Duh... Punya Suami Rupawan kok Hidup Berasa Tak Tenang
Ilustrasi. (Foto: Net)

Duh... Punya Suami Rupawan kok Hidup Berasa Tak Tenang
Rabu, 30 Mei 2018 - 01:48 WIB > Dibaca 816 kali
 
BANYAK perempuan yang berharap punya suami tampan alias rupawan. Namun ternyata tidak semua perempuan pula yang merasakan kebahagiaan ketika harapannya itu terkabul.

Seperti apa yang dialami sebut saja namanya Melati. wanita asal Surabaya yang berusia 28 tahun ini hidupnya malah tidak tenang setelah menikah dengan sebut saja namanya Jon, seorang lelaki yang berparas rupawan.

Perasaan takut bercampur curiga, menyatu dalam benaknya. Dia tersiksa batin jika ada wanita yang melirik, apalagi sampai menggoda Jon. Melati harusnya menjadi istri paling bahagia di dunia. Ia yang memiliki wajah biasa-biasa saja diperistri oleh laki-laki ganteng, baik, dan brondong pula.

Tak kurang-kurang, pasangan Melati ini juga termasuk lumayan dalam hal ekonomi. Di usia yang masih muda, Jon sudah menjadi bos katering yang sudah ia rintis sejak masa kuliah.

Tapi satu yang menjadi masalah, sang suami yang terlalu sempurna ini memikat hati banyak perempuan lajang yang merindukan kasih sayang. "Kalau jalan-jalan sama suami, kok banyak yang nglirik dia. Anak-anak muda di kampung juga gitu. Sampai saya curigaan terus bawaannya," kata Melati saat jeda sidang gugatan cerainya di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Kamis (25/5/2018) pekan lalu.

Memang sedikit aneh pernyataan Melati itu. Sebab yang melirik bukan suaminya, tapi orang lain. Beberapa kerabatnya yang mendampingi, bahkan pengunjung lain yang mendengarkan, menyalahkan karena cemburu berlebihan.

“Gini nih hidup, kita yang jalanin, orang lain yang ngomentari. Aku ini orangnya posesif, paling nggak bisa suamiku dilirik orang banyak. Ya mau gimana lagi," keluh Melati.

Memang, selama ini Jon tampil rapi dan terhitung laki-laki yang mau merawat diri dibandingkan dengan laki-laki kebanyakan. Yang menjadi masalah, pada akhirnya banyak perempuan yang mendekati sang suami. Entah itu di kantor maupun di media sosial. Kondisi itu, oleh dia dianggap mengganggu fisik dan psikologisnya.



Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif |