Bismillah, karena Allah Semata
SIAP DILARUNG:Kepala kerbau ini siap dilarungkan ke Sungai Subayang yang membelah kawasan Desa Padang Sawah, Ahad (13/5/2018). Prosesi ini dinamakan semah rantau. KACAMATA GOBER FOR RIAU POS

Prosesi Semah Rantau di Padang Sawah
Bismillah, karena Allah Semata
Minggu, 27 Mei 2018 - 11:13 WIB > Dibaca 1381 kali
 
Sebagai rasa syukur karena kampung tercinta telah terbebas dari bencana darat dan sungai, maka janji (nazar) itu ditunaikan. Semah rantau, begitulah masyarakat Desa Padang Sawah dan Sungai Liti menyebutnya.
------------------------------------------------------------------------------------------

(RIAUPOS.CO) - BANYAK cara mengungkapkan rasa syukur. Salah satunya dengan menunaikan janji  (nazar). Masyarakat kenegerian Padang Sawah yang terdiri dari dua desa yakni Desa Padang Sawah dan Desa Sungai Liti  menunaikan nazarnya dengan memotong seekor kerbau. Hewan ini disembelih. Tak peduli apakah akan ada orang luar yang menyaksikan atau tidak. Dagingnya dimakan bersama. Sedangkan kepalanya dilarungkan ke sungai dan bagian dalam hewan tersebut (jantung, hati) diletakkan di tengah hutan. Inilah proses yang disebut semah rantau tersebut.

Kesungguhan menunaikan nazar ini terlihat jelas saat ninik mamak, para datuk dan masyarakat menjalankan prosesi tersebut. Tetap dilaksanakan dengan sederhana. Apa adanya, yang penting niat tersampaikan. Yang penting persembahan dapat dilaksanakan. Tentu tidak lepas dari kekompakan masyarakat. Karena kerbau yang disembelih juga harus dibeli dengan harga mahal. Masyarakat saling sumbang. Ditambah bantuan dari pemerintah desa sehingga nazar tersebut terlaksana sempurna.

Kerbau untuk nazar disembelih pagi hari. Setelah itu dagingnya dibagi kepada anak kemenakan untuk dimasak di rumah masing-masing. Sedangkan jantung dan hati kerbau tersebut diantar ke hutan. Diletakkan dalam sebuah tempat yang disebut limas. Tempat ini terbuat dari bertas tebal atau kardus segi empat dan digantung dengan tali berbentuk limas pada sebuah ranting pohon atau tiang kayu yang sengaja dibuat.

‘’Assalamualaikum.. Assalamualaikum... Assalamualaikum.’’ Pembantu tokoh masyarakat Darnius bergelar Datuk Sotieh atau datuk yang menguasai bagian darat kampung memulai pembayaran nazar di darat. Sedangkan Datok Sotieh sendiri juga membacakan doa-doa tidak jauh dari tempat limas digantung.

‘’Semah rantau ini merupakan tradisi yang diturunkan nenek moyang sebagai salah satu proses pembayaran nazar. Kalau kampung aman, masyarakat bebas dari bahaya darat dan sungai, nazar harus kami bayar. Prosesi ini menunjukkan sikap harmonis antara nenek moyang dulu dengan alam semesta. Harus kita lestarikan dan lanjutkan,’’ ungkap Datuk Sotieh.

Menjelang siang itu, pula ibu-ibu di kampung yang mendapatkan bagian daging, memasak di rumah. Saat makan siang, atau setelah salat zuhur, masing-masing warga yang mendapatkan daging tadi berkumpul membawa makanan dari rumah dengan lauk daging yang sudah dibagi tadi. Makan bajambau. Begitu mereka menyebutnya. Di los pasar kampung, mereka duduk dan berdoa bersama serta makan lauk daging yang dimasak dengan berbagai jenis menu.



Berita Terkait
Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI UNRI | Kuliner | Petuah Ramadhan | Ladies | Interaktif | Citizen Jurnalis |