Rupiah Anjlok, Perbankan Diminta Jangan Terlalu Panik
Rabu, 10 Oktober 2018 - 13:31 WIB > Dibaca 339 kali
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Nilai tukar rupiah masih terus bergejolak, bahkan makin melemah. Merujuk data Bloomberg, pada penutupan perdagangan, Selasa (9/10) rupiah berada di level Rp15.237,5 per dolar AS. Kurs tersebut terdepresiasi 0,13 persen (20 poin) dari perdagangan sebelumnya Rp15.217,5 per dolar AS. Kondisi rupiah yang belum juga stabil menjadi perhatian Wapres Jusuf Kalla (JK).

“Itu ada masalah dari luar. Ada juga masalah dari dalam. Jadi dua duanya,” ujar JK di kantor Wakil Presiden,kemarin.

JK menuturkan, untuk masalah dari luar negeri, Indonesia tidak bisa berbuat banyak. Sedangkan untuk masalah dalam negeri, pemerintah akan menyeimbangkan ekspor dan impor. Selain itu, Bank Indonesia (BI) tentu akan mengintervensi sesuai kemam­puan mereka. Tapi, bila sudah tidak memungkinkan lagi, pemerintah akan lebih banyak menghemat atau mengurangi impor.

“Harus ada yang berkorban,” tegasnya.

Presdir PT BCA Tbk Jahja Setiaatmadja mengungkapkan bahwa para bankir sudah me­ngantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah yang kini sudah mencapai level psikologis baru di kisaran Rp15 ribu. Dia menuturkan, industri perbankan tanah air sudah banyak belajar dari krisis moneter pada 1998 silam.

“Jadi kita juga mengelola dolar AS lebih baik. Tidak ada yang spekulasi, tidak ada pinjaman yang terlalu banyak dalam dolar,” ungkapnya kemarin.

Jahja melanjutkan, tak hanya rupiah yang terdepresiasi terhadap dolar AS. Mata uang negara-negara lainnya juga mengalami hal serupa. Salah satunya mata uang Jepang, yen.

“Jadi saya kira sepanjang kepanikan berlebih tidak terjadi, maka bisa terkendali,” lanjutnya.

Jahja mengakui bahwa pelemahan rupiah memiliki dampak signifikan pada sektor riil. Sebab, bahan-bahan baku dari produk industri di sektor ini masih impor. Karena itu, pihaknya menilai harus ada balance antara kurs, suku bunga, dan inflasi. Rupiah telah melemah 12,49 persen sejak awal tahun. Melemahnya nilai tukar sebagian besar dipengaruhi defisit transaksi berjalan yang pada kuartal II lalu mencapai 8 miliar dolar AS. Angka tersebut setara 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).

“Inilah hebatnya super dolar. Dalam kondisi negaranya maju, semua memilih dolar,” sahut Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo, kemarin.

Mata uang negara-negara maju memang bak primadona saat ini. Uang dari negara-negara berkembang kembali ke negara-negara maju dan ditempatkan di aset safe haven, seperti dolar AS. Akibatnya, likuditas mata uang negara-negara maju terutama dolar AS mengetat. Hal itu menyebabkan mata uang di negara berkembang termasuk Indonesia melemah.

Menurut Dody, masalah supply and demand ini sudah sudah cukup tertahan dengan adanya capital inflow. Terutama, inflow di pasar surat berharga negara (SBN) dan sedikit inflow di pasar saham.  “Ada tekanan yang kita ra­sakan, tapi ini bukan rupiah melemah. Tetapi super dolar ini berpengaruh terhadap hampir semua mata uang, terutama di negara-negara berkembang,” ucap Dody.(jun/ken/rin/oki/jpg)

Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis |