Burhan: Tiga Dokter Menjadi  Korban Sistem
DOA BERSAMA: Puluhan dokter yang berasal dari berbagai keahlian melaksanakan aksi doa bersama atas penahanan tiga dokter RSUD Arifin Achmad, akhir pekan lalu di Jalan Cut Nyak Dien, Kota Pekanbaru. Para dokter menilai kasus tersebut terjadi akibat sistem yang tidak baik. (AFIAT ANANDA/RIAU POS).

Burhan: Tiga Dokter Menjadi Korban Sistem
Senin, 03 Desember 2018 - 14:00 WIB > Dibaca 494 kali
 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Puluhan dokter melakukan aksi doa bersama akhir pekan lalu. Kegiatan yang berlangsung di Jalan Cut Nyak Dien, Pekanbaru itu, dihadiri dokter dari berbagai keahlian, baik yang bertugas di RS pemerintah maupun swasta. Selain doa bersama, para dokter juga menuntut adanya keadilan bagi tiga rekan mereka yang saat ini ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru.

   Pengurus Besar PDGI dr Burhan mengatakan, pihaknya merasa prihatin dengan kasus yang terjadi. Kata dia, tiga dokter yang ditahan adalah korban sistem. Sebab sangat tidak mungkin dokter fungsional terlibat kedalam pengaturan pengadaan seperti yang disangkakan.

   “Kami akhir pekan lalu melaksanakan doa bersama. Itu berangkat dari keprihatinan kami atas kasus ini. Banyak dokter yang tersandung hukum malah berujung bui. Tapi kami tidak bereaksi. Kenapa sekarang kami bereaksi, karena kasus ini sangat aneh. Bagaimana bisa dokter fungsional terlibat dalam manajemen?” ungkap Burhan, Ahad (2/11) siang.

   Maka dari itu, pihaknya meminta agar tiga dokter menjalani tahanan luar. Seluruh komponen yang tergabung ke dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Riau juga menyatakan siap untuk menjadi penjamin. Karena hal ini sangat berkaitan dengan masyarakat luas. Di mana pasien dari ketiga dokter yang ditahan sudah mengantre untuk dilakukan tindakan medis. Bahkan bila diperlukan, pihaknya akan menyiapkan uang penjamin jika itu diperlukan.

   “Kita lihat saja dr Wili itu. Dia satu-satunya dokter bedah plastik mikro di Provinsi Riau. Pasiennya ratusan sudah mengantre. Dua dokter lainnya juga memiliki keahlian khusus yang cuma mereka yang punya ilmunya,” tukasnya.

   Soal tiga dokter yang disebut menjadi korban sistem, Burhan menyebut sangat tidak mungkin sejawat mereka yang ditahan ikut ke dalam praktik korupsi seperti yang dituduhkan.

Karena segala sesuatu kebijakan pastinya diketahui manajemen RSUD. Jika menggunakan alat pribadi merupakan sebuah pelanggaran, pihaknya mempertanyakan kenapa selama ini dibiarkan manajemen RSUD AA.

   “Kami tidak berharap mogok yang lebih besar. Nanti masyarakat yang akan jadi korban dan dirugikan. Kami hanya minta adanya keadilan,” tegasnya.(nda)


Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video |