Direktur Produksi Citilink Diperiksa Terkait Kasus Suap Dirut Garuda
Mantan Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Sattar. (JPG)

SEBAGAI SAKSI
Direktur Produksi Citilink Diperiksa Terkait Kasus Suap Dirut Garuda
Selasa, 13 Februari 2018 - 16:30 WIB > Dibaca 214 kali
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C pada PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk ditargetkan rampung tahun ini.

Karena itu, untuk mempercepat pengusutan kasus yang melilit mantan Dirut Garuda, Emirsyah Sattar tersebut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada hari ini mengagendakan pemeriksaan terhadap Direktur Produksi PT Citilink Indonesia, Hadinoto Soedigno sebagai saksi.

Dia diperiksa selaku mantan Direktur Teknik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tahun 2007-2012.

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Emirsyah Sattar (ESA)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah, di gedung Merah Putih KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (13/2/2018).

Di sisi lain, KPK juga memanggil dua orang lainnya sebagai saksi dalam kasus itu dengan tersangka yang sama, yakni Captain Agus Wahjudo selaku pensiunan pegawai PT Garuda Indonesia dan Pegawai PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Victor Agung Prabowo.

"Mereka akan dimintai keterangan sebagai saksi untuk tersangka Emirsyah Sattar," sebutnya.

Pada 19 Januari 2017 silam, KPK mengumumkan status penetapan tersangka terhadap Mantan Drut PT. Garuda Indonesia (persero) tbk, Emirsyah Sattar. Dia diduga menerima suap sebesar Rp20 miliar terkait pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus milik Garuda Indonesia.

Di samping itu, KPK pun menemukan suap dalam bentuk barang yang diterima Emirsyah Satar senilai USD 2 juta yang tersebar di Singapura dan Indonesia. Selain Emir, KPK juga menetapkan Beneficial Owner Connaught International Pte. Ltd yang juga pendiri Mugi Rekso Abadi (MRA) Group Soetikno Soedarjo sebagai tersangka.

Soetikno diduga menjadi perantara suap Emir dari Rolls-Royce. Sebagai pihak penerima suap, Emirsyah disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

Adapun sebagai pihak pemberi, Soetikno Soedarjo disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat 1 huruf b atau pasal 13 Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 64 ayat (1) KUHP. (ipp)

Sumber: JPG
Editor: Boy Riza Utama



Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |