Riaupos.co
20/06/2019
 
Berteriaklah Lewat Teater Bung!

Pementasan Teater "Padang Perburuan"
Berteriaklah Lewat Teater Bung!
Minggu, 03 Februari 2019 - 11:02 WIB
 
(RIAUPOS.CO) - Oleh Bung, sebuah esai yang berjudul “Riau, Kisahmu Sebagai Padang Perburuan” tulisan budayawan UU Hamidy itu menjadi inspirasi sekaligus kerisauan hati. Riau dianggap sebagai kawasan yang lebih banyak dipandang sebagai tempat memperoleh berbagai kekayaan dari sumber daya alamnya, daripada suatu daerah yang harus dibenahi dengan rasa tanggung jawab oleh seluruh pihak yang menghuninya. Sehingga muncullah sebuah mitos, "Kalau mau kaya pergilah ke Riau", dengan kata lain Riau sebagai padang perburuan.

Sebagai seorang Jurnalis cerita pedih ini mengingatkan Bung pada kisah penindasan yang mengatasnamakan pembangunan sekitar 26 tahun yang lalu.

Ada sepuluh kampung di Kecamatan XIII Koto Panjang beserta situs sejarahnya yang ditenggelamkan untuk pembangunan waduk PLTA, tidak jauh dari lokasi Candi Muara Takus, di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Kerisauan inilah agaknya yang membulatkan tekad Bung untuk memulai menulis sebuah naskah lakon sebagai media ekspresi kekecewaan. Berbekal informasi dari beberapa surat kabar, dilanjutkanlah dengan diskusi dan wawancara langsung dengan korban, agar lebih memahami kondisi psikologi masyarakat yang “hari ini” mengalami dampak buruk atas kesembronoan masa lampau. Tidak hanya kehilangan romantisme masa lalu, masyarakat juga harus menghadapi banjir musiman satu atau dua kali dalam setahun. Sebuah persoalan yang tidak pernah mereka alami sebelumnya.

Saat ini warga ditempatkan di pinggang Bukitbarisan. Namun harus membiasakan diri dengan bunyi sirine sebagai peringatan yang sewaktu-waktu memerintahkan warga agar segera pindah ke tempat yang lebih tinggi, akibat waduk yang tidak mampu menahan debit air saat pintu air dibuka. Kondisi ini membuat mental warga betul-betul terpuruk.

“Padang Perburuan” menjadi judul yang dipilih untuk naskah lakon yang berangkat dari hasil riset ini. Maka dapat dikatakan selesai sudah langkah awal bagi Bung untuk memulai kerja teater itu.

Sesuai dengan khittah-nya sebagai sebuah naskah lakon, tentu saja karya ini tidak cukup sekedar untuk bahan bacaan, namun juga “wajib hukumnya” dipanggungkan. Saatnya Bung beralih profesi menjadi Sutradara.

Lokasi kejadian yang berakar pada tradisi Kampar, dianjung sebagai pijakan utama dalam konsep pemanggungan.

Tampak jelas ada kesadaran dari Bung Sutradara untuk membongkar struktur drama konvensional, tidak seperti yang lazim dilakukan pada pementasan-pementasan teater di Riau. Selain teks-teks verbal, tubuh juga menciptakan narasinya sendiri lewat gerak-gerak silat (silek tuo) sebagai bentuk kerja teater post verbal. Tubuh yang gamang, tubuh yang penuh amarah dan putus asa menyatu dengan kelirihan sastra lisan Basijobang.

Alang-alang kapalang tangguong
Alang tukang mangabiin kayu
Alang codiok maancuan nagoii
(Banyak orang pintar dan cerdik justru menghancurkan negerinya sendiri).


Unsur Tanah dapat dimaknai sebagai sumber kehidupan. Apapun yang terkandung di dalamnya memberikan manfaat bagi manusia. Tanah juga sebaliknya bisa menjadi pangkal bala. Tanah adalah masa lalu, hari ini dan harapan masa datang. Hingga, menutupi seluruh area panggung dengan tanah adalah sebuah pilihan yang cerdas. Tidak ada bangunan set lainnya, hanya tanah semata. Dan oleh para aktor dimaksimalkan fungsi teksturnya sebagai media saluran emosi nan artistik. Namun beberapa kali warna tanah yang begitu membumi ini sempat diganggu oleh pilihan genit warna solid dari tata cahaya. Walau merah misalkan dapat mewakili situasi kemarahan, tapi sesungguhnya warna netralpun sudah cukup dengan mengandalkan kemampuan akting para aktor.

Transformasi lima aktor kepada penyesuaian karakter menjadi agak seragam akibat kemiripan tokoh. Ini dipahami pada bentuk kerja teater post realistik yang membawa semangat perlawanan terhadap konvensi masa lalu. Unsur-unsur gaya post realistik ini terpapar pada simbolisme teks maupun tubuh.

Nur jadi mantra
Mantra jadi api
Api jadi aku
Aku jadi sajak


Apa yang saya saksikan saat itu adalah sebuah pertunjukan teater yang menyediakan ruang lebih luas untuk menghasilkan analisa, perenungan dan penyadaran. Sebagai penggiat teater di RIAUBERAKSI Studio Seni Peran saya ucapkan. Tahniah Bung!

Sebagai ilustrasi, karya “Padang Perburuan” produksi Lembaga Teater Selembayung dengan sutradara Fedli Azis ini sudah dipentaskan diberbagai perhelatan dan tempat. Diawali pada helat Pekan Teater Nasional (PTN), 10 Oktober 2018 di Taman Ismail Marzuki (TIM)-Jakarta. Dilanjutkan ke helat Gondang Oguong Art Festival, 27 Oktober 2018 di Lipatkain, Kampar, Riau. Lalu, dilanjutkan ke helat Silek Art Festival (Indonesiana) di ISI Padangpanjang, Sumbar. Dan terakhir, pementasan mandiri pada Ahad, 27 Januari 2019 di Gedung Olah Seni (GOS) Taman Budaya Riau.

Dikatakan si sutradara dan juga penulis teks “Padang Perburuan”, karya ini belum selesai dan masih terus akan kerjakan untuk mencapai penyempurnaan. Para aktor akan terus diolah bersama di studio latihan. Palingtidak, Lembaga Teater Selembayung tak henti berazam, akan mementaskan karya ini kembali dibeberapa kabupaten/kota se-Riau, dan beberapa kota di Indonesia, terutama Sumatera.***


Laporan fedli azis, Pekanbaru





Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video |