Tamsil Banjir
5 Maret 2017 - 13.58 WIB > Dibaca 2566 kali
 

PEMBUKAAN sejumlah pintu waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kotapanjang yang menyebabkan sekitar 100 desa di kabupaten tersebut terendam dengan satu asbab bukan alam, justeru mengingatkan kawan saya Abdul Wahab, terhadap mitos-mitos banjir di daerah itu. Lebih dari satu mitos  berhubungan dengan banjir di Kampar yang diketahuinya, di antaranya bahkan memberi kesan relijiusitas.

“Mitos yang memberi tanda sekaligus membuat tanda (petanda),” tulis Wahab melalui pesan pendek telepon genggam (SMS) kepada saya Jumat malam lalu. Dengan demikian, lanjutnya, berbagai tafsir dapat muncul dari mitos-mitos tersebut, tergantung dari mana dan kesiapan si penerima tanda.     Tak mustahil pula muncul penafsiran baru karena manusia memang cenderung memberi makna terhadap sesuatu. Dan memang, hanya karena makna itulah sesuatu diperlukan. Demikian pula, banjir pada satu sisi terpapar sebagai suatu bencana, sedangkan pada sisi lain, tak puas-puas memberi pelajaran kepada manusia. Kemampuan menerima kedua-duanya, kemudian mengerucut sebagai pemahaman pelajaran, menyebabkan banjir dapat menjadi suatu keperluan manusia juga.

Wahab kemudian mengawali penceritaan mitos banjir di Kampar yang terjadi sekarang dengan hubungan bunyi lelo Datuk Koto. Konon, lelo sang pemuka itu memberi peringatan kepada warga di sepanjang Sungai Kampar agar berhati-hati karena banjir akan segera datang. Mengingat lelo merupakan senjata mematikan yang dapat disemburkan dari jarak jauh, memberi tanda masih bisa ditafsirkan bermacam-macam lagi, setidak-tidaknya dikaitkan dengan sifat lelo itu sendiri.

Suatu catatan menunjukkan, sejumlah orang sempat mendengar lelo tersebut tahun 1978 dan 2016. Nyatanya kemudian, tahun-tahun tersebut diingat juga sebagai banjir besar di Kampar dibandingkan tahun-tahun lain. Malahan disebutkan bahwa banjir di Kampar 2016 lebih besar dibandingkan tahun 1978. Sebanyak 15 kecamatan di kabupaten ini, tidak luput dari banjir Februaru tahun lalu itu.

“Mustahil pula kita menafsirkan bahwa banjir 2017 ini, tak akan sebesar 2016 karena setidak-tidaknya, aku belum tahu, apakah ada warga yang mendengar suara lelo Datuk Koto atau tidak. Ini tentu berbeda dengan tahun 2016, juga 1978, saat suara sejenis senjata berapi itu terdengar.

Sebaliknya, Wahab mengingatkan bahwa suara lelo tidak mungkin dipercayai sebagai asbab banjir. ” Ya, sebagai mitos pun kisah ini tak perlu diuji sebagai suatu kebenaran karena sifat mitos itu sendiri akan menolaknya. Tidak percaya boleh saja,” sambung Wahab.

Tidak cukup dengan mengandalkan pendengaran, mitos sehubungan banjir di Kampar ini juga menggunakan indera penglihatan. Disebutkan, ada kepercayaan segelintir dari masyarakat di sekitar sungai itu bahwa banjir di wilayah tersebut, ditandai dengan penampakan tiang kapal di sungai yang merupakan jelmaan tiang kapal si Lancang. Sebaliknya, memang belum pernah terbersit kabar penampakan dimaksud ke tengah umum setidak-tidaknya dalam rentang waktu 30 tahun terakhir, termasuk banjir yang sedang terjadi di kawasan itu.

Syahdan, Lancang adalah nama warga di bantaran Sungai Kampar. Untuk mengubah nasibnya, ia merantau. Ternyata ia berhasil, memiliki kekayaan yang amat banyak. Suatu ketika, ia didampingi sang isteri melakukan perjalanan dagang, yang tanpa disadarinya sampai ke kampung halamannya semula. Ia pun dielu-elukan, tetapi tak bisa menerima pengakuan seorang perempuan tua sebagai ibunya.

Singkat cerita, Yang Mahakuasa mengabulkan permintaan perempuan tersebut. Begitulah Lancang beserta harta dan isteri disapu angin puting beliung yang menyebabkan ia sadar akan kesombongannya. Ia pun menangis habis-habisan yang air matanya menyebabkan Sungai Kampar meluap, sampai menenggelamkan kapal si Lancang beserta hartanya.

“Pasti engkau bertanya kan, mengapa tanda akan segera banjir, justeru dicuplik dari akhir kisah si Lancang itu yakni penampakan pucuk layar kapal si Lancang, sedangkan bagian lain telah tenggelam. Aku juga bertanya seperti itu,” tulis Wahab.

Cuma, lanjut Wahab, bukankah dapat ditandai sebagai kemungkinan yang disimbolkan oleh kemungkinan penampakan tiang kapal si Lancang; tegak lurus dengan langit. “Kalau demikian, bisa kan aku menafsirkan bahwa banjir mengingatkan kita pada Yang Atas, kepada Allah azawajalla. Kita harus senantiasa mengingatnya,” tulis Wahab.

Saya mengangguk sambil terkenang bagaimana mitos banjir Akkaida misalnya, merupakan kesepakatan para dewa untuk mengurangi jumlah manusia yang selalu ribut sampai mengganggu tidur sang dewa. Konon, mitos Ut-Napistim dari Babilonia, menghadirkan banjir sebagai pemecah persoalan. Sementara si Lancang tahu benar apa yang disesalinya; kembali ke Kampar setelah berhasil berniaga, ia menolak pengakuan seorang perempuan tua nan tak kemas pula sebagai ibunya. Ah....


Dahlan Iskan | Azrul Ananda | Yusmar Yusuf | Chaidir | Taufik Ikram Jamil | Marhalim Zaini |