6 Tahun Masuk SD Harus Rekomendasi Psikolog
Rabu, 30 Mei 2018 - 11:14 WIB > Dibaca 435 kali
 
KOTA (RIAUPOS.CO) - Penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2018/2019 tingkat sekolah dasar (SD) negeri di Kota Pekanbaru dimulai 2-4 Juli mendatang. Dinas Pendidikan (Disdik) Pekanbaru memprioritaskan penerimaan untuk anak yang sudah berusia 7 tahun.

Aturan ini berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 17/2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)  pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, atau Bentuk Lain yang Sederajat.

“Kami telah mendapatkan jukni (petunjuk teknis, red) dari pusat dan arahan dari Pak Kadis. Anak yang masuk SD tahun ini umurnya wajib 7 tahun. Nanti ada kami rangking berdasarkan umur mereka. Jika ada kisaran 6,5 hingga 7 tahun masih kami terima. Jika umur anak 6 tahun, wajib rekomendasi dari psikolog,” kata Kabid SD Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Drs Darisman kepada Riau Pos, Selasa (29/5).

Ia menjelaskan, calon murid yang ingin masuk SD namun belum sesuai dengan umur yang ditetapkan, maka sistem data pusat tidak akan menerima atau merekam. Sehingga anak tersebut nantinya tidak tercatat dan tidak mendapatkan nomor induk siswa nasional.

‘’Terkecuali usia 6 tahun per 2 Juli 2018 tetapi memenuhi syarat dimaksud (rekomendasi psikolog, red),’’ tuturnya.

Lebih lanjut diungkapkannya, ada beberapa alasan mengapa usia masuk SD ditetapkan 7 tahun dan minimal 6 tahun dengan catatan. Yakni mengenai aspek fisik. Di mana pada usia 7 tahun, anak dianggap paling siap secara fisik untuk mulai belajar di SD.

‘’Seperti untuk memegang pensil. Anak sudah lebih mampu jika harus menulis sendiri tanpa bantuan orang dewasa,’’ ulas Darisman.

Selain itu, anak yang terlalu dini masuk SD umumnya masih bermasalah. Khususnya di kelas satu karena ia belum siap untuk belajar berkonsentrasi.

‘’Meskipun secara kemampuan intelektual dia sudah cukup mampu menyelesaikan soal-soal yang disediakan,’’ katanya.

Juga kematangan emosi dan kemandirian anak tersebut belum maksimal. “Padahal di jenjang SD, anak tidak lagi akan mendapat perhatian seperti di TK. Ia diharapkan lebih mandiri dan juga tidak lagi terlalu tergantung pada orangtuanya,“ urai Darisman.(tya)



Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif |