita yang cenderung fitnah.

Membaca komentar di media sosial antar kedua kubu yang lebih populer disebut kubu cebong dan kampret, penulis yakin pendukung atau simpatisan 01 tidak akan lagi terpengaruh dengan berita apa pun menyangkut kekurangan pasangan Jokowi-Ma’ruf. Begitu pula sebaliknya pendukung dan simpatisan 02 tidak akan berubah lagi pilihannya dengan berita apa pun yang berkaitan kekurangan Prabowo-Sandi. 

Berlainan kubu bukan berarti luruh persahabatan tetapi malah mengasah wawasan, menghargai perbedaan. Banyak WAG yang penulis menjadi salah satu warganya diantaranya Cakaplah, Riau Bicara, PAMOR, Forum Paguyuban, Bengkalis Bersatu, Rumah PATRI,Pokja Seni Budaya antar penghuni beda kubu nyatanya tetap berdebat dengan riang gembira. Paling hanya satu dua warga yang  tak tahan banting undur diri. 

Jadi kampanye hitam yang sekarang lagi disebar entah pendukung kubu siapa yang menyebarkan, tidak akan berpengaruh lagi secara signifikan di tengah pemilih yang sudah terpolarisasi sangat tajam menjadi dua kubu. Artinya pemilih yang 25% masih ragu-ragu itu hampir bisa dipastikan sudah terkontaminasi juga sikap fanatisme pendukung kubu 01 dan kubu 02. Sehingga dalam menanggapi kampanye hitam yang diprediksi semakin menjadi-jadi dua bulan ke depan, pendukung kedua kubu masing-masing tak peduli lagi jenis kampanye hitam atau belang, meminjam istilah Arthi Mustafa Noor akan mengatakan "lantaklah” Dipersilahkan 01 tetap 01, baginya sekali 02 badaipun tidak akan mampu menggesernya dari Prabowo-Sandi.




Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video |