Performa Rupiah Terburuk di Asia Tenggara
Jumat, 14 September 2018 - 11:46 WIB > Dibaca 463 kali
 
Jakarta (RIAUPOS.CO) - Meski tidak masuk negara yang rentan krisis, namun mata uang rupiah memiliki kinerja terburuk dibandingkan mata uang negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dilansir dari Bloomberg, pada 2018, rupiah turun hampir 9 persen di atas Filipina, Vietnam, Malaysia dan Thailand.

Berdasarkan data Bloomberg, posisi rupiah paling dalam mengalami pelemahan hingga 8,8 persen, peso 7,6 persen, ringgit 2,5 persen, Vietnam 2,5 persen dan baht 0,7 persen.

Hal ini menjadi pukulan telak bagi Presiden Joko Widodo. Menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) lalu direspon oleh Bank Indonesia yang kemudian menaikkan suku bunga acuannya.

Sementara dari sisi fiskal, pemerintah melakukan upaya penyusutan defisit neraca perdagangan dari 2,1 persen terhadap PDB menjadi 1,85 persen. Akan tetapi, arus modal yang masuk dalam bentuk mata uang pada akhirnya ditentukan oleh daya tarik negara sebagai tujuan investasi jangka panjang.

Bloomberg menulis pada indeks itu, Indonesia memiliki skor yang sangat buruk. Ini tercermin dari investasi asing pada kuartal kedua yang mengalami kontraksi 12,9 persen dari tahun sebelumnya.

Penurunan pertama investasi setidaknya terjadi sejak 2011, yang menempatkan Indonesia di peringkat akhir dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara.

Di sisi lain, Indonesia juga menutup pintu dari Cina. Padahal atas program One Belt One Road (OBOR) memicu manufaktur besar-besaran di Vietnam. Satu-satunya kerja sama strategis Indonesia dengan Cina adalah proyek kereta cepat Jakarta-Bandung senilai 5,9 miliar dolar AS.

Dana proyek infrastrukturnya yang berjumlah Rp 4.800 triliun (323 miliar dolar AS) dibiayai dari berbagai macam instrumen. Bloomberg menyebut, sejak Jokowi mulai menjabat pada Oktober 2014, jumlah obligasi pemerintah lokal yang beredar hampir dua kali lipat menjadi Rp2,274 triliun dan hampir 40 persen dari yang dimiliki oleh orang asing.

Sehingga, ketika pasar negara berkembang berada dalam gejolak, manajer dana global baik menjual kepemilikan mereka atau melindungi risiko mata uang mereka ke depan yang tentunya kedua hal ini akan menekan rupiah. “Dalam membelanjakan investasi langsung asing yang lebih stabil, negara ini merayu investor dengan uang portofolio panas,” tulis Bloomberg, Kamis (13/9).

“Mungkin sudah terlambat untuk kembali. Jendela untuk booming konstruksi luar negeri (dari, red) Cina tampaknya akan ditutup. Pada kuartal kedua, pertumbuhan pendapatan konstruksi infrastruktur keluar Cina melambat menjadi hanya 0,3 persen, dari 5,8 persen tahun lalu. Krisis utang baru-baru ini di antara teman-teman lama di Beijing di Argentina, Venezuela, dan Pakistan dapat lebih jauh menyerap uang Cina,” katanya.(uji/jpg)


Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis |