Indonesia Jadi Anggota DK PBB, Jusuf Kalla Minta Hak Veto Dihilangkan
Wakil Presiden Jusuf Kalla. (JPNN)

USUNG ISU REFORMASI
Indonesia Jadi Anggota DK PBB, Jusuf Kalla Minta Hak Veto Dihilangkan
Selasa, 12 Juni 2018 - 19:20 WIB > Dibaca 240 kali
 
TOKYO (RIAUPOS.CO) - Reformasi di tubuh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), salah satunya adalah menghilangkan hak Veto lima negara yang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB, didorong oleh Wapres Jusuf Kalla.

Adapun Indonesia yang beberapa waktu lalu disahkan menjadi anggota tidak tetap DK PBB akan mengusung isu reformasi itu. Menurutnya, sebenarnya bukan hanya Indonesia yang menginginkan adanya reformasi itu, melainkan banyak negara juga menyerukan hal yang sama.

"Salah satunya menghilangkan hak veto lima negara. Itu bukan hanya Indonesia, tapi upaya bersama untuk me-reform PBB," katanya usai tiba di Bandar Udara internasional Narita,Tokyo, Jepang, Senin (11/6/2018).

Diketahui, lima negara yang menjadi anggota tetap DK PBB, yakni Amerika Serikat, Rusia, Cina, Inggris, dan Perancis. Adapun hak veto merupakan hak untuk membatalkan resolusi yang telah dikeluarkan oleh Dewan Keamanan.

"Memang masalahnya selalu di situ, kalau kami bicara Palestina selalu diveto Amerika. Kalau bicara tentang negara yang kontra Rusia diveto Rusia," tuturnya.

Diterangkannya, Indonesia kembali terpilih sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan (DK) PBB untuk yang keempat kalinya. Dia menyebut, PBB memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian dunia.

“Ini sangat strategis apalagi kami sebagai negara yang besar tentu sangat penting posisi ini. Karena banyak masalah-masalah yang dapat kami bicarakan langsung apabila menjadi anggota DK. kalau tidak menjadi anggota DK,ya, itu tinggal di majelis umum aja, atau di institusi-institusi PBB lainnya,” sebutnya.

Diterangkannya, DK itu satu tingkat di bawah majelis umum. Jika dianalogikan dengan organisasi, DK itu pengurus hariannya, yang bekerja sepanjang waktu apabila ada masalah-masalah di dunia ini.

Dengan masuknya Indonesia sekarang ini, selama dua tahun Indonesia harus aktif membahas, menyelesaikan masalah-masalah dunia.

“Jadi, kami merasa ini bukan suatu kehormatan, tapi tanggung jawab. Karena dapat berbicara secara langsung dalam masalah-masalah di dunia ini,” terangnya.

Diketahui, Indonesia akan memberi atensi besar pada persoalan di Asia, seperti Rohingya, konflik semenanjung Korea. Dia pun berharap pertemuan pimpinan Korea Utara dan Amerika Serikat berhasil, berarti satu soal selesai.

Selanjutnya, upaya perdamaian di Afganistan mudah-mudahan dapat berjalan dengan baik.

“Namanya saja DK, itu bagaimana memberi kedamaian dan perdamaian di dunia ini. Jadi, atensi Indonesia seperti itu, menjaga stabilitas dan keamanan daripada negara lain,” tuntasnya.

Wapres Jusuf Kalla pada malam harinya bertemu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sebelum Conference Dinner Konferensi Future of Asia di Tokyo, Jepang. Dia pun sempat berbincang-bincang dengan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.

JK akan menjadi pembicara di Konferensi Future of Asia yang mengangkat tema "Bagaimana Menjaga Agar Asia Terbuka Untuk Mencapai Kemakmuran dan Stabilitas". (jun)

Sumber: JPNN
Editor: Boy Riza Utama

Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | politik | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif |