Bisakah Pikun Dihindari?
dr Andre Lukas SpS

dr Andre Lukas SpS
Bisakah Pikun Dihindari?
Minggu, 11 Februari 2018 - 11:34 WIB > Dibaca 445 kali
 
(RIAUPOS.CO) - PENYAKIT kepikunan ditandai dengan hilang atau menurunnya daya ingat atau kesulitan seseorang untuk memperoleh informasi yang sudah tersimpan di dalam otak. Kepikunan seringkali dianggap sebagai bagian dari penuaan, padahal  kondisi ini juga dapat merupakan gejala penyakit tertentu yang serius  atau efek samping dari konsumsi obat-obatan.

Penyakit pikun atau lebih dikenal dengan sebutan istilah medis demensia merupakan serangkaian gejala, yaitu kehilangan memori, kesulitan berpikir dan pemecahan masalah, fungsi eksekutif hingga fungsi   bahasa. Demensia terjadi ketika otak mengalami kerusakan yang disebabkan  karena penyakit, seperti penyakit alzheimer atau pun penyakit lain seperti stroke, trauma kepala, infeksi otak, dan lain-lain.

"Ingatan dapat dipengaruhi oleh proses penuaan. Semakin tua seseorang, berbagai macam proses dan reaksi kimia terjadi pada beberapa organ vital, salah satunya adalah otak. Perubahan ini di sisi lain dapat mempengaruhi bagian pada otak yang bertanggung jawab dengan sistem saraf panca indera dan ingatan. Ini dapat menjelaskan bagaimana orang yang usianya lebih tua lebih sulit belajar hal yang baru atau mengingat informasi yang baru," ujar Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru, dr Andre Lukas SpS kepada Riau Pos, Rabu (7/02).

Penyakit demensia bisa dipengaruhi beberapa hal yakni gangguan neurologis degeneratif, seperti penyakit alzheimer, penyakit parkinson, penyakit huntington, dan beberapa jenis sklerosis multiple, gangguan pembuluh darah yang menyebabkan kematian beberapa sel otak dan menyebabkan demensia, cedera otak akibat kecelakaan kendaraan bermotor atau jatuh, infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis, HIV, dan penyakit sapi gila, penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau alkohol dalam waktu lama, depresi, beberapa jenis hidrosefalus yang dapat diakibatkan oleh kelainan perkembangan, infeksi, cedera, atau tumor otak.

Dokter Andre juga memaparkan, ada beberapa jenis demensia yakni demensia kortikal dan demensia subkortikal, tergantung pada bagian otak yang terkena. Demensia kortikal terjadi akibat adanya gangguan pada korteks serebral, yaitu lapisan terluar dari otak yang berperanan penting dalam kemampuan berpikir, termasuk daya ingat dan berbahasa.

Penyakit alzheimer dan penyakit sapi gila merupakan dua jenis demensia kortikal. Penderita demensia kortikal mengalami gangguan daya ingat berat yang menyebabkan mereka tidak dapat mengerti dan mengenali bahasa serta kata-kata. Sedangkan demensia subkortikal terajdi akibat disfungsi beberapa bagian otak di bagian bawah korteks.

 Penderita biasanya tidak menunjukkan gangguan daya ingat dan kesulitan berbahasa. Beberapa contoh demensia subkortikal adalah pada penderita penyakit parkinson, penyakit huntington, dan demensia akibat AIDS yang biasanya mengalami perubahan kecepatan berpikir dan kemampuannya untuk melakukan suatu gerakan atau aktivitas.

Pada demensia multiinfark, terjadi gangguan pada kedua bagian otak, yaitu korteks serebral dan subkortikal. Demensia jenis ini jarang terjadi.

Demensia ini memiliki gejala-gejala, untuk itu pasien dan keluarga diharapkan bisa melihat adanya gejala-gejala ini yakni kebiasaan melupakan hal-hal tertentu tidak harus membuat panik seseorang.





Pekanbaru | Hukum | Riau | Olahraga | Ekonomi-Bisnis | Kriminal | Sosialita | Politik | Internasional | Pendidikan | Teknologi | Feature | Nasional | Lingkungan | Kesehatan | Gaya Hidup | Pesona Indonesia | Begini Ceritanya | Liputan Khusus | Komunitas | Kebudayaan | Hiburan | Sumatera | Wawancara | Advertorial | Perca | Perempuan | Historia | Buku | Kode Pos Riau | ALUMNI | Kuliner | Petuah Ramadhan | bengkalis | bengkalis | bengkalis | advertorial | Traveler | Ladies | Interaktif | Aktifitas |