Kembara yang Tak Terlupakan
GAJAH: Daya tarik utama berkunjung ke TNTN adalah paket Mahout Wanna Be, menjadi pawang gajah sehari. Pengunjung akan melakukan kegiatan menggembala gajah seperti memandikan dan memberinya makan.(EVAN/RIAU POS)

WISATA TAMAN NASIONAL TESSO NILO
Kembara yang Tak Terlupakan
Senin, 02 Juli 2018 - 11:57 WIB > Dibaca 298 kali
 
Tidak hanya bisa melihat gajah dari dekat, tapi bisa menggembalanya sepanjang hari, pastilah menjadi  pengalaman yang tak terlupakan. Ditambah pula bisa menikmati keindahan seni budaya masyarakat tempatan yang luar biasa. Inilah keistimewaan berwisata Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).


PELALAWAN (RIAUPOS.CO) - Pagi yang segar. Kicauan ratusan jenis burung di sekitar guest house, menambah pagi semakin ceria. Apalagi perjalanan menuju flaying squad TNTN memang cukup jauh dari Pekanbaru. Ditambah pula kondisi jalan yang sangat menantang saat musim hujan.

Jalan menjadi licin dan perjalanan menjadi sedikit lebih lama. Tapi, inilah yang tidak terlupakan dalam perjalanan berwisata ke Tesso Nilo. Penuh tantangan dan sangat mengasyikkan. Bagi pencinta wisata alam yang tidak biasa-biasa, sangat tidak rugi untuk datang ke TNTN.

Udara di flying squad di waktu pagi sangat segar. Tenang. Jauh dari suara hiruk pikuk kota  dan udara yang tercemar oleh asap-asap kendaraan. Embun pagi dan hamparan rimba yang bisa dilihat dari ghoes house, menambah sejuk selaput mata. Secangkir kopi panas, menjadi penghangat yang luar biasa. Ditambah senyum para mahout yang baru tiba di lokasi kerja. Mereka adalah para penggembala gajah profesional yang akan membawa setiap wisatawan untuk mengenali gajah lebih dekat dan spesial.

Inilah yang disbeut dengan mahout wanna be; menjadi mahout sehari. Mahout akan membimbing wisatawan untuk menjadi mahout sungguhan selama sehari semalam. Mahluk dengan belalai panjang   kepala dan kaki yang besar itu akan langsung diambil wisatawan dari tengah rimba, dari tempatnya diikat dan membawanya ke sungai untuk dimandikan, memberinya makan dan mengajaknya berkomunikasi sepanjang hari.

Untuk pertama kali, dipastikan wisatawan akan canggung saat bertemu makhluk besar itu. Sebagai tanda perkenalan, wisatawan diminta untuk terus memanggil nama gajah tersebut berkali-kali saat menjemputnya langsung ke tengah rimba melalui jalur yang sulit. Bahkan melewati lembah cinta, lokasi gajah selalu berkawain. Di TNTN memang banyak gajah.

Ada Lisa, Ria dengan anaknya Harmoni yang masih berusia 8 bulan, dan masih banyak lainnya. Memanggil nama gajah ini bahkan dilakukan sebelum gajah memperlihatkan wajahnya atau masih berada di balik-balik semak belukar. Ini merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan gajah  agar gajah tersebut  terbiasa dan menjadi dekat dengan wisatawan.

 Jika wisatawan terlihat gugup, mahout  akan mengingatkan agar tetap tenang dan segera naik ke punggung gajah bersama mahout tersebut. Mahout sehari ini juga harus menunjukkan sikap bersahabat dan ingin dekat seperti harus selalu mengajaknya berbicara, menyentuh bagian-bagian tubuh yang disukainya seperti punggung dan perut bagian atas. Jika wisatawan  mulai nyaman dan merasakan kedekatan dengan gajah, bahkan saat memandikan di sungai, wisatawan akan bisa dengan bebas naik turun dari punggung gajah dan mengingajk kakinya.

Mahout juga memberikan tips yang paling aman dan nyaman saat memberi makan gajah. Bagaimana cara memegang makanan dan memasukkan makanan ke dalam mulut gajah langsung, juga diajarkan. Wisatawan diminta dengan seksama memperhatikan cara gajah memandang, mengambil makanan dengan belalainya atau menampung langsung dengan mulutnya.  Usai memberi makan, gajah tersebut kembali diantar ke tengah hutan.

TNTN memang sangat cocok untuk mereka yang hobi berpetualang dan pencinta alam. Ada lintas hutan dengan sepeda. Jalurnya menantang. Melewati tebing, naik turun bukit, melintasi akar-akar pohon, jembatan, bahkan melewati jalan buruk yang membuat wisatawan harus memikul sepedanya.  Rute sepeda ini tidaklah lama. Juga tidak terlalu jauh. Diperlukan waktu sekitar 2 jam-an.

Perjalanan dimulai dari desa terdekat, masuk ke hutan TNTN, singgah ke flying squad dan berakhir lagi di kampung atau tempat awal dimulai. Hutan TNTN yang rapat dan rimbun di sekitar flying squad memiliki jenis pohon beragam.  Sangat asyik untuk penyinta hammock. Lokasinya juga berdekatan dengan tower pantau yang juga bisa difungsikan untuk melihat matahari terbit (sunrise).***

Laporan KUNNI MASROHANTI, Pelalawan

Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis |