Tangani Kasus Intoleransi, Polri Diminta Tidak Tebang Pilih
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Front Pembela Islam (FPI) Novel Bamukmin. (JPNN)

PANDANGAN FPI
Tangani Kasus Intoleransi, Polri Diminta Tidak Tebang Pilih
Selasa, 13 Februari 2018 - 15:30 WIB > Dibaca 1636 kali
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Umat gereja Santa Lidwina di Sleman, Yogyakarta menjadi korban penyerangan dengan senjata tajam menimpa. Adapun sang pelaku kini sudah diamankan oleh aparat.

Diketahui, sebelum tragedi itu, seorang biksu Budha di Kabupaten Tangerang juga sempat terlibat masalah dengan warga sekitar. Akan tetapi, masalah itu berakhir damai. Selain itu pimpinan sebuah pondok pesantren dan pentolan ormas Islam di Bandung juga diserang.

Adapun pelakunya diduga orang gila sehingga berkemungkinan bebas dari jerat hukum. Hal itu menuai reaksi keras dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) Front Pembela Islam (FPI) Novel Bamukmin.

Dia menilai, ada tebang pilih dimata hukum terkait penanganan korban kekerasan yang menimbulkam korban umat Islam dan di luar Islam. Tak hanya itu, Islam kerap kali disebut radikal akibat tindakan teror yang mengatasnamakan Islam.

"Saat masjid dan pesantren diserang, ulama dan santri dianiaya bahkan dibunuh, pelakunya langsung divonis orang gila setelah ditangkap dilepas lagi. Namun, saat gereja diserang, pastur dan jamaat dilukai pelakunya langsung divonis Islam radikal," katanya kepada JawaPos.com, Selasa (13/2/2018).

Dikatakannya, penanganan penyerangan di Sleman juga terbilang cepat dan sigap. Bahkan, tak lama dari kejadian para petinggi negeri langsung mendatangi lokasi. Akan tetapi, hal berbeda saat korbannya pemuka agama Islam.

Sebab, menurutnya, tak satu pun elite negara berada di lokasi kejadian.

"Kasus gereja Sleman, Yogyakarta selain penanganannya cepat dan tanggap serta tegas, Panglima dan TNI langsung turun bersama ketua DPR, tapi ulama yang meninggal terbunuh tak satupun pejabat yang datang," sebutnya.

Dia memandang, praktik penegakkan hukum seperti ini terus berlanjut hingga sekarang. Karena itu, jika terus dibiarkan kejadian-kejadian serupa dapat terus terulang dikemudian hari.

"Dan dibiarkan, teror itu terus terjadi sampai sekarang," tutupnya. (sat)

Sumber: JPG
Editor: Boy Riza Utama



Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |