Konsumsi Rumah Tangga Bisa Lebih Tinggi
Jumat, 09 November 2018 - 19:35 WIB > Dibaca 408 kali
 
JAKARTA (RIAUPOS) - Kinerja ekspor yang diperkirakan masih lebih rendah daripada impor bakal menjadi salah satu penghambat pertumbuhan pada kuartal terakhir tahun ini. Pada kuartal IV, Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, yakni di bawah 5,2 persen.
’’Kami masih memperkirakan untuk triwulan IV 2018, pertumbuhan ekonomi kurang lebih sama (dengan triwulan III 2018, red),’’ ujar Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Hotel Pullman, Rabu (6/11).


Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III sebesar 5,17 persen dinilai cukup positif meski tidak setinggi sebelumnya 5,27 persen.


Dody melanjutkan, motor penggerak ekonomi pada kuartal ini masih didominasi konsumsi rumah tangga dan investasi. Hambatannya adalah belum membaiknya kinerja ekspor seiring dengan demand yang juga masih menurun.


’’Kalau bicara nett ekspor dari eksternal, demand-nya masih di posisi nett minus karena pertumbuhan impor di atas pertumbuhan ekspor. Meski ekspor tumbuh, kecepatannya masih di bawah impor,’’ jelasnya.


Namun, Dody menyebutkan, konsumsi rumah tangga di kuartal akhir bisa lebih tinggi. Pihaknya pun optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal IV lebih baik daripada kuartal III. Meski demikian, pihaknya tidak memungkiri bahwa untuk keseluruhan tahun ini pertumbuhan ekonomi diprediksi hanya berada di kisaran 5,2 persen atau batas bawah target BI 5,0–5,4 persen.


’’Konsumsi kuartal IV 2018 diperkirakan meningkat lagi. Pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tetap di batas bawah target Bank Indonesia,’’ katanya.


Direktur Riset Center of Reform On Economics (Core) Mohammad Faisal menyatakan, perekonomian pada kuartal IV diperkirakan tumbuh di kisaran 5 persen. Sebab, menurut dia, hingga akhir tahun ini, sulit bagi Indonesia untuk meraih pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi.


’’Sebab, masih ada tekanan dari faktor perang dagang dan perekonomian AS yang membaik. The Fed juga memberikan sinyal masih ada peluang kenaikan suku bunga acuan,’’ ucapnya.


Akibatnya, negara berkembang banyak kehilangan dana asing dari pasar keuangan. Foreign direct investment (FDI) pun tertahan. Bukan hanya di negara maju, negara berkembang juga banyak yang menaikkan suku bunga acuannya. Termasuk Indonesia. Hal itu membuat laju pertumbuhan ekonomi tertahan. Sebab, setiap bank sentral berupaya menjaga stabilitas perekonomian yang berdampak pada pertumbuhan.


Faisal menambahkan, optimisme pengusaha pada kuartal IV menurun. Indeks tendensi bisnis (ITB) pada kuartal IV diperkirakan 106,45. Lebih rendah daripada ITB kuartal III sebesar 108,05.


Menurut Faisal, hal tersebut mencerminkan bahwa optimisme pengusaha pada kuartal IV menurun jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. ’’Ada tekanan terhadap nilai tukar yang dirasakan pengusaha sehingga itu diramalkan berpengaruh pada demand (permintaan) barang untuk kuartal IV,’’ ujarnya.


Namun, konsumen masih optimistis. Sebab, indeks tendensi konsumen (ITK) pada kuartal IV diperkirakan 103,29. Lebih tinggi daripada ITK kuartal III sebesar 101,23. Hal tersebut dipicu indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi yang sejauh ini terkendali. Dengan begitu, konsumen optimistis bisa membeli barang dengan harga yang stabil pada kuartal IV ini.


’’Kami lihat memang ada perbedaan dari cara pandang produsen dan konsumen. Semoga saja inflasi masih bisa terkendali sampai akhir tahun sehingga konsumsi rumah tangga mampu mengangkat demand dan pertumbuhan ekonomi jadi tetap menggeliat,’’ kata Faisal.(ken/rin/c22/fal/jpg)

Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis |