PGN Tagih Utang Rp409 M ke Petronas
Rabu, 14 Februari 2018 - 09:45 WIB > Dibaca 318 kali
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Perusahaan minyak dan gas terbesar asal Malaysia Petroliam Nasional Berhad (Petronas) menunggak utang 32,2 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp409 miliar kepada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Tanggungan tersebut berkaitan dengan tidak terpenuhinya kuota minimal penyaluran gas Lapangan Kepodang, Blok Muriah, ke PLTGU Tambaklorok.

Menurut Direktur Teknologi dan Infrastruktur PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk Dilo Seno Widagdo, total dana yang belum dibayarkan Petronas tersebut dianggap PGN sebagai piutang yang belum tertagih. Utang yang harus dibayar Petronas pada 2017 sebesar 21,5 juta dolar Amerika Serikat.

Kemudian, pada 2016 dan 2015 masing-masing 8,8 juta dolar Amerika Serikat dan 1,9 juta dolar Amerika Serikat. ”Dalam hal ini, Petronas belum bisa menyelesaikan tanggung jawab sesuai dengan GTA (gas transfer agreement, red). Kalau masalah kerugian sesuai dengan kontrak, masih berlaku. Asumsinya kontrak berlaku dengan ada jaminan pengembalian kami di ship or pay,” imbuhnya.

Dilo melanjutkan, investasi yang dilakukan PGN telah disesuaikan dengan contract reverse capacity. PGN memerinci, pada 2015, reserve capacity sebesar 116 mmscfd dengan minimal ship or pay mencapai 104 mmscfd. Namun, realisasi penyaluran oleh Petronas ke pembangkit di Tambaklorok hanya sebesar 86,06 mmscfd.

Kondisi itu tidak banyak berubah pada 2016. Petronas hanya mampu merealisasikan pengiriman gas sebesar 90,37 mmscfd. Dengan klaim kondisi kahar pada pertengahan tahun, Petronas melakukan pengiriman gas sejumlah 75,64 mmscfd pada 2017. ”Tahun ini juga tetap 70 mmscfd. Entah bohong (kahar, red) atau enggak,” kata Dilo.

Dia menjelaskan, diperlukan verifikasi dari pihak lain untuk bisa mengklaim kondisi kahar. ”Sesuai dengan GTA juga setelah diverifikasi pihak ketiga, kemudian ditetapkan SKK. Lalu, baru disampaikan para pihak bisa terima atau tidak,” jelas Dilo.

Selama ini Petronas mengklaim kondisi kahar di Lapangan Kepodang disebabkan adanya penurunan permanen lapangan tersebut. Kondisi itu disebabkan penurunan cadangan yang lebih cepat bila dibandingkan dengan POD (Plan of Development).

Saat lapangan tersebut dikembangkan, cadangan dalam POD mencapai 354 BCF. Namun, ternyata total cadangan turun menjadi 107 BCF sehingga mengakibatkan produksi Lapangan Kepodang hanya sampai 2019 dari rencana awal 2026.(vir/c25/fal/das)


Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |