Desember Ceria
10 Desember 2017 - 19.55 WIB > Dibaca 604 kali
 

Kanak-kanak berenang di laman rumah. Kanak-kanak beterjunan di pinggir sungai. Nikmat dan surga setelah azab asap di Riau? Ya, nikmati aja. Orang menyebutnya banjir. Lara, duka dan nestapa bagi orang dewasa. Lain lagi bagi kanak-kanak; banjir adalah playground, laman bermain, wadah bersenginjak, lecutan penglipur-lara, mekar kuncup mengembang. Hujan yang turun dari langit adalah persetubuhan alam kepada bumi. Sekian lama, bumi kerontang, tiada kehidupan dan seakan terinterupsi. Kala bumi disetubuhi oleh langit dalam apitan derai hujan, menusuk rahim bumi, maka segala kehidupan pun menyeruak, merecup dan merimbun. Musim penghujan itu datang dan jatuh di bulan Desember. Sebuah bulan romantis, karena berada di ujung semenanjung tahun, jazirah waktu.

Desember dalam setiap zaman memproduk lagu dan nyanyiannya masing-masing. Desember menjadi penanda beragam deraan dan bencana di tanah ini. Dulu, 13 tahun silam, negeri di ujung jazirah Sumatera ini dilanda tsunami. Pulau ini seakan berhenti “kerja”, lalu menjalani fase-fase ‘kerja bayangan’ (shadow work) lewat sejumlah produksi bencana yang diundang, maupun bencana yang datang secara alami. Bencana, di satu sisi adalah bagian dari upaya ‘self-mechanism’ alami yang diperlukan oleh bumi untuk tiba dan memasuki fase penyeimbangan (equilibrium). Dalam setiap bencana, melahirkan sejumlah keceriaan, terutama bagi kanak-kanak, apatah lagi bagi partai politik yang mengintip dan menggulai bencana menjadi panggung “pertandingan” kesalehan dan kebajikan, lewat bantuan “makanan segera” (instant foods); Mie instan, kue kering, juga selimut. Apatah lagi jelang tahun politik, memasuki masa-masa pilkada serentak 2018, bencana alam seperti banjir menjadi berkah dan amat dinanti oleh para petarung politik. Bahwa, dalam bencana ada dulangan suara untuk sebuah kemenangan. Mesin poltik pun berputar kencang di atas panggung bencana, dan selanjutnya secara jeli ditugaskan untuk menelisik dan menyelusup ruang-ruang jauh dan dekat untuk sebuah deteksi bencana dan dulangan suara.

Kanak-kanak berendam sedagu. Berhanyut permai dalam keriangan. Tapi bagi orang dewasa adalah keraguan tak bertepi. Karena ada keliaran di dalam air bah, ada terjangan dalam arus nan mengganas. Banjir bukanlah keriangan, tapi bencana yang harus dihindar. Seberat apapun bencana yang dihadapi, ubahlah dia menjadi kencana di mata  hati. Relasikanlah segala ihwal yang menakut dan memuakkan menjadi rembulan di sukma. Maka, kanak-kanak pun beterjunan riang dan menyelam, dari hari ke hari dan dari minggu ke minggu. Kita tak bisa menepis hujan. Dia datang membawa hikmah dan berkah bagi sekalian makhluk. Dia harus disambut dengan bahagia. Bahwa ibu kita bernama bumi tengah menjalani persetubuhan alami. Kita bakal menjadi pandai mengeja daun-daun, reranting, cecabang dan pepohonan. Kita bakal petah dalam ihwal imla nama-nama haiwan,  yang ceria dan jenaka saban hari bercengkerama di laman rumah, di kebun belakang, di ladang dan parak. Semuanya tersebab hujan yang menghidupkan kembali segala perkakas untuk diimla dan dieja.

Ketika banjir, kita jangan mengadu. Hentikan hasrat adu-aduan itu ke pemerintah. Nikmati saja. Sebab, kita sudah  puas mengadu di musim kering nan berasap. Hasilnya? Tetap saja asap (jerebu) datang berkunjung ke negeri  ini dalam geram dan seringai yang berparas serigala. Apapun alasannya, kita tak bisa lepas dari kenyataan dua musim itu. Maka, belajar dari kanak-kanak yang ceria. Bagi mereka, kehidupan itu adalah medan permainan. Beradu, berlaga atau pun berantuk, tetap dianggap sebagai medan permainan. Bukan sesuatu yang jenayah, bukan pula sesuatu yang mustahil dan niskala. Setelah berbulan-bulan dikepung asap selama satu dekade, maka sudahilah tahun ini melalui selonsong  Desember  yang menggembirakan, yang menceriakan,  yang tak perlu gaduh sebagaimana orang-orang dewasa dalam gegap gempita memukul gendang untuk sebuah pertaruhan jenayah yang dijembarkan ke media-media massa. Mengumbar malu, mengumbar maksiat di depan kanak-kanak yang tak berhasrat.

Berendam air sedagu, bagi kanak-kanak bukanlah bencana. Dia tak lebih dari sebuah permainan bayangan yang diimpikan bertahun-tahun. Sebab, sosialisasi “permainan bayangan” (shadow playing) ini telah tersosialisasi dengan apik lewat penceritaan sesama kanak-kanak baik garis ke samping (teman sebaya), maupun garis lurus dan luruh ke bawah, kepada adik-adik mereka yang lebih muda. Dari tahun ke tahun penceritaan demi penceritaan tentang “permainan bayangan” yang datang dan hadir saban tahun dan selalu mengambil panggung di penghujung tahun, telah menjadi cerita berantai dan romantis di kalangan kanak-kanak. Bencana bagi orang dewasa, namun sebuah gurauan dan canda bagi seorang kanak-kanak. Logika alam seakan seturut dengan logika kanak-kanak. Tentang ini, banyak deraian cerita dan kayat yang berkisah tentang alam kanak-kanak dan “kanak-kanak alam” yang dekat dengan wilayah spiritual yang tak terengkuh oleh akal sehat seorang dewasa.

Sebuah kisah; Seorang anak berusia tiga tahun memiliki seorang adik yang berusia dua bulan. Saban hari dia menatap wajah dan mencium sang adik. Dia amat sayang kepada sang adik yang terlentang bak papan catur itu; tak bisa bicara, hanya reaksi-reaksi natural dan instinktif spontan menggemas. Itulah sang adik nan lucu. Suatu hari sang abang (kanak-kanak 3 tahun) ini bermohon kepada ibu dan ayahnya, agar mereka ditinggalkan berdua saja di dalam kamar. Permintaan ini tak dikabulkan oleh ayah dan ibu. Maklum, anak seusia itu belum tentu tingkah polahnya dan perlakuannya kepada sang adik nanti ketika ditinggalkan. Tau-tau dicekiknya sang adik. Begitu kira-kira alasan ayah dan ibu itu. Selang beberapa hari, sang abang mengajukan permohonan yang sama; “mohon tinggalkan kami berdua saja dalam kamar ini dalam beberapa jam”.  Begitu seterusnya... dan sampailah permintaan yang ke lima kali. Pada kali inilah kedua orang tuanya mengabulkan permintaan itu. Namun, tak ayal ayah dan ibu ini penuh waspada untuk meninggalkan sang bayi, dengan cara, memasang alat perekam percakapan di sudut plafon kamar, untuk sekedar merekam dan mendengar jenis dan materi percakapan apa yang berlangsung selama dua makhluk ini ditinggalkan. Setelah beberapa jam, kedua ayah dan ibu ini pulang ke rumah. Betapa terkejut mereka mendengar hasil rekaman percakapan sang abang kepada adik bayi itu: “Dik dik.. dik... ceritakan kepada abang tentang Tuhan. Abang sudah lupa. Abang sudah lupa dengan bayangan Tuhan, ketika abang sudah pandai berbicara”.

Usia tua? Cerialah dengan cara tua. Tak perlu meminjam semangat para muda apatah lagi belia. Tempatilah ruang mengikuti alam, menuruti adatnya, melunjuri hukumnya. Belajar kepada kanak-kanak, bukanlah sebuah aib dan tabu. Negeri ini sudah penuh dengan segala coreng moreng ke-aib-an, tak pernah melahirkan ke-ajaib-an. Orang-orang dengan bangga mempertontonkan aib orang lain dan aib diri sendiri. Malah lebih selekeh, ketika aib diri dieksploitasi untuk dan demi kepentingan kapitalisasi. Ceria Desember bukan kisah ceria dalam ihwal mengumbar aib dan rasa malu. Dua ihwal ini adalah wilayah domestik, yang harus disimpan dalam-dalam, dipendam dan dieram dalam diam. Karena aib diri berdampak terhadap keluarga dan suku. Tak semata diri mu. Tapi menyeret-nyeret sejumlah kehadiran yang tak semestinya diabsensi saban pagi. Maka, berhentilah meringis dan menyeringai  dalam perih. Perah perih itu jadi madu. Di sebuah negeri yang tak bertebu. ***

   


Dahlan Iskan | Azrul Ananda | Yusmar Yusuf | Chaidir | Taufik Ikram Jamil | Marhalim Zaini |