Puasa dan Detoksifikasi

Oleh Rony Ardiansyah
Puasa dan Detoksifikasi
Kamis, 07 Juni 2018 - 10:31 WIB > Dibaca 659 kali
 
RIAUPOS.CO - Puasa dapat mengondisikan tubuh untuk mengeluarkan racun. Itulah pendapat Dr Oz (WPBF). Bila sedang tidak syuting atau praktik dokter, Dr Oz disibukkan dengan tugasnya sebagai pengajar di Columbia University. Dengan prestasinya yang sedemikian, dikutip dari website Oprah, pada tahun 2009 Dr Oz masuk sebagai salah satu dari 500 tokoh muslim yang menginspirasi dunia.

Ia juga mengisi kesibukan dengan menulis (ada 400 lebih tulisan, juga beberapa buku telah terbit atas namanya). Di beberapa kesempatan, Dr Oz menyampaikan bahwa puasa adalah salah satu bentuk diet sehat. Puasa, menurutnya, adalah salah satu bentuk detoksifikasi racun-racun yang ada di tubuh. Puasa juga salah satu bentuk detoksifikasi paling alami dan natural yang dapat dilakukan daripada melakukan diet tertentu.

Penjelasan mengenai puasa dan berbagai manfaatnya itu di dasari atas firman Allah SWT yang menyebutkan (Mahasin at-Ta’wil karya al-Qasimi, 2/87). “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Kado yang saya dapat setelah menjalankan ibadah puasa tahun lalu, ternyata trigliserida dan asam urat hasil chek up menjadi normal tanpa konsumsi obat. Saya pun bertanya kepada dokter ahli penyakit dalam: mengapa, ya bisa demikian? Karena biasanya untuk menurunkan asam urat harus dibantu dengan obat.

“Karena Anda berpuasa,” jawab sang dokter. Meskipun dokter ahli penyakit dalam seorang nonmuslim, dia tetap konsisten dan menjawab: “Karena berpuasa.”

Rahasia mukjizat kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular. Beberapa penelitian medis modern menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa saat Ramadan tidak mempengaruhi secara drastis metabolisme lemak, karbohidrat dan protein.

Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL and apoprotein alfa1, dan penurunan LDL ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa penelitian “chronobiological” menunjukkan saat puasa Ramadan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia.

Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperan bagi peningkatan kesehatan manusia. Jumlah sel yang mati dalam tubuh mencapai 125 juta per detik, namun yang lahir dan meremaja lebih banyak lagi. Saat puasa terjadi perubahan dan konversi yang massif dalam asam amino yang terakumulasi dari makanan.

Dalam ilmu kesehatan, puasa sering dikaitkan sebagai proses detoksifikasi atau proses pengeluaran zat sisa atau racun yang berasal dari dalam tubuh. jika ini dilakukan satu bulan penuh pada bulan Ramadan. Bayangkan sudah berapa banyak racun yang keluar dari dalam tubuh kita? Puasa dapat menghindari tubuh dari bahaya racun yang menumpuk di dalam sel-sel tubuh dan jaringan-jaringannya. Racun ini menumpuk akibat konsumsi makanan selama satu tahun tanpa puasa. Terlebih makanan yang diawetkan dan makanan kemasan. Selain itu, racun tersebut juga dapat berasal dari obat-obatan atau udara yang tercemar saat bernapas.

Dalam bukunya, Prof Nicholev Wanzlop mengatakan, bahwa lapar dapat berguna sebagai terapi kesehatan. Sebuah keharusan bagi setiap individu di dalam komunitas negara besar untuk mengontrol fisiknya, dengan cara membuang kotoran-kotoran yang mengandung zat beracun dalam tubuh. Prakteknya yaitu dengan menahan lapar pada periode-periode tertentu dengan meninggalkan mengkonsumsi makanan pada rentang masa 3–4 pekan.

Nah, dalam konteks inilah puasa memiliki mekanisme untuk menyeimbangkan kembali sistem di dalam badan/tubuh kita. Puasa adalah sebuah mekanisme untuk memberi kesempatan kepada tubuh, setelah setahun kita membebani sistem pencernaan secara maraton.

Jika keseimbangan sistem tersebut kita langgar, badan akan bekerja secara tidak sempurna, dan kemudian badan akan menghasilkan efek yang merugikan. Namun, jika kita mengikuti mekanisme alamiah, badan akan bekerja dalam suatu sistem keseimbangan. Dan badan kita pun sehat. Tentang adanya sistem keseimbangan di dalam tubuh manusia itu, Allah menjelaskan di dalam ayat berikut: QS Al Infithaar (82):7. “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (sistem tubuh)-mu seimbang.”

Jadi sistem keseimbangan itu memang telah didesain oleh Allah SWT sebagai sistem kesempurnaan dalam kehidupan manusia. Selama kita bisa menjaga dan mengikuti sistem keseimbangan, maka hidup kita in sya Allah akan sehat secara alamiah.***

Oleh Rony Ardiansyah, Dosen Pascasarjana Magister Teknik Sipil UIR




Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis |