Blusukan ke Pasar, Jokowi Pakai Motor Custom
KENDARAI MOTOR: Joko Widodo mengendarai sepeda motor custom saat blusukan ke Pasar Anyar, Kota Tangerang, Banten, Ahad (4/11/2018). (ADRIANTO/JPG)

Blusukan ke Pasar, Jokowi Pakai Motor Custom
Senin, 05 November 2018 - 13:12 WIB > Dibaca 317 kali
 
TANGERANG (RIAUPOS.CO) - Presiden Joko Widodo kembali blusukan ke pasar tradisional, kemarin (4/11). Kali ini, giliran Pasar Anyar, Kota Tangerang, Provinsi Banten yang disambangi Presiden. Menariknya, untuk menuju ke Pasar, Jokowi tidak menggunakan mobil kenegaraan, namun mengendarai sepeda motor custom.

Kemarin, Jokowi memakai motor merk Kawasaki W175 beraliran tracker denganwarna dominan hijau. Dia berkonvoi kecil bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah, dan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar. Presiden mulai mengendarai sepeda motor dari sekitar Jalan M.H. Thamrin, Tangerang.

Jokowi mengatakan, dirinya ingin mencoba motor custom terbarunya. Jika motor Chopperland terdahulu dimodif oleh Elder Garage, kali ini dikerjakan oleh Katros Garage. “Pengen aja nyoba motor baru. Tarikannya bagus. Kan ga nTgebut kita hanya 30-40 km/jam,” ujarnya. 

Setibanya di pasar, Jokowi disambut riuh para pedagang dan pembeli. Presiden kemudian berjalan ke dalam pasar untuk mengunjungi para pedagang, antara lain sayuran, buah-buahan, ayam, telur, hingga daging. Di setiap lapak pedagang yang dikunjungi, Presiden berbincang dengan para pedagang dan bertanya kondisi harga di pasar.

Usai peninjauan, mantan Walikota Solo itu mengatakan, peninjauan ke pasar dilakukan untuk mengecek harga di lapangan. Sebab, jika mengacu data, inflasi relatif rendah, yakni 3,5 persen. “Saya ingin cek di lapangan. Sama enggak,” ujarnya.

Berdasarkan pengamatannya, harga di lapangan sama dengan angka inflasi di mana harganya stabil. Seperti beras diangka Rp8 ribu-12 ribu, kemudian telur turun dari Rp30 ribu menjadi Rp22 ribu per kilogram, sementara ayam naik dari Rp28 ribu jadi Rp30 ribu.

Menurut Presiden, fluktuasi harga di pasar adalah hal yang biasa. Sebab, bergantung pada suplai dan permintaan. Dia pun berharap tidak ada pihak-pihak yang mengkampanyekan harga tidak sesuai kondisinya. “Jangan teriak di pasar naik, pedagang pasar marah enggak ada yang beli iya ndak? Malah datang ke mal,supermarket,” ujarnya.(far/jpg)


Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video |