Riaupos.co
27/03/2019
 

Biaya Angkut Beras Gratis dari Pemerintah Membengkak
Saat Jalan di Batu Sasak Menjadi Seperti Bubur
Jumat, 11 Januari 2019 - 17:30 WIB
 
KAMPARKIRI (RIAUPOS.CO) -  ‘’Beras sejahtera (rastra) sudah sampai di kampung kami kemarin. Namun besar biaya yang harus dikeluarkan untuk mengangkut beras itu,’’ begitulah suara yang terdengar dari seorang lelaki yang tinggal di Kampar Kiri Hulu. Lelaki itu bernama Alfian Furkani, satu dari sedikit warga desa yang mengecap gelar sarjana di Batu Sasak, yang masih ingin tinggal dan membesarkan kampungnya.

Kendati Alfian hanya seorang kepala dusun, urusannya banyak. Tidak hanya mengurus dusun di Desa Batu Sasak yang disebut orang berada jauh di balik bukit di Kampar Kiri Hulu. Dia juga kadang ikut mengurusi rastra yang berasal dari  Lipat Kain lalu melansirnya ke kampung halamannya. Ini bukan perkara mudah. Bukan urusan selesai dalam satu hari. Apalagi pada Desember 2018 lalu, saat Riau Pos bertandang ke desanya, jalan seperti bubur.

‘’Yang betul-betul kami harapkan adalah beras bantuan Bulog ini. Karena masyarakat tak ada lagi uang untuk membeli beras. Sebab karet, sawit, bahkan kayu di hutan tak ada. Kalau jalan sudah begitu kondisinya, pengiriman bisa lama dan pakai biaya yang tidak murah,’’ terangnya, saat bermalam di rumahnya di Batu Sasak.

Batu Sasak merupakan salah satu desa dengan penduduk terpadat di Kampar Kiri Hulu, mencapai 1.300 kepala keluarga. Pemukiman di sana sangat padat dan rumah dibangun dekat-dekat bak pemukiman sempit di kota. Sesuai dengan namanya, rumah-rumah di sana penuk sesak di lereng perbukitan. Berjajar dari dataran tinggi, sampai hampir ke tepi sungai.

Dengan kondisi alam seperti itu, sudah dipastikan tidak ada sawah ladang sejenis padi atau jagung bisa ditanam di sana. Mata pencarian kalau tidak menyadap karet dan mendodos sawit, hanya kayu yang bisa diolah.Sementara untuk buah ada durian, sedangkan petai dan jengkol merupakan tanaman musiman. Gambir ada dan menjadi komoditas langka. Namun, semua komoditas itu tidak bernilai kalau sudah musim banjir, karena jalan hancur menjadi bubur. Transportasi roda empat, pada puncaknya, putus sama sekali. Sedangkan menggunakan motor ke Lipat Kain, kota terdekat, bisa-bisa makan waktu setengah harian.

Kondisi sulitnya akses jalan dan terkendalanya suplai sembako seperti beras ini juga diakui Kepala Desa Batu Sasak Riyumita. Ketika harga 10 kg beras mencapai 125 ribu di kampungnya, tidak ada yang mengaku senang. Biasanya hanya keluhan. Maka kedatangan restra di penghujung tahun itu menjadi berkah. Karena sudah hampir tiga bulan sebelumnya mereka di dera masalah putusnya transportasi.

‘’Total ada 700 kg rastra yang belum sampai hingga saat ini, karena kondisi jalan. Kalau pakai mobil saja, biayanya sudah cukup besar. Kalau jalan buruk biasanya saya inisiatif tambah biaya Rp1 juta kepada pengantar yang pakai truk. Kalau truk tidak bisa lewat, terpaksa pakai gendong atau keranjang sepeda motor,’’ terangnya.
Menggunakan sistem gendong ini merupakan biaya lagi. Biaya dari Lipat Kain menuju Batu Sasak saat jalan rusak membawa beras itu menurut Riyumita Rp2 ribu per kilometer. Jika dihitung bersih jalan Lipat Kain adalah 30 kilometer saja, maka kepala desa harus menyediakan uang lebih banyak. Jika yang digendong 700 kilogram, maka biaya bisa membengkak tajam. Beras gratis dari pemerintah itu jadi berbiaya besar. ***

(Laporan HENDRAWAN, Kampar Kiri Hulu)

Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video |