Mulai Berubah karena Kritik
Jumat, 13 Juli 2018 - 09:58 WIB > Dibaca 310 kali
 
NEW DELHI  (RIAUPOS.CO) - Pemerkosaan masih menjadi momok di India. Hampir tiap pekan ada kasus baru yang muncul. Kritik deras masyarakat internasional membuat pengadilan India berbenah. Termasuk tak mau memberi peluang bagi pelaku untuk lolos. Pengadilan Tinggi Kochi di Negara Bagian Kerala misalnya.

Rabu (11/7) lembaga itu menolak permohonan tiga pendeta yang terjerat kasus pelecehan seksual untuk menangguhkan penahanan. ‘’Saya tidak bisa membiarkan mereka kabur. Berdasar informasi dari kepolisian, mereka punya potensi tinggi untuk memengaruhi saksi atau menghilangkan barang bukti,’’ papar hakim R Vijayaraghavan sebagaimana dilansir Associated Press.

Tiga pendeta dari Malankara Orthodox Syrian Church itu segera ditangkap dan dijebloskan ke tahanan. Dengan demikian, polisi bisa menyeriusi investigasi kasus pemerkosaan yang menjadikan mereka tersangka. Menurut Press Trust of India, laporan itu diajukan seorang perempuan yang tercatat sebagai jemaat di gereja tersebut. Dia mengaku menjadi korban pelecehan seksual selama bertahun-tahun.

Akhir pekan lalu polisi mengamankan seorang kepala sekolah, dua guru, dan tiga siswa sebuah SMA di Negara Bagian Bihar. Mereka berkali-kali memerkosa seorang siswi dalam tujuh bulan terakhir. ’’Kami sedang mengintensifkan penyelidikan. Kini keenamnya berstatus tersangka,’’ kata Inspektur Polisi Har Kishore Rai.

Konon, selain enam tersangka, ada 13 siswa lain yang terlibat. Kini 13 nama yang disebutkan korban juga menjalani interogasi. Namun, status mereka adalah saksi. Korban yang tidak disebutkan namanya itu mengaku diperkosa kali pertama pada Desember lalu. Saat itu tiga siswa yang kini berstatus tersangka tersebut memerkosanya. Bahkan, mereka merekam perbuatan bejat tersebut dengan kamera video. Video itu lantas tersebar di lingkungan sekolah.

Bukannya melaporkan pelaku, para siswa lain yang menonton video tersebut malah memanfaatkan aib korban. Demikian juga dua guru di sekolah itu. Mereka menggunakan video pemerkosaan itu sebagai alat memeras. Korban dipaksa melayani nafsu mereka jika tak mau videonya tersebar luas sampai ke luar sekolah.  Frustrasi dengan keadaannya, korban akhirnya mengadu ke kepala sekolah. Tapi, si kepala sekolah ternyata tak kalah bejat dengan lima pelaku lainnya. Dia malah ikut-ikutan memerkosa korban.

’’Saat ini kami sudah bentuk tim khusus untuk menuntaskan penyelidikan secepatnya,’’ ujar Rai. Dalam enam bulan terakhir, ada sedikitnya 250 kasus pemerkosaan di Bihar.

Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis | video |