Termasuk Luhut dan Sandiaga, Misi ke Israel Libatkan Sejumlah Nama Kondang
Ilustrasi. (NET)

DELEGASI KADIN PADA 2006
Termasuk Luhut dan Sandiaga, Misi ke Israel Libatkan Sejumlah Nama Kondang
Sabtu, 02 Juni 2018 - 19:00 WIB > Dibaca 1070 kali
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO)‎ - Pemegang paspor Republik Indonesia (RI) mulai 9 Juni 2018 tak akan diizinkan memasuki wilayah Israel. Padahal, dalam setahun ada puluhan ribu warga negara Indonesia (WNI) yang masuk ke negara tersebut.

Diketahui, RI dan Israel memang tak memiliki hubungan diplomatik secara resmi. Akan tetapi, pihak Israel mengklaim sedang berupaya membangun hubungan dengan Indonesia, terutama untuk urusan bisnis dan ekonomi.

“Kami berharap bahwa orang-orang di Indonesia yang mencoba mempromosikan upaya untuk mencairkan hubungan ini segera berhasil,” kata Emanuel Shahaf selaku ketua Kamar Dagang Israel.

Adapun upaya untuk merintis hubungan bisnis dan ekonomi antara pengusaha kedua negara ternyata sudah dirintis sejak lama. Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia pada 2006 bahkan mengirim misi ke Israel.

Dari telegram rahasia Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) di Jakarta bertanggal 10 Juli 2006 yang dibocorkan Wikileaks, MS Hidayat selaku ketua umum KADIN memimpin 12 orang berkunjung ke Israel pada 25-29 Juni 2006.

Diketahui, pihak yang menyusun rencana kunjungan itu ialah pengusaha nasional John Prasetio dan Duta Besar Israel untuk Singapura Ilan Ben-Dov. Sejumlah nama kondang tergabung dalam misi bisnis KADIN Indonesia ke Israel, seperti Luhut B Panjaitan, Sandiaga S Uno, Chris Kanter, Tata Susila Gunawan, dan Zuhairi Misrawi.

KADIN ataupun pemerintah Indonesia memang tidak mengumumkan rencana misi bisnis ke Israel tersebut. Sebagaimana tertulis dalam telegram Kedubes AS berkode 06JAKARTA8622_a itu, Prasetio mengaku sempat menemui Hassan Wirajuda selaku Menteri Luar Negeri (Menlu) RI saat itu guna menjelaskan rencana misi KADIN ke Israel.

Dia menerangkan, Wirajuda tidak merasa keberatan atas rencana tersebut. Meski begitu,  Wirajuda juga menegaskan bahwa Kemenlu RI tak mendukung misi itu. Semula, misi tersebut juga akan mengikutsertakan Yenny Wahid yang kala itu menjadi staf khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Akan tetapi, Yenny memilih tak ikut ketika Presiden SBY menunjukkan reaksi tak berkenan atas rencana misi KADIN ke Israel. Sementara, perwakilan Muhammadiyah memutuskan menarik diri dari misi itu pada menit-menit terakhir.

Dari pengakuan Prasetio, pengusaha kondang James Riady membiayai perjalanan perwakilan NU dalam misi itu demi menarik kesediaan organisasi kemasyarakatan Islam tersebut agar ikut serta.

Adapun di Israel, misi KADIN dipertemukan dengan pihak-pihak penting, di antaranya Tzipi Livni yang kala itu sebagai Menlu Israel. Dinas Rahasia Israel (Mossad) juga menerima misi KADIN.

Kala itu, ada briefing khusus dari Mossad. Misi KADIN Indonesia ke Israel memang mengagetkan. Akan tetapi, pemberitaannya tak bertahan lama.

“Liputan pers telah cukup seimbang dan ceritanya cepat memudar,” tulis Burton Lynn Pascoe selaku Dubes AS untuk RE 2004-2007 dalam telegram bertitel Indonesia -Modest Trade Opening With Israel itu.(ara)

Sumber: JPNN
Editor: Boy Riza Utama

Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis |