Sekolah Istimewa versus Sekolah Hebat
WORKSHOP: Para pemateri pada seminar dan workshop dies natalies 2018 di Aula SMA Santa Maria, beberapa waktu lalu. Humas Sekolah Santa Maria for Riau Pos

Dies Natalis Sekolah Santa Maria Pekanbaru
Sekolah Istimewa versus Sekolah Hebat
Jumat, 01 Juni 2018 - 09:33 WIB > Dibaca 380 kali
 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Sekolah Istimewa versus Sekolah Hebat adalah judul workshop pertama dari enam rangkaian workshop Dies Natalis Sekolah Santa Maria Pekanbaru. Judul ini subtema dari Dies Natalis 2018 Prayoga. Worskshop mengupas tentang Sekolah Hebat Berdasarkan Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Pendidik SMA Rinto, Susi, Prasetyo, Ruth dan Mega ditugaskan membawakan materi tersebut. Workshop berlangsung di Aula SMA Santa Maria, Sabtu (26/5).

Hadir pelaksana kegiatan yayasan, kepala sekolah, seluruh pendidik dan tenaga kependidikan sekolah-sekolah Santa Maria Koordinator Pekanbaru sebanyak 270 orang. Koordinator SDM Sekolah-sekolah Santa Maria Pekanbaru Ferdinandus NIPA menyampaikan, tema ini dipilih karena Sekolah Istimewa berbeda dari Sekolah Hebat dalam hal visi dan orientasi, sistem pendidikan dan kualifikasi pendidik. Visi dan orientasi sekolah istimewa tidak pada peserta didik melainkan pada orang tua atau pandangan masyarakat. Peserta didik hanya dipandang sebagai objek belajar. Visi yang berdasarkan pandangan orang tua dan masyarakat membuat sekolah berusaha keras mencapai kriteria dan standar yang ditetapkan pihak lain agar diakui terbaik. Fokus Sekolah Istimewa adalah tuntutan dari eksternal baik itu Dinas Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), maupun Lembaga Akreditasi. Itu semua harus direspon dengan kritis.

Sedangkan Sekolah Hebat visi dan orientasinya terletak pada peserta didik sebagai subjek pendidikan. Titik pusatnya adalah anak-anak yang mempunyai beragam keperluan untuk didengarkan dan dipahami oleh pihak sekolah. Visi membuat sekolah berusaha keras untuk memahami dan memenuhi keperluan anak. Assesment untuk mengenali keperluan anak dilakukan secara berkala. Proses belajar dikaji terus menerus agar tercipta belajar yang menyenangkan dan bermakna untuk anak-anak.

 Dengan demikian, pendidikan Sekolah Istimewa menganut sistem Teacher Centre Learning (TCL). Sebaliknya pendidikan Sekolah Hebat menganut sistem Student Centre Learning (SCL). Maka semua sarana prasarana sekolah harus menunjang pengembangan bakat dari murid, misalnya penggunaan Informatika dan Teknologi (IT) dalam sistem pembelajaran. ‘’Kualifikasi pendidik dengan sendirinya harus memiliki kompetensi pribadi, sosial, profesional dan pedagogik yang cakap serta andal. Pendidik harus care terhadap peserta didik, involvement  secara individual dalam pergumulan peserta didik, menguasai metode-metode mengajar, menguasai penggunaan perangkat digital dalam pembelajaran dan mengajar dengan menyenangkan,’’ jelasnya. Oleh karena itu, tujuan dari tema ini adalah agar unit-unit di Sekolah Santa Maria mampu melihat posisi atau situasi sekolahnya yakni Sekolah Hebat atau Sekolah Istimewa dan berusaha untuk menjadikan sekolahnya ideal bagi peserta didik,’’ kata Ferdinandus.(rif/c)




Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis |