Halimun
17 Desember 2017 - 19.30 WIB > Dibaca 676 kali
 

Tangkaplah halimun dengan sebutir garam. Adun dan uli jelang sesaat. Halimun jatuh dalam kelam malam. Dia berarak membentuk fromasi tirai, kelambu, dinding dan tembok. Membentengi, mengandang dan mengepung sesuatu yang tengah beredar: imajinasi, impian dan idaman kolektif mengenai sesuatu yang mengelak dan meloncat, menerobos ruang dan waktu.

Ihwal Riau dalam kelebat waktu yang bergerak. Ya, bak halimun yang berarak, berderak membingkai malam yang sesak oleh serum ide, baksil yang menirus fase-fase demi mengalung perubahan. Sejatinya gerak dan arakan halimun yang berjingkat dari dada bumi, adalah ide perubahan itu sendiri. Terkadang kita kehilangan ruang dan kehilangan orientasi tersebab halimun malam. Maka, cicipilah sebutir garam yang tergenggam. Demi memecah pekat malam yang tak berujung. Berpuluh tahun, hidup para jelata diselubungi malam berhias jelatang nan gatal. Kehabisan stok mimpi, kekeringan sumber mata air ide dan mati dialog. Para jelata bergelar oketai, terserang autisme akut, menjalani fase-fase monolog, cerutai ego yang serba gagu.

Datang bertandang ke rumah paduka, bak mengadu ke tembok bisu. Para paduka, mengalami ekstase liar dalam lorong monolog panjang yang tak berujung. Mereka hanya memikul gelagat demagogis, kebenaran demagogik sepihak, merejam batu dan menghumban batu demagogis itu untuk menyaru rakyat jelata, untuk membungkus diri dalam “rembang serba seolah-olah”. Dulu, era 80-an ada penulis prolifik yang mempengaruhi jalan hidup saya dalam dunia tulis menulis, membuat tajuk tulisan yang amat molek dan bersayap: “Seolah-olah Olahraga”. Lalu, selama satu dekade kita terperangkap menjalani kehidupan yang serba “seolah-olah”. Bak halimun malam, yang menekur diri dalam gulungan serba seolah-olah: seolah-olah tirai malam, seolah-olah kelambu malam, seolah-olah dinding malam, seolah-olah tembok malam. Halimun itu menjalani fase seolah-olah, fase bak, fase seakan-akan, fase “seperto”, tapi tak pernah menjadi.

Negeri yang para pemimpinnya piawai mengolah “dunia seolah-olah”, hanya berujung tawa sinis dan gelombak tindak warga yang serba sarkastik. Kita melembagakan adat menjadi “bangunan birokrasi” yang berbelit-belit, rumit dan berstruktur yang rigid bak jemari yang diserang asam urat. Sejatinya, adalah sebuah upaya mematikan adat dan istiadat itu sendiri. Dia tak lebih dari aksesori politik yang bertembok adat, bertajuk mahkota nilai dan resam yang tak berdampak positif dalam keputusan-keputusan adat yang intelejentif. Sebab? Terkepung nilai yang dikonstruksi berdasar nilai luhung dan kudus yang tak membumi. Luhung dan kudus itu sangkut di langit, sementara di bumi manusia diajak dan didorong dengan satu cogan besar: Mari Bergaul! Politik sejatinya adalah upaya seseorang dan sekelompok orang tentang seni ‘mari bergaul’ itu sendiri.

Kiat, singgit dan seni bergaul pada arasy politik di atas bumi, memiliki injab dan maqam yang berbeda. Kitab santun senantiasa menjadi junjungan bagi anak-anak Melayu. Namun, kitab santun sesekali perlu ditutup, ketika kita berdepan dengan tirai dan kelambu halimun. Di sini pucuk adat tak bisa bertindak “sok arif” jalan tengah yang tak mengenal garis tengah itu. Sesekali yang disebut jalan tengah itu adalah sebuah pilihan ekstrem. Ya, ekstrem bagi puak lain, bagi kaum lain, bagi punat kebudayaan lain, pucuk adat yang lain pula. Sejatinya, antara ‘jalan tengah’ dan gerak maksimal dalam tindakan progresif yang difahami oleh makhluk Melayu untuk merawat diri dan kampung halamannya adalah pilihan-pilihan cerdas yang senantiasa mengandung misteri dan tuah bagi tanah ini. Tak kan terjadi di tanah lain.

Sekarang mari kita melihat politik sebagai sesuatu nan kudus. Ketika dipersepsi sebagai nan kudus, dia tidak didatangi untuk dieksploitasi, tetapi didatangi dengan keagungan teks. Sebagaimana bumi, yang selama ini dilihat sebagai sumberdaya, tindak ikutannya adalah eksploitasi. Namun, ketika bumi dilihat sebagai sesuatu nan kudus, dia akan dirawat dengan teks besar untuk menjadi warisan kepada makhluk penerus di atas bumi. Demikian pula politik. Ketika dilihat sebagai nan kudus, dia akan dijadikan sebagai instrumen merawat kehidupan manusia dan semesta. Politik itu sendiri bersumber dari pilihan terhalus, dari lubuk hati nan halus pula. Maka, dalam satu rumah tangga, setiap insan yang menghuni di sebuah rumah, akan memiliki pilihan-pilihan terkecil dengan hiasan hujah yang cerdas, dalam atau malah dangkal sekalipun.

Apapun pilihan terhalus kita dalam dimensi politik publik yang mendorong seseorang untuk menjatuhkan pilihan, dia bukanlah arak-arakan halimun malam yang tak berekor, tak berujung dan tak berkesudahan. Halimun menjelaskan sesuatu gerak yang tak pernah selesai. Pilihan politik yang berlangsung dalam seminggu lalu, adalah sebuah hujah yang selesai. Menjelang masuk dalam penyelesaian naratif berikutnya, seraya menggoda fase pertempuran yang tak pernah mengenai kata sudah dan selesai. Ibarat peperangan, hidup kita mengejar dan mengurai halimun, berlangsung dalam beberapa tahap tempur. Fasad-fasad tempur itu adalah serangkaian peperangan dalam cara menjatuhkan pilihan. Dan Riau senantiasa belajar dan mengajar kepada dunia tentang bagaimana memilih, bagaimana mewarnai, menghiasai kegiatan politik dengan resam budaya, resam yang tak berkelamin jantan atau betina, tetapi dengan sesuatu yang senantiasa menggoda untuk didatangi secara teks politik yang besar dan ranggi. Ketika menjatuhkan pilihan, kita harus bersiap dengan segala resiko pilihan-pilihan itu. Bahk halimun, pilihan-pilihan itu berarak, bergerak dan terkadang menjebak.

Kecerdasan apa dan kejelian bagaimana yang hendak dipikul? Politik itu bukan persoalan satu opsi. Tapi politik, sebagaimana kebudayaan adalah medan dengan sejumlah opsi (pilihan ganda) yang bergerak secara progresif dan serba mengungkai dan mudah mengungkai, alias serba terungkai dan mudah cair. Kuncinya? Asal didatangi dengan kebesaran teks dan pikiran yang terbuka. Ketika halimun menggulung, genggamilah sebutir garam, agar kita tetap dalam satu kesadaran; kesadaran yang saling menguntungkan. ***


Dahlan Iskan | Azrul Ananda | Yusmar Yusuf | Chaidir | Taufik Ikram Jamil | Marhalim Zaini |